Startup Solo Masih Kalah dengan Jogja, Bandung, Jakarta

Rapat persiapan Rapimnas Kadin di Solo. (Solopos/Bayu Jatmiko A)
26 November 2018 01:00 WIB Bayu Jatmiko Adi Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Pertumbuhan startup di Solo disebut sudah mulai terlihat meski belum semaju Jogja, Bandung, atau Jakarta. Beberapa di antaranya pun sudah mulai dikenal hingga digandeng oleh perusahaan.

Meski begitu, pengembangan tetap masih dibutuhkan, terutama dalam membentuk ekosistem yang baik.  Pada Minggu (25/11/2018) siang, Solopos.com bertemu dengan CEO triponyu.com, Augustinus Adhitya P., di Gladag, Solo.

Start up di bidang pariwisata dari Solo tersebut belum lama ini meraih penghargaan di bidang inovasi pariwisata dari United Nation World Tourism Organization (UNWTO) atau Organisasi Pariwisata Dunia PBB di Madrid, Spanyol, Rabu (17/1/2018) lalu.

Penghargaan tersebut disebut membawa dampak bagus untuk perkembangan triponyu.com. Setidaknya saat ini sudah lebih banyak yang mengenal triponyu.com. "Selain itu sudah ada lagi tambahan teman-teman lokal yang menjadi rekan triponyu.com, seperti di Papua, Pontiank, Makassar dan sebagainya," kata dia, Minggu.

Adhitya mengatakan saat ini triponyu.com masih terus berjuang untuk berkembang.  Terkait perkembangan start up di Solo, Adhitya menilai ekosistem start up di Solo masih dalam proses berkembang. Meski begitu susah cukup banyak start up yang berkembang.

Dia menyebutkan ada start up di Solo, SOKU yang baru saja melalukan perjanjian kesepahaman dengan sebuah perusahaan. Menurutnya Solo masih menyimpan potensi besar di sektor start up. Sebab menurutnya masih ada celah-celah yang belum tergarap secara optimal. "Masih banyak persoalan [kebutuhan masyarakat] yang kemungkinan bisa diatasi dengan start up. Jadi masih sangat potensial," kata dia.

Sedangkan mengenai ekosistem start up di Solo, dia menyebut saat ini sudah banyak komonitas yang muncul. Hanya, keberadaannya masih terkesan terpetak-petakkan. Dia mengatakan Solo belum memiliki wadah yang representatif untuk mewadahi para pelaku start up tersebut sehingga bisa berkolaborasi. "Ada garis-garis yang masih cukup keras," kata dia.

Pengembangan start up menurutnya juga memerlukan peran investor. Di sisi lain saat ini masih sulit untuk merangkul investor. "Sebab rata-rata investor masih memakai konsep konvensional dalam melihat bisnia start up. Misalnya saja ketika akan melakukan investasi, hal yang dilihat adalah jaminan. Sedangkan kalau bicara start up apalagi bidang IT, hal itu tidak bisa dilakukan. Jaminan start up IT adalah ide dan infrastruktur," kata dia.

Mengenai infrastruktur tersebut, menurutnya hal itu tidak bisa dinilai secara konvensional. "Jadi di Solo belum banyak pengusaha yang melihat hal itu. Sebenarnya investasi butuh. Kalau Jakarta, Surabaya dan daerah lain sudah banyak pengusaha yang melihat itu," kata dia.

Sementara itu Ketua Forum Economy Development and Employment Promotion (FEDEP) Surakarta, David R Wijaya, mengatakan salah satu industri yang ada di Solo adalah industri kreatif. Baik mulai dari batik, kuliner, IT dan sebagainya. Menurutnya hal itu menjadi potensi Solo yang patut diperhitungkan.

Pengembangan induatri kreatif menjadi salah satu upaya pengembangan sektor industri dengan mengandalkan sumber daya manusia. "Solo tidak punya sumber daya alam, jadi inilah yang harus dimanfaatkan Kota Solo sebagai Kota Dagang," kata dia. Menurutnya potensi industri kreatif tersebut mestinya saat ini sudah bisa menjadi perhatian investor maupun pihak perbankan agar bisa tergarap lebih optimal.

Sementara itu salah satu pelaku start up dari Solo, Gisneo Pratala, menilai start up di Solo harus bisa berkembang seperti di daerah lain seperti Jogja, Bandung maupun Jakarta. Dia mengatakan dari perkembangannya, Solo saat ini masih tertinggal dari daerah-daerah tersebut.

"Harusnya Solo bisa menjadi kota keren karena menghubungkan daerah-daerah di sekitarnya. "Menurut saya, ada kesalahan sistematika, dalam arti di Solo ini belum ada hub untuk creative industry maupun digital industry, sedangkan di Jogja sudah banyak. Mungkin mindset juga perlu diubah, baik mindset untuk berkolabirasi maupun untuk mengembangkan ekosistem. Di Solo ego antara start up yang satu dengan yang lain masih tinggi, mestinya bisa saling kolaborasi," kata dia.