Bahagia...

Sholahuddin - Dokumen Solopos
06 November 2018 20:36 WIB Sholahuddin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (29/10/2018). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Direktur Utama Bank Mandiri,  Kartika Wirjoatmodjo, membuka sedikit rahasia sehingga bank yang dia pimpin bisa masuk menjadi salah satu perusahaan terbaik dunia versi Forbes pada 2018 ini. Karyawan bahagia menjadi kunci kesuksesan itu.

Seperti dikutip Kompas (25/10), dia mengatakan pegawai yang bahagia memiliki kesempatan mengembangkan diri dan mempunyai energi luar biasa untuk perusahaan. Forbes membuat riset dengan cara menyebar kuesioner kepada karyawan untuk menilai perusahaan mereka sendiri dan seberapa jauh para karyawan itu mau merekomendasikan tempat kerja mereka kepada orang lain maupun keluarga dekat.

Melalui program bertajuk Global 2000: World’s Best Employers, Forbes mengukuhkan Alphabet, perusahaan induk Google yang bergerak di sektor jasa teknologi komputer, sebagai perusahaan terbaik dunia. Bank Mandiri menempati posisi ke-11, Bank BCA  di posos ke-32, dan PT Gudang Garam di posisi ke-109.

Direktur Utama Bank Mandiri itu pasti tidak mengada-ngada dengan pernyataanya itu. Banyak riset membuktikan tentang pengaruh kebahagiaan (happiness) dengan produktivitas seseorang. Tidak hanya karyawan, tapi semua individu di setiap organisasi maupun komunitas.

Jika mereka bahagia, organisasi itu akan sehat dan berkualitas. Masyarakat  sehat bila orang-orangnya bahagia. Masyarakat bahagia harus dimulai dari pemimpin-pemimpin yang bahagia pula. Pemimpin yang bahagia bisa membuat kebijakan yang membahagiakan warga.

Saking pentingnya  aspek kebahagiaan, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merasa perlu mengeluarkan resolusi kepada semua anggota untuk terus mengukur tingkat kebahagiaan warga negara-negara anggota sebagai landasan membuat kebijakan publik.

PBB secara rutin juga membuat pemeringkatan negara bahagia berdasarkan indeks kebahagiaan hidup. Pada 2018, laporan PBB bertajuk  World Happiness Report menunjukkan Finlandia menjadi negara paling bahagia di dunia dengan nilai indeks kebahagiaan (world happiness index) 7,63 (skala 0-10).

Kita tak kaget dengan Findlandia. Negara ini dikenal maju, terutama sistem pendidikannya. Bagaimana Indonesia? Jangan kaget, peringkat kebahagiaan (world happiness ranking) orang Indonesia di posisi ke-96 dunia dengan indeks kebahagiaan 5,093. Lebih buruk daripada tahun 2017 yang kala itu Indonesia di posisi ke-81 dengan indeks 5,262.

Yang sedikit menghibur, hasil kajian Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 menunjukkan indeks kebahagiaan orang Indonesia tidak jelek-jelek amat. Indeks kebahagiaan orang Indonesia sebesar 70,69 (skala 0–100). Bisa dimaknai rata-rata orang Indonesia ”cukup bahagia”.

Tugas Berat

Adalah fakta ada kutub yang jauh antara orang yang  ”sangat tidak bahagia” dengan orang yang ”sangat bahagia”. Tugas berat semua pihak untuk mendorong agar orang Indonesia menjadi ”bahagia” atau bahkan ”sangat bahagia”.

Kalau saya merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) , bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Pemaknaan ala KBBI ini singkat, tapi sungguh dalam. Kalau mau kita tafsirkan tentu banyak perspektif tentang kebahagiaan, baik subjektif maupun objektif.

Saya tidak akan bicarakan dalam artikel pendek ini. Saya hanya ingin menyampaikan orang bahagia adalah mereka yang sudah selesai dengan urusan dirinya sendiri. Paripurna. Kata orang Jawa ”menepatau  mengendap, matang. Termasuk matang dalam berpikir.

Pengajar filsafat Reza A.A. Wattimena (2015) mengaitkan bahagia dengan cara berpikir seseorang. Hidup yang bahagia berarti hidup yang dijalani dengan cara berpikir yang tepat. Kebahagiaan lahir dan berkembang setelah orang mengalami revolusi berpikir dalam hidupnya.

Hidup bahagia juga berarti hidup yang berarti bagi dirinya sendiri, berarti bagi orang lain, dan akhirnya menjelma menjadi manusia merdeka. Dengan lain kata, orang yang kacau dalam berpikir menunjukkan mereka tidak bahagia. Merana.

Berpikir tepat merupakan proses berpikir untuk mencari kebenaran, bukan pembenaran. Dalam keyakinan berlandasan agama yang saya anut, berpikir tepat adalah berpikir secara tauhid. Berpikir dengan membebaskan diri dari semua bentuk belenggu sehingga bisa menemukan kebenaran yang sesungguhnya.

Belenggu berpikir itu antara lain karena kepentingan politik, nafsu kekuasaan, ketidakmauan belajar, malas berpikir. Nafsu amarah juga bisa membelenggu akal sehat. Ketika tersinggung marahnya bisa berjilid-jilid. Mengajak banyak teman,  yang ujung-ujungnya merepotkan banyak orang. Sebenarnya kasus yang bikin orang tersinggung  itu bisa dilokalisasi agar tidak meluas.   

Orang yang hidupnya tidak bahagia juga penuh kekhawatiran. Khawatir tak bisa memenangi persaingan. Khawatir kekuasaannya lepas. Khawatir karena merasa selalu ada ”musuh” di luar sana yang mengancam eksistensi diri dan kelompoknya. Kemudian membuat gerakan pembelaan yang tidak diperlukan.

Filsuf

Terkait pemilihan pejabat publik, mempertimbangkan kebahagiaan menjadi hal penting. Filsuf Yunani,  Plato,  menyarankan agar negara dipimpin para filsuf. Loh, kenapa? Karena filsuf orang yang berakal, penuh kebijaksanaan. Orang-orang bahagia. Meski utopis, saran Plato ini patut kira renungkan.

Banyak orang yang hidupnya tidak bahagia tapi berambisi besar untuk memimpin. Saya tidak bisa berharap banyak  kepada orang seperti ini. Lha wong hidupnya belum bahagia kok mau menebar kebahagiaan kepada rakyat? Tidak mungkin bisa, namun banyak calon pemimpin yang pintar mengelabui rakyat.

Bisa membuat panggung seolah-olah dirinya bahagia dan bisa membuat rakyat bahagia. Menebar energi negatif, mengeksploitasi kesulitan rakyat, dan kemudian seolah-olah dia ratu adil yang bisa menyelesaikan semuanya. Faktanya? Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) menangkap lebih dari 100 kepala daerah sejak KPK berdiri.

Belum lagi pejabat publik lainnya yang dipilih rakyat. Tidak ada jera korupsi. Pada 2019, sebagaimana saran Plato, pilihlah orang yang berkualifikasi filsuf. Atau, yang paling mendekati filsuf. Atau, yang paling bahagia di antara para kandidat pemimpin itu. Menggantungkan harapan kepada orang yang hidupnya belum paripurna itu berisiko.

Alih-alih mau membahagiakan rakyat, mereka bakal mencari kebahagiaan sendiri dengan merampas hak-hak rakyat untuk bahagia. Jadi, pemilih cerdas berarti memilih pemimpin bahagia secara bahagia pula. Pokoknya jangan lupa bahagia ya…