Dekonstruksi Emak-Emak

Tri Marhaeni Pudji Astuti - Istimewa
14 November 2018 10:21 WIB Tri Marhaeni Pudji Astuti Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (12/11/2018). Esai ini karya Tri Marhaeni Pudji Astuti, Guru Besar Antropologi di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

Solopos.com, SOLO -- Media sosial masih saja diramaikan oleh meme yang menggambarkan sosok perempuan dengan segenap stereotip, mulai dari yang lucu, sarkastis, hingga yang lekat dengan kekuatan okol. Gambaran itu kadang memantik kelucuan, kesedihan, malahan kemudian melahirkan stigma terhadap perempuan.

Celakanya, stigma yang terlahir di media sosial itu menimbulkan konstruksi sosial yang lekat dengan kenekatan, kebodohan, kelucuan, kekonyolan, kengeyelan, bahkan kekuatan okol emak-emak.

Di dunia nyata, emak-emak digambarkan sebagai sesosok atau sekelompok orang yang selalu mau menang sendiri, tidak mau tahu, bahkan sakarepe dhewe. Saking jeleknya gambaran itu, emak-emak di mata masyarakat diringkus dengan guyonan sebagai yang ”kalau naik motor, lampu sein kiri menyala tapi beloknya ke kanan”.

Guyonon semacam itu masih ditambah lagi dengan ekspresi menertawakan ”kegilaan” emak-emak plus ucapan,”Dasar the power of emak-emak!”

Pergeseran Stigma

Begitu jeleknya stigma itu sehingga menjadi citra yang melekat pada sosok perempuan yang diibaratkan emak-emak, tetapi tampaknya stigma terhadap sosok emak-emak ini sudah mulai bergeser oleh kehadiran ”bapak-bapak” dan ”mas-mas” di jalanan.

Sekarang di jalanan yang ngawur ketika naik motor bukan hanya emak-emak, tetapi juga bapak-bapak atau mas-mas (oknum!) pengemudi ojek beraplikasi online. Mereka bisa berhenti mendadak tanpa memberikan tanda.

Pada kesempatan lain mereka bisa naik motor sambil memerhatikan smartphone karena melihat lokasi penjemputan atau mencari alamat untuk mengantarkan barang.

Stigma the power of emak-emak mulai tergeser oleh makin meruahnya jasa transportasi beraplikasi online serta layanan sejenis lainnya yang berbasis online yang kebanyakan diawaki laki-laki.

Di jalanan, perilaku nekat naik motor dan perilaku semaunya sendiri tidak lagi didominasi oleh emak-emak, tetapi sudah terdistribusi juga ke bapak-bapak atau mas-mas.

Stigma yang telanjur melahirkan konstruksi terhadap sosok emak-emak ini pun lantas berubah total, berbanding terbalik, dan berubah bak konstruksi bumi langit ketika masa kampanye pemilihan kepala daerah atau pemilihan presiden datang.

Primadona

Saat ini, misalnya, sosok emak-emak yang biasanya dilecehkan, diejek, dan dijadikan candaan, bahkan dijadikan objek sindiran sarkatis, berubah jadi primadona bagi pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang sedang berkontestasi.

Pergeseran stigma ini merupakan dekonstruksi citra yang melahirkan konstruksi baru terhadap sosok emak-emak yang yang begitu berharga dan dihargai, bahkan dibutuhkan. Perlahan namun pasti, tampaklah bahwa sekelompok emak-emak makin menjadi primadona para kontestan pemilihan presiden.

Kentara sekali para calon presiden dan calon wakil presiden berlomba-lomba mendekati emak-emak. Mereka merayu emak-emak, menarik simpati mereka, dengan harapan emak-emak itu memberikan suara kepada pasangan calon presiden dan calon wakil presiden tersebut.

Emak-emak pada masa pemilihan umum pasti akan menjadi primadona bagi para calon pemimpin yang berlaga. Begitu berharganya sosok emak-emak sampai-sampai kelompok ini menjadi kelompok yang layak dan harus diprioritaskan.

Penghargaan sosial terhadap kelompok perempuan yang diidentikkan dengan emak-emak ini menjadi tanda dimulainya dekonstruksi citra terhadap emak-emak. Sampai-sampai ada anggapan bahwa perempuan itu ada hanya pada bulan April, Desember, dan saat pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden.

Penghargaan Semu   

Sayangnya, penghargaan sosial terhadap perempuan dan emak-emak yang hanya ada pada Hari Kartini, Hari Ibu, dan saat pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden ternyata hanyalah penghargaan sosial semu.

Emak-emak dihargai bukan karena eksistensi mereka, melainkan dihargai hanya sesaat manakala mereka merupakan tambang emas elektabilitas. Emak-emak didekati, diperhatikan, dirayu, diberi program hanya karena mereka dianggap sebagai lumbung suara yang diharapkan dapat mendongkrak perolehan suara para calon pemimpin.

Penghargaan sosial semu terhadap perempuan, yang identik dengan emak-emak ini, hanya merupakan penghargaan sesaat demi kepentingan sesaat pula. Riuh rendah masa kampanye dengan adegan saling berebut suara dan berlomba-lomba memberikan perhatian kepada emak-emak terlihat di mana-mana, mulai dari pasar tradisional sampai mal mewah.

Kemajuan dunia digital ikut menyumbang peran yang tidak sedikit kepada para calon presiden dan calon wakil presiden memanfaatkan gawai untuk berswafoto ria dengan emak-emak. Begitu berharganya kelompok ini. Sampai para kontestan merasa perlu menomorsatukan emak-emak menjelang pemilihan presiden.

Banyak program dijanjikan kepada mereka, banyak pula janji perbaikan dialamatkan kepada kaum Hawa ini dengan segala daya upaya agar bisa mendekat dan memikat. Pada akhirnya nanti ketika terpilih, masihkah emak-emak ini menjadi primadona? Sungguh jauh panggang dari api dan itu yang telah lazim terjadi.

Pada gilirannya, penghargaan sosial semu ini tak ubahnya kebijakan yang hanya berbicara tentang perempuan, bukan kebijakan yang berbicara untuk perempuan. Penghargaan sosial semu terhadap perempuan atau emak-emak tampaknya akan terus menjadi stigma yang belum pula tergeser dari dulu sampai sekarang.

 

Kolom 21 hours ago

Jelalatan