Lontarkan Sontoloyo & Genderuwo, Ini Pengaruhnya Terhadap Elektabilitas Jokowi

Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Sekretaris Kabinet Kerja Pramono Anung (kiri), Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kanan), Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin (kedua kiri) menekan tombol saat peresmian jalan tol Pejagan-Pemalang di Gate Tol Tegal, Kalimati, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11 - 2018). (Antara / Oky Lukmansyah)
10 November 2018 05:35 WIB Muhammad Ridwan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Dua istilah terkait politik, yakni sontoloyo dan genderuwo, diucapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam waktu yang tidak terlalu berjauhan. Kedua istilah itu juga memicu reaksi dari kubu oposisi.

Meski begitu, pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar mengatakan tidak akan ada pengaruh terhadap elektabilitas Jokowi setelah melontarkan istilah politisi sontoloyo dan politisi genderuwo itu. Idil membandingkan pernyataan itu dengan gaya mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai pembanding.

Menurut Idil, sosok Ahok yang lebih sering menggunakan kata-kata yang tegas dan kerap kali kasar dapat dimaklumi oleh masyarakat. Bagi sebagian masyarakat, ucapannya dianggap sesuai dengan realita.

“Dulu kita ingat era Ahok misalnya di Jakarta, walaupun lebih kasar [dibandingkan dengan Jokowi] dalam pernyataan dan sebagainya, orang banyak suka dengan itu. Jadi seolah-olah orang setuju dengan konten yang disampaikan,” ujar Idil kepada Bisnis/JIBI, Jumat (9/11/2018).

Dengan demikian, pernyataan Presiden Jokowi yang dinilai tidak lebih kasar dibandingkan dengan Ahok dan juga sesuai dengan realita politik yang ada saat ini, tidak akan berdampak pada elektabilitasnya calon presiden.

“Hanya pernyataan yang katakanlah mungkin dianggap kurang sopan, terlalu berlebihan, tapi dengan konten itu tidak akan jauh menurunkan atau bahkan tidak akan menurunkan sama sekali elektabilitas Jokowi,” jelas Idil.

Pengamat politik dari Universitas Mercu Buana Maksimus Ramses Lalongkoe juga mengatakan tidak ada pengaruh terhadap elektabilitas Joko Widodo usai melontarkan istilah politik sontoloyo dan politik genderuwo.

“Saya melihatnya tidak pengaruh terhadap elektabilitasnya karena sebenarnya yang diucapkan Presiden itu tergambar dalam realitasnya, penggunaan kata sontoloyo inikan juga sebenarnya sudah selesai diperdebatkan dan kalau saya pantau tidak pengaruh dengan elektabilitasnya,” pungkasnya.

Sumber : Bisnis/JIBI