Air, Komoditas, dan Kearifan

Suwarmin - Dokumen Solopos
15 November 2018 11:35 WIB Suwarmin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (12/11/2018). Esai ini karya Suwarmin, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah suwarmin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Dulu waktu saya kecil, selepas bermain bola di tanah lapang, saya biasa menuju dapur dan meminum air di gentong dengan siwur atau cidhuk. Rasanya anyep, menyegarkan, menyembuhkan haus yang mencekat.

Jamak pula saya menimba air di sumur lantas meminum airnya, sekalian mandi tanpa melepas baju yang kotor terkena lumpur dan keringat. Rasanya segar sekali.

Kini, saya, dan Anda semua para pembaca, kebanyakan tidak akan berani minum air langsung dari sumur atau gentong. Penyebabnya macam-macam. Sebagian karena termakan iklan air minum dalam kemasan yang kini menjadi komoditas penting.

Sebagian karena khawatir air tercemar bakteri atau zat berbahaya lainnya atau karena doktrin minum air mentah itu tidak sehat. Dulu, sekitar 30 tahun lalu, bisa jadi air tanah aman diminum langsung.

Sifat air hujan yang asin setelah melewati proses alami berubah menjadi air tawar ketika diperam dalam proses peresapan di dalam tanah. Jadi bukan hal yang aneh ketika saat itu saya dan banyak orang desa lainnya meminum air langsung belik atau air di mata air alam.

Dulu, meski kemarau panjang melanda, air sering kali masih sanggup mengalirkan air, gemericik bening untuk sekadar mencuci atau dibendung untuk mengairi sawah-sawah. Kini, saat kemarau panjang, sungai berubah menjadi lorong panjang yang kering kerontang dengan batu-batu kali yang seolah-olah jenuh menanti air menggenangi mereka.

Tercemar

Sampai awal November ini, sebagian wilayah Soloraya dan sekitarnya krisis air. Sumur-sumur warga mengering. Perusahaan Umum Daerah Air Minum Toya Wening Kota Solo sempat menghentikan operasional dua instalasi pengolahan air baku karena kualitas air baku dari sungai tercemar sangat parah.

Akibatnya pasokan air bersih untuk sebagian pelanggan dihentikan. Pada Kamis (8/11) pekan lalu, dalam sebuah seminar di hadapan petani, pelajar, dan para guru di Balai Desa Puron, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, yang menghadirkan narasumber Suyitno (guru besar di Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Solo), Sutanto (doktor Matematika dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret), Moh. Abdul Kholiq Hasan (dari Institut Agama Islam Negeri Surakarta) muncul peringatan bahwa pada 2045 Indonesia bisa kesulitan air bersih.

Salah satu penyebabnya manusia kurang arif dalam memperlakukan air. Dulu air sungai mengalir bening, bahkan saat musim kemarau, karena tabungan air di hulu banyak. Hutan-hutan di lereng gunung masih menyimpan cadangan air.

Sunatullah bahwa curah hujan di pegunungan lebih tinggi, lalu air hujan tersimpan di tanah-tanah pegunungan, di lereng-lereng hutan pegunungan, diikat oleh akar-akar pohon. Kalau ekosistem itu diganggu, pohon-pohon ditebangi, daya ikat atas air berkurang, air hujan cepat terbuang.

Suyitno yang asli warga Puron mengalami dulu waktu kecil biasa menimba air sepulang sekolah dan langsung. Dalam simposium di Hotel Alana, Colomadu, Karanganyar beberapa tahun lalu, perihal perilaku manusia di hulu dan hilir Bengawan Solo juga menjadi catatan.

Dalam acara yang diprakarsai Yayasan Lestari Indonesia itu, mengemuka catatan pada kenyataannya Bengawan Solo saat ini mengalami berbagai masalah di hulu sampai hilir. Kawasan hutan di hulu berkurang karena alih fungsi lahan yang mengakibatkan air hujan yang turun lebih banyak menjadi aliran permukaan.

Jadi Komoditas Mahal

Derasnya aliran permukaan menimbulkan erosi tanah dan mempercepat penumpukan sedimen di dasar sungai. Bengawan Solo yang melintas wilayah padat penduduk, seperti di perkotaan, menjadi tempat pembuangan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair dari aktivitas rumah tangga dan industri.

Sempadan sungai dimanfaatkan untuk mendirikan bangunan yang mengakibatkan daya tampung sungai menurun. Begitu kompleksnya permasalahan di daerah aliran sungai Bengawan Solo yang kemudian menurunkan fungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air hujan.

Mata air Bengawan Solo, menurut sejumlah sumber, berasal dari tiga pegunungan, yakni lereng Gunung Seribu (Pegunungan Sewu) di sebelah tenggara wilayah Soloraya. Sumber air di Pegunungan Sewu mengalirkan air ke barat daya, melewati perbatasan Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Wonogiri.

Sesampai di Desa Kakap, Kabupaten Wonogiri, air berbelok ke utara. Setelah air sampai di sebelah selatan ibu kota Kabupaten Wonogiri, debit air semakin besar karena limpahan air Sungai Keduwang yang bersumber dari Gunung Lawu.

Selepas dari wilayah Wonogiri aliran sungai ini menuju ke arah barat laut dan di sini kembali mendapatkan limpahan air dari Kali Dengkeng yang bermata air di Gunung Merapi. Jika ingin mereservasi Bengawan Solo jelas perlu melibatkan banyak daerah, perlu dilakukan secara masif, berkelanjutan, dan memerlukan biaya yang sangat mahal.

Hal ini menyangkut perilaku warga hulu dan orang hilir yang berinvestasi di daerah hulu. Belum lagi perilaku minus lainnya, seperti semakin minimnya daerah tangkapan air atau daerah resapan air karena perkembangan permukiman.

Beberapa hari terakhir ini hujan deras mulai mengguyur Solo dan sekitarnya. Justru inilah ironinya. Datangnya musim penghujan berarti datangnya ancaman lain terkait air. Kekeringan dan kesulitan pasokan air memang teratasi, tetapi musim hujan mendatangkan ancaman banjir dan genangan air di mana-mana.

Pergeseran Peran

Demikian halnya dengan Bengawan Solo yang mengalami kekeringan pada musim kemarau dan mengalami banjir saat musim hujan. Pergeseran peran Bengawan Solo sebagai subjek dalam pemenuhan kebutuhan kehidupan lambat laun berubah menjadi sekadar objek bagi kehidupan masyarakat.

Kita tentu ingat Bengawan Solo mempunyai sejarah panjang sebagai bagian dari peradaban Jawa. Sejak abad ke-13, ketika Kerajaan Majapahit sedang berada pada puncak kekuasaan, lalu lintas orang dan barang melalui Bengawan Solo berlangsung intensif.

Menurut Darsiti Soeratman (2000), Pelabuhan Ujung Galuh (Gresik saat ini) menjadi titik temu lalu lintas melalui Bengawan Solo dengan lalu lintas samudra kala itu. Bengawan Solo saat itu dikenal sebagai Bengawan Semanggi, merujuk bandar terakhir dari aliran sungai itu.

Semakin jelas bagaimana degradasi harkat Bengawan Solo. Semakin ke sini, Bengawan Solo semakin terhinakan. Dulu sebagai subjek, kini sebagai objek, tempat manusia modern membuang semua kotoran. Kotoran industri, domestik, hingga kotoran manusia itu sendiri.

Ironisnya, isu air dan lingkungan tak pernah menjadi isu besar nasional. Para elite politik tidak menggunakan isu ini sebagai isu utama. Semua masih berkutat pada wacana-wacana baik atau buruk, diksi-diksi politik yang kurang menyentuh akar masalah yang luar biasa ini.

Begitulah yang terjadi. Jika kita semua abai, mungkin anak cucu kita tak akan pernah mengenal kearifan air dan sungai-sungainya yang masyhur pada masa nenek moyang mereka. Air akan menjadi komoditas yang kian mahal.

 

Kolom 21 hours ago

Jelalatan