PBB: Myanmar Belum Aman untuk Rohingya

Seorang warga Rohingya diwawancarai wartawan di Rakhine (Reuters/Simon Lewis)
04 November 2018 08:30 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, RAKHINEBadan bentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang khusus mengurusi pengungsi (UHCR) menentang kesepakatan baru antara Myanmar dan Bangladesh. Kedua negara tersebut sepakat memulai proses repatriasi alias pemulangan kembali pengungsi Rohingya dari Cox's Bazaar, Kutupalong, Bangladesh, ke Rakhine, Myanmar.

UNHCR menilai Myanmar belum sepenuhnya aman untuk pengungsi Rohingya. Pernyataan itu disampaikan untuk menentang proses repatriasi yang hendak dimulai pertengahan November 2018. PBB terus memperingatkan kemungkinan genosida yang terjadi kembali di Myanmar jika pengungsi Rohingya nekat dipulangkan.

Diwartakan The Guardian, Rabu (31/10/2018), Bangladesh menyerahkan data sekitar 5.000 pengungsi Rohingya kepada Myanmar untuk dipulangkan. Kabarnya, Myanmar telah menerima daftar tersebut dan segera mengambil tindakan. Namun, pihak UNHCR sama sekali tidak dilibatkan dalam kesepakatan itu. Padahal, sampai saat ini sejumlah pengungsi Rohingya menolak dipulangkan karena alasan keamanan.

"UNHCR tidak dilibatkan dalam proses repatriasi. Kami tidak tahu siapa saja orang Rohingya yang segera dipulangkan ke Myanmar. Namun, semestinya pemerintah Bangladesh berbicara terlebih dahulu kepada pengungsi Rohingya sebelum memulai proses repatriasi," kata juru bicara UNHCR, Andrej Mahecic.

Melihat kondisi Myanmar yang dinilai belum kondusif, UNHCR pun menolak memfasilitasi pemulangan pengungsi Rohingya. "Kami tidak akan memfasilitasi pemulangan pengungsi Rohingya ke Rakhine mengingat kondisi Myanmar yang belum kondusif," tegas Andrej Mahecic.