Awas Jebakan Utang China!

Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Presiden China Xi Jinping (kedua kanan) menyaksikan penandatanganan perjanjian fasilitasi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung oleh Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Hanggoro Budi Wiryawan dan Direktur Utama Bank Pembangunan Nasional China Hu Huaibang, di Gedung Great Hall of the People, Beijing, China, Minggu (14/5/2018). - Antara/Bayu Prasetyo
18 November 2018 23:30 WIB John Andhi Oktaveri Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Wapres Amerika Serikat Mike Pence memperingatkan negara-negara kecil untuk tidak tergoda oleh program infrastruktur Sabuk dan Jalur Sutra China dengan menawarkan uang untuk proyek konstruksi dan pembangunan.

Peringatan itu disampaikannya pada KTT APEC di Papua Nugini akhir pekan ini sebagaimana dikutip Theguardian.com, Minggu (18/11/2018).

“Pinjaman "buram" diberikan dengan ikatan dan membuat “utang tak terduga,“ ujar Pence mengejek inisiatif yang dikenal dengan Jalur Sutra tersebut.

Dia mendesak negara-negara untuk tetap berpegang pada AS, yang tidak "menenggelamkan mitra dalam lautan utang" atau memaksa, merusak atau membahayakan kemerdekaan negara lain.

Pence mengatakan pinjaman tersebut merupakan jebakan. Oleh karena itulah, dia meminta negara kecil menghidari jebakan tersebut dan memilih kerja sama dengan AS.

Xi Membantah

Menanggapi hal itu, Presiden China Xi Jinping membantah keras tuduhan tersebut. Menurutnya, pinjaman yang digelontorkan China dalam Program Jalur Sutra yang saat ini sedang dijalankan negaranya bukan jebakan.

Xi juga mengatakan China tidak memiliki agenda tersembunyi dalam menggelontorkan pinjaman ke negara yang membutuhkan. 

Menurutnya, China berambisi untuk menghidupkan Jalur Sutra Modern guna meningkatkan hubungan dagang dengan banyak negara. Negeri Tirai Bambu tersebut bahkan siap menggelontorkan dana US$124 miliar atau sekitar Rp1.600 triliun lebih untuk mewujudkan pembangunan jalur tersebut.

Beberapa negara tercatat sudah memanfaatkan pinjaman dari program tersebut seperti Pakistan.

Pakistan sudah menerima pendanaan sebesar US$62 miliar atau Rp828 triliun dari program tersebut. Selain Pakistan, dana program juga sudah dinikmati oleh Filipina dan Malaysia. Kedua negara tersebut sudah menghimpun pendanaan masing-masing sebesar US$24 miliar dan US$30 miliar dari program tersebut.

Selain itu, Indonesia juga turut memanfaatkan dana program tersebut untuk pembangunan infrastruktur di dalam negeri, yaitu Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.
 
 

Sumber : Bisnis Indonesia