Bupati Seno Samodro Dilaporkan ke Bawaslu, PDIP Kritik Prabowo

Massa menggelar aksi unjuk rasa memprotes pernyataan calon presiden Prabowo Subianto di jalan Boyolali-Semarang, Boyolali, Minggu (4/11 - 2018). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
06 November 2018 17:30 WIB John Andhi Oktaveri Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto menilai pelaporan atas Bupati Boyolali Seno Samodro oleh kubu Prabowo Subiatnto ke Bawaslu berlebihan. Seno dilaporkan karena ucapannya yang menyebut nama binatang.

“Apa yang dilakukan Pak Seno masih wajar. Beliau mengawal rakyatnya. Dengan demikian demonstrasi berlangsung tertib dan damai,” ujar Hasto, Selasa (6/11/2018).

Menurutnya, apa yang dilakukan Seno sebagai bagian pendidikan politik untuk disampaikan ke Prabowo agar berhati-hati dalam berbicara dan tidak mengeksploitasi kemiskinan rakyat hanya untuk tujuan kekuasaan politik. Hasto mengingatkan agar calon presiden nomor urut 02 tersebut mengedepankan tata krama politik dalam menyampaikan materi kampanyenya.

“Respons cepat masyarakat Boyolali atas pernyataan Prabowo, yang dianggap melecehkan martabat dan kehormatan warga setempat menjadi pelajaran soal pemahaman budaya timur,” ujarnya. Dia menambahkan bahwa apa yang disampaikan Prabowo hanya pas dalam budaya barat.

“Mungkin karena Pak Prabowo lama hidup di luar negeri sehingga tidak memahami tepo sliro dalam budaya Jawa, ataupun kurang paham budaya Indonesia karena masa kecilnya dibesarkan di negara barat,” ujarnya.

Advokat Pendukung Prabowo sebelumnya melaporkan Bupati Boyolali Seno Samodo kepada Bawaslu. Kader PDIP itu dianggap mengajak massa membenci dan menghina calon presiden Prabowo Subianto.

Seno melakukan hal tersebut saat demonstrasi aksi bela "Tampang Boyolali" pada Minggu (4/11/2018) di Gedung Balai Sidang Mahesa, Boyolali, Jawa Tengah. Saat berpidato dalam bahasa lokal, Seno sempat melontarkan kata asu yang dalam bahas setempat sama dengan anjing.

Sumber : Bisnis/JIBI