Wiranto Sebut Aksi Bela Tauhid Mubazir, Apa Perlu Lagi?

Kelapa Staf Presiden Moeldoko (kiri) berbincang dengan Menkopolhukam Wiranto dan Kepala BIN Budi Gunawan di Istana Negara Jakarta, Rabu (16/5 - 2018). (Antara / Wahyu Putro A)
02 November 2018 16:21 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, BOGOR -- Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto menyebut Aksi Bela Tauhid yang digelar pada Jumat (2/11/2018) merupakan tindakan yang mubazir. Namun, dia siap menemui perwakilan demonstran hari ini.

"Saya kan katakan tadi, apakah perlu lagi? Mubazir dengan apa perlu sama, bahasanya sama. Memang kita harapkan ya sayang sekali, berpanas-panasan untuk melakukan suatu tuntutan yang sudah dilakukan," kata Wiranto di Istana Kepresidenan Bogor, Jumat.

Meski begitu, Wiranto menyatakan tetap akan membuka ruang dialog dengan demonstran yang ingin menyampaikan aspirasinya tersebut. Dia bahkan berjanji akan menemui mereka dan mendengarkan apa saja yang menjadi tuntutan mereka.

"Walaupun demikian demo ya dilakukan baik-baik. Nanti saya terima, bicarakan, maunya apa lagi. Kan minta maaf sudah, diadili juga sudah dalam proses," tuturnya.

Wiranto menilai demonstrasi itu menuntut permintaan maaf dari pelaku pembakaran bendera sudah terjawab dengan proses hukum terhadap para pelaku di kepolisian.

"Dan saya sudah rapat, memang kita bisa minta kepada para pelaku untuk minta maaf, dan mereka sudah minta maaf. Tetapi bukan nggak diusut, diusut disidik oleh polisi, polisi juga mengusut, sehingga mereka menjadi tersangka menjadi tersangka tindak pidana nanti ya polisi lebih tahu, termasuk yang mana ini," ujarnya.

Permintaan maaf telah dilakukan tidak saja oleh pelaku, kata dia, bahkan organisasi induknya pun sudah menyesalkan terjadi hal seperti itu. "Sehingga ini semangat tabayun sudah ada, semangat untuk mencari kebenaran sudah jalan. Semangat ukhuwah islamiah, wathaniyah, kan sudah jalan," ucapnya.

Wiranto menyatakan siap untuk bertemu perwakilan demonstran dan membahas tuntutan mereka. Namun, dia menegaskan bahwa aksi massa tidak bisa memaksakan kehendak sebab demonstrasi sesuai aturan merupakan salah satu cara menyampaikan pendapat jika komunikasi sudah tidak bisa dilakukan.

"Dan demonstrasi itu enggak boleh membuat orang ketakutan, enggak boleh membuat kemudian masyarakat terganggu hak-hak mereka, nggak bisa mengganggu lalu lintas, memacetkan lalu lintas, membuat orang enggak bisa beraktivitas, membuat orang takut, enggak boleh," katanya.

Wiranto mempersilakan aksi memprotes pembakaran bendera tersebut dilakukan dengan catatan tetap tertib, elegan, dan tidak mengundang kegaduhan ataupun kekacauan. Dia juga berpesan agar seluruh pihak berempati dengan musibah yang sedang menimpa bangsa ini, mulai dari bencana alam hingga kecelakaan pesawat Lion Air baru-baru ini.

"Dalam keadaan prihatin ini hal-hal yang menyangkut permasalahan kita, kan seyogyanya kita perbincangkan dengan baik-baik sajalah," imbuh Wiranto.