Asyiknya Belajar tentang Sejarah Uang di Museum BI Jakarta

Wisatawan membaca keterangan tentang sejarah De Javasche Bank di Museum Bank Indonesia Jakarta, Jumat (26/10 - 2018). (Solopos.com/AbdulJalil)
03 November 2018 14:45 WIB Abdul Jalil Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Gedung berarsitektur Eropa berdiri kokoh di Jalan Pintu Besar Utara No. 3 Jakarta Barat. Di depan pintu masuk gedung berwarna putih itu bertuliskan Museum Bank Indonesia (BI).

Beberapa orang terlihat memotret bangunan yang memiliki nilai sejarah itu, Jumat (26/10/2018). Dan sebagian lainnya berfoto selfie dengan mengambil background kemegahan bangunan bergaya Eropa tersebut. 

Setelah puas berfoto di luar gedung, para wisatawan itu masuk ke dalam museum. Saat masuk di dalam gedung yang dahulu menjadi tempat De Javasche Bank (DJB) atau bank sirkulasi yang didirikan Pemerintah Hindia Belanda pada 24 Januari 1828 itu, wisatawan langsung disuguhi beberapa patung atau manekin yang sedang melakukan aktivitas di bank.

Melihat manekin ditata pengelola museum, wisatawan kemudian berfoto di dekat manekin itu sambil bergaya. Selanjutnya, para wisatawan diajak belajar mengenai sejarah berdirinya Bank Indonesia hingga perkembangannya sampai saat ini melalui tayangan film pendek di studio mini di dalam museum. 

Melalui film pendek itu, wisatawan diajak untuk melihat dan diberi pengetahuan mengenai asal muasal Bank Indonesia. Dalam film pendek itu juga dijelaskan mengenai perjalanan perekonomian Indonesia dari mulai masa penjajahan hingga era reformasi. Film ini menjadi sepotong pengetahuan sebagai bekal nantinya saat menyusuri seluruh isi dalam museum.

Wisawatan selanjutnya diajak untuk menyusuri potongan-potongan sejarah yang telah ditata pengelola museum secara apik dan penuh kesan. Cahaya lampu yang telah ditata juga menjadikan nuansa di museum lebih hidup dan membawa wisatawan untuk melihat masa lalu. 

Di Museum Bank Indonesia ini tidak melulu berbicara asal muasal uang rupiah dan uang apa saja yang pernah beredar di bumi Nusantara. Namun, museum ini juga menampilkan kisah perjuangan pahlawan dalam mempertahankan kedaulatan khususnya di bidang perekonomian. 

Museum ini juga menampilkan kisah bagaimana aktivitas perbankan saat masa pemerintahan Hindia Belanda. Wisawatan juga bisa melihat koleksi uang kuno yang dimiliki museum ini mulai dari zaman kerajaan Nusantara, uang kolonial, uang pada zaman penjajahan Belanda, Jepang, hingga uang yang digunakan masyarakat Indonesia saat kemerdekaan.

Kalau sekarang nominal paling rendah yang dicetak yaitu Rp100 dan paling tinggi Rp100.000. Pada zaman itu, uang yang dikeluarkan pemerintah ada yang nilainya setengah rupiah. 

Uang kali pertama diterbitkan Pemerintah Indonesia yaitu Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) pada tahun 1946. Uang tersebut kemudian berkembang secara bertahap hingga menjadi sampai sekarang yang digunakan masyarakat sebagai alat pembayaran.

Para wisatawan bisa melihat ratusan koleksi uang baik koin maupun kertas yang tersimpan di museum. Pengelola juga menyediakan kaca pembesar untuk melihat lebih detail uang tersebut.

Setiap bagian di Museum Bank Indonesia seperti tak ada habisnya untuk dieksplorasi sejarahnya. Apalagi di setiap momen bersejarah divisualisasikan dengan cara apik dan menarik. Pengelola museum juga sepertinya paham atas kebutuhan pengunjung yang rentang usianya mulai anak-anak hingga dewasa. 

Ada di suatu ruangan khusus museum yang berbeda dari lainnya, pengelola menceritakan sejarah perekonomian bangsa hingga beragam uang yang digunakan masyarakat Indonesia dengan menampilkannya berupa komik. Sehingga sejarah tidak hanya digambarkan dengan cara monoton, tetapi juga disajikan dengan tampilan menarik yang ramah anak. 

Pengunjung pun seperti tak ada hentinya untuk merekam setiap gambaran momen bersejarah di museum itu. Berfoto selfie dengan berlatar belakang manekin para pelaku sejarah atau ikut masuk dalam satu frame dalam manekin yang diseting saat rapat koordinasi.

Replika Tokoh

Herminawati, salah satu pengunjung Museum Bank Indonesia terlihat serius saat memahami alur cerita yang disajikan di setiap momen perekonomian Indonesia. Selesai membaca keterangan gambar, wanita paruh baya itu mengeluarkan smartphone miliknya dan kemudian memotret gambar atau replika tokoh yang dipajang.

Setelah mendapatkan gambar yang dirasa sudah bagus, ia kemudian melanjutkan ke bagian berikutnya. Ia juga terlihat berfoto selfie dengan background replika tokoh. 

“Museum Bank Indonesia ini dikelola secara menarik. Saya awalnya sempat bertanya-tanya soal apa menariknya berkunjung ke Museum BI. Namun, saat memasuki museum anggapan saya berubah total. Museum ini sangat bagus dan menceritakan sejarah dengan detail,” kata Herminawati yang merupakan Kasie Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Solo itu. 

Menurut dia, museum ini tidak hanya menampilkan potongan sejarah tetapi juga menyuguhkan objek foto yang menarik. Dia mengaku mendapatkan banyak foto dengan angle yang beragam. Foto-foto itu akan menjadi sebuah kenangan dan saat senggang mungkin akan diunggahnya ke sosial media pribadinya. 

Dia beserta puluhan orang yang ikut dalam rombongan studi banding tim pengendali inflasi daerah (TPID) wilayah Soloraya sangat terkesan dengan cerita sejarah di museum itu. Menurutnya museum ini sangat cocok untuk kunjungan wisata pelajar dan keluarga. 

Pengelola Museum Bank Indonesia, Martin Hariman, mengatakan setiap hari pengunjung sekitar 1.000 sampai 2.000 orang. Pengunjung ini datang dari berbagai daerah. Selain wisatawan lokal, wisatawan mancanegara juga kerap mengunjungi museum. Untuk tiket masuk ke museum hanya Rp5.000 per orang.

Ada berbagai cara yang dilakukan pengelola untuk membuat museum menjadi ramai dan layak dikunjungi. Pengelola melengkapi koleksi museum yang mencapai 750.000 barang dengan studio mini yang berisi film-film sejarah perekonomian Indonesia. 

“Kami memiliki koleksi 750.000 buah itu ada yang berupa numismatik dan non-numismatik,” ujar dia saat berbincang dengan Espos, Jumat (26/10/2018). 

Martin menuturkan museum ini memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat terkait sejarah keuangan. Harus ada perubahan yang didapat saat sebelum datang ke museum dan setelah datang ke museum.

“Kita ikut membantu pengetahuan masyarakat. Itu untuk mengedukasi masyarakat. Jadi pengetahuan masyarakat tentang sejarah keuangan,” terang dia yang menyebut luas lahan Museum Bank Indonesia 11.000 hektare.