Kubu Prabowo: Rakyat Lebih Takut Harga Sembako daripada Genderuwo

Sandiaga Uno menunjukkan tempe yang diberikan oleh Sinta Nuriyah Wahid disaksikan Yenny Wahid (tengah) di Ciganjur, Jakarta, Senin (10/9 - 2018). (Antara / Hafidz Mubarak A)
09 November 2018 20:00 WIB Jaffry Prabu Prakoso Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Badan Pemenangan Nasional Koalisi Indonesia Adil Makmur Prabowo-Sandi menilai bahwa istilah "politik genderuwo" yang digunakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada lawan politiknya sangat tidak tepat diungkapkan di era milenial.

Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, mengklaim publik saat ini lebih takut dengan dengan kondisi ekonomi yang semakin tidak menentu.

“Ini kan era milenial. Masa masih saja bawa-bawa genderuwo? Apalagi genderuwo ini kan hanya mitos,” katanya melalui pesan instan kepada wartawan, Jumat (9/11/2018).

Andre mengatakan kalaupun mitos genderuwo itu saat ini nyata, publik tetap lebih takut jika melihat harga kebutuhan pokok dan kondisi ekonomi. Sebagai Presiden, kata Andre, sebaiknya Jokowi melihat atau berbicara mengenai masa depan bangsa, bukan berkutat dengan istilah atau mitos yang tak terkait cara kondisi ekonomi bangsa.

“Genderuwo ini coba digambarkan sosoknya. Jangan hanya berhalusinasi dan terperangkap dengan masa lalu apalagi yang berbau mitos. Lebih baik pikirkan bagaimana nilai tukar rupiah kuat menghadapi dolar. Bagaimana janji lapangan kerja untuk anak bangsa. Bagaimana menurunkan harga-harga. Itu yang harus dipikirkan. Jangan-jangan janji yang banyak tak dipenuhi Jokowi itu juga halusinasi,” ucapnya.

Baru lama setelah istilah politikus sontoloyo, Presiden menyebut ada model politik genderuwo. Maksudnya adalah politikus yang berupaya memengaruhi masyarakat dengan propaganda tapi tidak mempunyai etika dan sopan santun sehingga membuat publik takut.

Sumber : Bisnis/JIBI