Sebut Politik Genderuwo, Jokowi Diminta Hati-Hati Pilih Kata

Presiden Joko Widodo (kanan) menyapa Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam Rakernas PAN di Jakarta, Rabu (6/5 - 2015). (Antara/Fanny Octavianus)
09 November 2018 21:00 WIB Muhammad Ridwan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Pengamat politik mengingatkan para elite politik, termasuk Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto serta tokoh lainnya untuk  berhati-hati dalam memilih kata-kata.

Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar mengatakan seorang pemimpin sebaiknya lebih menggunakan kata-kata yang memberikan nilai positif kepada masyarakat.

“Saya sepakat dengan itu, bahwa setiap pemimpin harus mengeluarkan kata-kata yang lebih soft, lebih positif dan lebih dipahami banyak orang,” ujarnya kepada Bisnis/JIBI, Jumat (9/11/2018).

“Tanpa mengurangi persoalan alasan-alasan yang ada, tetap siapa pun pemimpinnya, baik Jokowi, baik Prabowo, maupun yang lain-lain itu bisa mengeluarkan pernyataan yang lebih meningkatkan nilai positif dari masyarakat,” sambungnya.

Senada dengan Idil, pengamat politik dari Mercu Buana dan Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia, Maksimus Ramses Lalongkoe, mengatakan sebaiknya pemimpin menggunakan kata-kata yang tidak menimbulkan multitafsir.

“Saya kira untuk menghindari perdebatan di tengah masyarakat maka ke depannya, Presiden pilih diksi yang tidak menciptakan perdebatan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menyindir aksi para politikus yang gemar menyebar propaganda menakutkan dengan istilah politik genderuwo. Di hadapan 3.000 penerima sertifikat di Kabupaten Tegal, Jokowi mengemukakan bahwa saat ini banyak politikus yang sering melontarkan pernyataan-pernyataan yang menakutkan.

Sumber : Bisnis/JIBI