Bantah Dualisme, Rommy Sebut PPP Humphrey Djemat Palsu

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy. (Bisnis/Wisnu Wage)
25 November 2018 21:40 WIB John Andhi Oktaveri Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Ketua Umum PPP Romahurmuziy menepis isu dualisme dalam tubuh partainya karena konflik itu sudah berakhir pada Juli 2017.  Dengan demikian, ujarnya, Humphrey Djemat yang mengklaim sebagai ketua DPP PPP tidak bisa mengaku-ngaku sebagai pemimpin partai berlambang Kakbah tersebut.

Dia pun telah memperingatkan sosok yang dia sebut sebagai petualang politik itu untuk tidak lagi melakuan manuver politik dengan menyebutnya sebagai Ketua Umum PPP versi Muktamar Jakarta.

"Humphrey Djemat itu petualang politik dan barangkali tidak pernah nyoblos PPP. Jangan ada yang terbingungkan dengan manuver murahan petualang politik," kata Rommy kepada wartawan, Minggu (25/11/2018). Bahkan Romy menyebut PPP pimpinan Humphrey Djemat sebagai PPP palsu.

Rommy pun mengaku sudah mengambil langkah tegas dengan mempidanakan Ketua Umum PPP versi Muktamar Jakarta itu. Humphrey telah dilaporkan ke pihak berwajib karena mengaku sebagai ketua umum PPP. "Saat ini lagi proses pidana karena mengaku PPP dan membohongi publik," tegas Rommy.

Rommy juga menambahkan, bahwa PPP hasil Muktamar Jakarta 2016 sudah memutuskan pilihan pada Pilpres 2019.  Dia mengklaim kader PPP dari Sabang hingga Merauke sudah memutuskan memberi dukungan kepada pasangan Jokowi-Maruf pada Pilpres 2019.

Sebelumnya, PPP kubu Muktamar Jakarta memutuskan mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pilpres 2019.  Keputusan tersebut diambil lewat musyawarah kerja nasional atau Mukernas pada 15-16 November 2018 lalu.

Kedua kubu di PPP tersebut memang selalu memiliki pilihan politik yang berbeda sejak konflik internal beberapa tahun lalu. Pada, Pilkada Jakarta 2017 putaran pertama, PPP di bawah pimpinan Romy adalah salah satu parpol pengusung pasangan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) - Sylviana Murni. Sebaliknya, PPP kubu Muktamar Jakarta di bawah pimpinan Djan Faridz memilih mendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat. Bahkan, Humphrey Djemat masuk dalam tim kuasa hukum Ahok dalam kasus penistaan agama.

Sumber : Bisnis/JIBI