Setiap 10 Menit, 1 Anak Balita di Yaman Meninggal Akibat Perang

Anak kekuarangan gizi yang dirawat di rumah sakit di Sana'a, Yaman, 6 Oktober 2018 lalu. (Reuters/Khaled Abdullah)
08 November 2018 17:40 WIB Ginanjar Saputra Internasional Share :

Solopos.com, SANA'A — Setiap 10 menit, ada satu anak balita di Yaman meninggal dunia karena kelaparan, kekuarangan gizi, dan karena penyakit yang sebenarnya bisa disembuhkan. Hal itu diungkapkan Direktur United Nations Children's Fund (Unicef) atau Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Yaman, Geert Cappelaere, Sabtu (3/8/2018) lalu.

Dilaporkan Reuters, Kamis (8/11/2018), kelaparan, kekurangan gizi, dan penyakit yang tak kunjung sembuh itu dipicu pemblokiran Pelabuhan Hodeidah di Laut Merah karena Perang Saudara Yaman yang tak kunjung usai. Padahal, pelabuhan tersebut merupakan akses masuknya sebagian besar barang impor, termasuk termasuk makanan, ke Yaman.

Cappelaere yang baru-baru ini bertemu dengan beberapa keluarga di Hodeidah dan Saana, Yaman mengaku melihat banyak anak-anak dengan kondisi memprihatinkan karena kekurangan air minum, buah, dan sayuran.

Ia menyebut ada lebih dari 400.000 anak-anak Yaman yang menderita kekurangan gizi akut di antara 1,8 juta anak-anak Yaman yang juga kekurangan gizi. "Kondisi seperti itu tentu mengancam jiwa mereka dengan keadaan tubuh hanya tulang dan kulit," ujar Cappelaere.

Cappelaere berharap perang di Yaman yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun itu segera berakhir. Ia tak ingin anak-anak di Yaman tak mampu hidup dalam waktu lama karena kekurangan gizi akibat perang yang tak kunjung selesai.

Sementara itu, Reuters menyebut pemerintah Yaman telah berencana untuk segera melakukan pertemuan dengan kelompok revolusi untuk membicarakan pembicaraan damai bulan ini. Kelompok revolusi juga dikabarkan akan bersedia hadir dalam pertemuan tersebut.