Sebelum Keluar Asrama, Begini Sosok Terduga Pemerkosa Mahasiswi UGM

Ratusan mahasiswa menandatangani petisi penolakan terhadap kekerasan seksual saat aksi damai UGM Darurat Kekerasan Seksual di Kampus Fisipol UGM, Sleman, Kamis (8/11 - 2018). (Harian Jogja/Gigih M. Hanafi)
14 November 2018 20:32 WIB Yogi Anugrah Nasional Share :

Solopos.com, SLEMAN -- Sosok mahasiswa Fakultas Teknik UGM berinisial HS kini tak diketahui keberadaannya seiring kasus yang tengah viral di kampusnya. Padahal, pemuda yang diduga sebagai pelaku pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi Fisipol itu pernah dikenal sebagai sosok yang taat, bahkan pernah mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa terbaik di asrama.

HS diketahui pernah tinggal di Asrama Mahasiswa Merapi Singgalang, Jl Magelang, Tegalrejo, Jogja, beberapa tahun lalu, tepatnya pada 2014-2015. Rekan HS yang sama-sama masuk asrama pada 2014 Furqan Abdul Rais, 21, mengungkapkan sosok mahasiswa asal Sumatra Barat itu.

Pada tahun pertama tinggal di asrama, HS pernah mendapat penghargaan sebagai mahasiswa baru terbaik di Asrama Mahasiswa Merapi Singgalang. "Di asrama ini setiap tahun ada penghargaan warga terbaik dan warga baru terbaik. Pada 2014, dia yang terpilih jadi warga baru terbaik," kata Furqan ditemui Selasa (13/11/2018), di Asrama Mahasiswa Merapi Singgalang.

Furqan menceritakan saat tinggal di asrama, HS dikenal sebagai orang yang baik. Bahkan dikenal alim karena sering mengajak teman-temannya salat ke masjid.

"Waktu di sini dia tinggal di kamar nomor tiga. Dia suka mengajak kami satu angkatan ke masjid di sebelah asrama untuk salat. Ini bukan melebih-lebihkan," ujarnya.

Namun, HS hanya tinggal satu tahun di Asrama Mahasiswa Merapi Singgalang tersebut. Pada 2015 ia memilih tinggal di rumah indekos. "Katanya ingin fokus kuliah, kami ikut bantu angkat barang-barangnya [saat pindah ke indekos]," kata Furqan.

Terkait kasus pemerkosaan yang diduga dilakukan HS, Furqan mengaku pernah mendengar kabar tersebut pada 2017. Namun ia tidak pernah mendengar HS bercerita langsung soal kasus yang dialaminya. "Tanggapan saya dan teman-teman satu asrama terhadap HS, jujur kami kecewa. Kalau HS salah dihukum saja," ucapnya.

Namun, dia berharap masyarakat lebih bijak dalam menyaring informasi terkait dengan pribadi dan keluarga HS yang belakangan ini viral di media sosial. Furqan berharap HS tegar menjalani kasus tersebut dan pihak kampus segera menyelesaikan kasus ini.

Sumber : Harian Jogja