Perang Dagang Mereda, Rupiah Tinggalkan 15.000/dolar AS

Uang rupiah (Bisnis/Abdullah Azzam)
02 November 2018 18:20 WIB Mutiara Nabila Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Rupiah ditutup menguat tajam kembali ke posisi Rp14.900-an/dolar AS karena faktor eksternal mereda. Hal itu ditandai keluarnya Inggris dari Uni Eropa dengan damai dan ancaman tambahan tarif dagang dari Amerika Serikat kepada China yang masih memerlukan waktu.

Pada penutupan perdagangan Jumat (2/11/2018) rupiah ditutup menguat tajam 173 poin atau 1,15% menjadi Rp14.955 per dolar AS dan mencatatkan pelemahan di hadapan dolar AS mencapai 9,36% secara year-to-date (ytd).

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa penguatan rupiah kali ini karena data perekonomian domestik yang masih relatif baik. Bank Indonesia (BI) dan pemerintah tak henti melakukan sejumlah intervensi sepanjang tahun ini.

“BI dari 2 Mei sampai saat ini sudah melakukan intervensi, inflasi masih aman, NDF [Non-deliverable fund] juga sudah berjalan dan pasar merespons positif, dan surat berharga juga sudah berjalan semua, ini menjadi data positif yang menguatkan rupiah,” ujarnya kepada Bisnis/JIBI, Jumat (2/11/2018).

Selain itu faktor eksternal yang selama ini menjadi beban bagi pergerakan rupiah kini sudah ssedikit mereda dengan Inggris yang berhasil keluar dari Uni Eropa atau Brexit dengan damai dan terselesaikannya masalah Irlandia.

“Permasalahan Irlandia sudah terselesaikan, itu menguatkan mata uang pound si hadapan dolar AS. Kalau dilihat dari Uni Eropa juga Inggris dan Uni Eropa juga masih ada kerja sama baik dalam ekonomi juga dalam bidang militer sehingga Brexit itu membuat pasar berpandangan positif, bahkan mengalahkan isu perang dagang,” lanjutnya.

Perang dagang antara AS dan China yang digadang-gadang semakin memanas juga saat ini tidak dihiraukan oleh pelaku pasar. Pada awal Desember mendatang, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan mengeluarkan tarif tambahan pada sisa barang China yang belum masuk dalam daftar tarif jika pertemuan antar kedua presiden negara itu tidak membuahkan kesepakatan baru terkait dengan perdagangan.

“Itu masih lama, itu yang membuat rupiah mengalami penguatan,” tambahnya.

Namun, pada Jumat (2/11/2018) pukul 21.00 WIB masih ada data non-farm payroll (NFP) AS yang akan dirilis. Data tersebut diprediksi bisa kembali melemahkan rupiah dalam waktu dekat.