Seharusnya Bisa Bertahan 30 Hari, Sinyal CVR Lion Air PK-LQP Sudah Mati

Tim evakuasi Pertamina menurunkan ROV (Remote Operated Vehicle) dari kapal Victory PHE ONWJ untuk mengidentifikasi objek bawah laut dalam upaya pencarian pesawat Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di perairan Laut Utara Karawang, Jawa Barat, Rabu (31/10 - 2018). (Antara/Humas Pertamina)
05 November 2018 19:00 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan sinyal kotak hitam cockpit voice recorder (CVR) pesawat Lion Air JT-610 sudah mati sejak dua hari lalu. Namun Kapal Riset Baruna Jaya I belum menyerah dan memperluas area pencarian di perairan Karawang, Jawa Barat.

Ketua KNKT menyatakan sinyal CVR kini sudah mati. Padahal semestinya sinyal bisa bertahan hingga 30 hari. "Sekarang pun kita sudah tidak mendengar sinyalnya. Jadi dengan metode apapun akan mencari CVR itu," katanya, dikutip Antara, Senin (5/11/2018).

Dia mengaku tidak mengetahui penyebab sinyal tersebut mati. "Saya tidak tahu. Saya tanya ke pabriknya ini tidak pernah terjadi," katanya.

Namun, Soerjanto bersikeras akan menemukan CVR dengan cara apapun sebagai salah satu kunci investigasi agar mengetahui penyebab kecelakaan Lion Air PK-LQP itu. "Saya enggak mau kalau CVR enggak ditemukan. Saya maunya berusaha, kesulitan itu saya enggak anggap itu. Saya anggapnya tantangan," katanya.

Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza di Jakarta, Senin (5/11/2018), mengatakan Baruna Jaya I kembali ke pelabuhan untuk mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan pencarian.

"Kami terus evaluasi dan koordinasi bersama KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) dan Basarnas untuk kelanjutan misi SAR, termasuk perluasan area pencarian," ungkapnya, dilansir Antara, Senin.

Sementara itu, Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT M Ilyas mengatakan Kapal Riset Baruna Jaya I masih menggunakan Multi Beam Echo Sounder untuk memetakan lokasi yang diperkirakan terdapat CVR. Kemampuan teknologi ini bisa memetakan dasar laut hingga 11 kilometer (km).

"Sekali menyapu dasar laut bisa mendapatkan data image dan topografi dasar laut. Ini untuk mengidentifikasi objek dasar laut," ujar dia.

Pada kesempatan berbeda, Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Muhammad Syaugi mengatakan tim SAR gabungan pencarian dan evakuasi penumpang dan pesawat JT 610 akan berjuang untuk mengevakuasi semua penumpang. "Kami tetap berusaha sekuat tenaga dengan apa yang kami miliki, kami yakin bisa mengevakuasi semua korban," kata Syaugi dalam pertemuan antara tim SAR gabungan dengan keluarga penumpang di Hotel Ibis Cawang, Jakarta.

Syaugi menuturkan pihak tim SAR gabungan telah memperpanjang evakuasi terhadap penumpang dan pesawat Lion Air JT 610 hingga tiga hari ke depan. "Untuk melakukan pencarian ini saya tidak menyerah mudah-mudahan dengan waktu yang ada ini kami tetap all out walaupun sampai sepuluh hari nanti kalau masih ada kemungkinan untuk menemukan saya akan terus mencari saudara-saudara kami ini," ujarnya.

Sumber : Antara