Jokowi: Indonesia Butuh Pemimpin Tegas, Tapi Bukan Marah-Marah

Presiden Jokowi menemui pedagang tempe di Pasar Bogor, Selasa (30/10 - 2018) malam. (Setkab.go.id)
08 November 2018 05:30 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang juga merupakan calon presiden petahana menyatakan komunikasi melalui berbagai media sosial tidak menjamin kepercayaan dari rakyat. Dia juga menyatakan rakyat butuh pemimpin yang tegas, bukan yang suka marah-marah.

"Kita tahu banyak masyarakat yang tak terjangkau oleh TV, Instagram, Twitter dan banyak masyarakat yang tidak percaya dengan media-media seperti ini. Glamornya, riuhnya di media sosial, tidak menjamin dapat kepercayaan dari rakyat," kata Jokowi saat membuka pembekalan bagi calon anggota legislatif Partai Hanura di kawasan Ancol Jakarta Utara, Rabu (7/11/2018) malam.

Jokowi juga meminta para caleg tidak silau dengan hasil survei dan berita-berita karena rakyat ada yang menggunakan media sosial dan ada juga yang tidak. Menurut dia, cara berkomunikasi dengan rakyat merupakan hal yang penting. "Sekarang enggak zamannya bermain di medsos dan televisi. Itu penting tapi yang paling penting bisa door to door, komunikasi tatap muka itu penting sekali," katanya.

Ia minta para caleg menyampaikan apa yang telah dilakukan pemerintah seperti penyediaan kartu Indonesia sehat, KIP, PKH yang langsung bersentuhan dengan individu-individu.

"Juga pembagian sertifikat tanah 2017 sudah 5 juta lebih, tahun ini minimal 7 juta dan tahun depan 9 juta. Kalau kita bisa jelaskan seperti itu rakyat akan tahu kemudian memberikan dukungan kepada yang kita kerjakan dan akan kita lakukan," katanya.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga mengapresiasi Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang yang tegas dan tidak suka marah-marah. "Yang saya senang tegas tapi tak suka marah-marah, karena ada yang bilangnya tegas tapi suka marah-marah," katanya.

Menurut dia, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tegas, mau mendengar aspirasi, suara rakyat, kemudian berani dan tegas dalam membuat kebijakan serta tegas dalam bertindak.

"Tapi tegas itu tidak sama dengan otoriter. Ini beda dan tolong dibedakan," katanya. Jokowi juga meminta para caleg menyampaikan Program Dana Desa yang pada tahun 2018 sudah mencapai Rp187 triliun.

"Dana infrastruktur juga besar sekali. Jumlahnya saya enggak bisa hitung, tahun ini, tahun depan Rp400 triliun. Jumlah yang meloncat sangat besar sekali. Ini yang penting dan harus disampaikan kepada rakyat. Apa yang sudah dikerjakan dan dilakukan," katanya.

Jokowi juga menyampaikan para caleg untuk memberikan penjelasan mengenai isu dirinya sebagai antek asing yang tidak benar. "Jangan lupa untuk disampaikan juga, karena saya sering dituding-tuding antek asing. Antek asing yang mana? Coba Blok Mahakam yang sebelumnya dikelola Prancis, sejak 2015 sudah diserahkan 100 persen kepada Pertamina," katanya.

Sumber : Antara