Mengarah ke Kali Gendol, Ini Pertumbuhan Kubah Lava Gunung Merapi

Gunung Merapi pada Minggu (3/6/2018) pukul 09.58 WIB terpantau via PGM Selo. (Twitter - @BPPTKG)
25 November 2018 20:00 WIB Abdul Hamied Razak Nasional Share :

Solopos.com, JOGJA -- Guguran lava pijar Gunung Merapi kembali muncul pada Jumat (23/11/2018). Meski kemunculan lava pijar tersebut bukan kali pertama terjadi, hal itu belum membahayakan penduduk.

Kepala Balai Penelitian dan Pengembang Tehnologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja, Haniek Humaidah, mengungkapkan guguran lava pijar tersebut tidak hanya terjadi pada Jumat lalu. Sebelumnya, BPPTKG bahkan mencatat guguran lava sebanyak empat kali ke bukaan kawah, yaitu hulu Kali Gendol.

"Lava pijar sudah keluar dari kemarin-kemarin, arah lebih banyak ke barat laut," jelas Hanik saat dihubungi Harian Jogja, Sabtu (24/11/2018) malam.

Berdasarkan data BPPTKG, guguran lava pijar pada Jumat lalu terjadi pukul 19.05 WIB. Jarak luncurnya hanya 300 meter. Meski begitu, intensitas guguran masih dinilai rendah dengan potensi material yang kecil. Kondisi tersebut dinilai belum membahayakan penduduk. Berdasarkan data aktivitas vulkanik Merapi tersebut, BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada level II atau waspada.

"Status Merapi masih Waspada," kata Haniek.

Seiring dengan pertumbuhan kubah lava, BPPTKG menyebutkan, guguran lava mulai terjadi sejak Rabu (22/8/2018) dan dominan mengarah ke barat laut. Namun saat itu, guguran masih terjadi dalam area kawah.

Sebulan setelah itu, guguran lava juga terjadi pada Selasa (25/9/2018) pukul 04.06 WIB. Lava pijar meluncur ke dasar kawah pada sektor Barat Laut Merapi. Kondisi puncak gunung yang berada di ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini dinilai masih kondusif.

Berdasarkan data pengamatan aktivitas Gunung Merapi periode 16-22 November 2018, BPPTKG mencatat volume kubah lava pada 21 November 2018 sebesar 308.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan rata-rata 2.600 meter kubik per hari. Pertumbuhan kubah itu sedikit lebih tinggi dari pekan sebelumnya.

Aktivitas kegempaan tercatat sebanyak 28 kali gempa embusan (DG), dua kali gempa vulkanik dangkal (VTB), dua kali gempa fase banyak (MP), 261 kali gempa guguran (RF), 21 kali gempa low frequency (LF) dan empat kali gempa tektonik (TT).

Kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan oleh BPPTKG, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. "Kami tetap menghimbau agar masyarakat beraktitivitas seperti biasa dan diperbolehkan menyaksikan aktivitas guguran lava dalam jarak aman, 3 km dari puncak," katanya.

Sumber : Harian Jogja

Kolom 20 hours ago

Jelalatan