Timnas U-19 dan Politikus Sontoloyo

Abu Nadhif - Dokumen Solopos
01 November 2018 19:37 WIB Abu Nadhif Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (30/10/2018). Esai ini karya Abu Nadhif, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah abu.nadhif@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Semangat Sumpah Pemuda tak cukup untuk membuat Indonesia mencetak sejarah tampil di Piala Dunia. Setelah bertarung habis-habisan selama 90 menit pada Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober lalu, Tim Nasional U-19 Indonesia harus mengakui keunggulan Jepang dengan skor 0-2.

Perjuangan tak mengenal lelah Sadil Ramdani dan kawan-kawan menegaskan sepak bola Indonesia memang beda level dengan Pasukan Samurai—julukan Jepang. Semangat saja tak cukup. Butuh kerja lebih keras untuk bisa selevel lalu memenangi pertandingan.

Impian berlaga di Piala Dunia U-20 Polandia sudah pupus. Tim nasional U-19 mengulangi nasib tim nasional U-16 yang sama-sama gagal di babak delapan besar.

Fakta membuktikan Jepang yang menggagalkan mimpi Indonesia tampil di piala dunia usia muda. Menurut saya, kegagalan tim Indonesia sebenarnya terjadi saat Indonesia kalah dari Qatar di pertandingan kedua babak penyisihan grup. Kekalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi kalau persoalan mental teratasi dengan baik.

Di situlah pentingnya peran pelatih. Pelatih tahu mana pemain yang siap main dan mana yang tidak. Kala melawan Qatar pertahanan Indonesia sangat rapuh. Babak pertama  ketinggalan 1-4. Pada lima belas menit babak kedua bertambah menjadi 1-6.

Baru setelah itu Indonesia bangkit dan membikin gol demi gol. Sayang, momentum bangkit itu terlambat. Ketika peluit akhir babak kedua ditiup wasit, Indonesia hanya bisa menambah empat gol sehingga kedudukan berakhir 5-6.

Kalau saat itu Indonesia tampil normal seperti ketika melawan Taiwan dan Uni Emirat Arab, sangat mungkin Indonesia bisa menang melawan Qatar karena secara kualitas dua tim setara. Kekalahan dari Qatar membuat Indonesia hanya menjadi runner up grup A sehingga harus bersua Jepang yang menjadi pemuncak grup B.

Hitungan Matematis

Kalau Indonesia tampil normal saat melawan Qatar—menang atau seri— bakal jadi juara grup A. Di perempat final lawannya adalah Korea Utara yang secara kualitas di bawah Jepang. Peluang ke babak semifinal Piala AFC—syarat untuk bisa tampil di Piala Dunia U-20 Polandia-- jelas lebih besar.

Itu hitungan matematisnya. Sepak bola bukan  matematika. Sepak bola adalah pembuktian di lapangan. Semua sudah terjadi. Impian Indonesia mengulang tampil di Piala Dunia U-20 pada 1979 pupus.

Egy Maulana dan kawan-kawan tetap pahlawan di hati jutaan warga Indonesia. Perjuangan mereka luar biasa. Mereka tampil gagah berani di level Asia. Kala melawan Jepang, Minggu (28/10), mereka menunjukkan semangat juang luar biasa. Kalah teknik diimbangi dengan spirit pantang menyerah. Para pemain tampil habis-habisan.

Semua anggota skuat tim U-19 Indonesia adalah pahlawan bangsa. Mereka telah berjuang menjadi yang terbaik demi nama baik bangsa dan negara. Tidak ada yang bermental sontoloyo, termasuk sang kapten Nur Hidayat. Nur memang membuat tiga blunder berbuah tiga gol bagi Qatar di babak penyisihan dan blunder kartu merah pada pertandingan terakhir melawan Uni Emirat Arab, tapi ia telah mendedikasikan jiwa raganya demi Indonesia.

Sehari sebelum melawan Jepang, pelatih Indra Sjafrie tahu menghadapi Pasukan Samurai bukan tentang teknik bermain melainkan persoalan mental. Ppelatih asal Padang, Sumatra Barat, itu memompa semangat juang dan mental anak-anak asuhnya. Hasilnya, Garuda Nusantara tampil mengesankan kendati akhirnya kalah.

"Namanya kalah ya kalah, mau skor berapa pun tetap saja kalah,” gerutu seorang kawan.

Sikap Mental

Saya memaklumi kekesalannya. Impian tampil di Piala Dunia U-20 yang tinggal selangkah lagi melayang begitu saja. Memang bukan soal menang kalah yang ingin saya bahas dalam tulisan kali ini, melainkan soal sikap mental.

Sejak tertinggal 1-6 ketika melawan Qatar, tim U-19 Indonesia pantang menyerah. Mereka terus berlari, merapikan kerja sama serangan, lalu mencetak gol demi gol. Dengan 10 pemain mereka bisa menaklukkan Uni Emirat Arab yang pada pertandingan sebelumnya mempecundangi Qatar. Demikian pula kala melawan Jepang. Sebelas pemain  tim U-19 Indonesia seolah-olah mempunyai cadangan tenaga dan oksigen untuk terus berlari dan menyerang.  

Keteladanan anak asuh Indra Sjafrie adalah pantang menyerah hingga detik terakhir. Persis seperti gelora para penjuang tempo dulu memerdekakan bangsa ini dari penjajah. Andaikan ketika melawan Qatar itu Garuda Muda hanya puas dengan gol keempat, misalnya, sudah pasti mereka yang tersingkir, bukan Uni Emirat Arab.

Begitulah Indonesia seharusnya. Semangat membara itu yang ditunjukkan para pejuang kita dulu. Tak kalah sebelum berjuang, pantang minder sebelum bertanding. Mereka berjuang untuk Indonesia melalui tindakan, bukan dengan ucapan seperti para politikus sontoloyo yang sering membuat gaduh negeri itu.

Optimisme itu pula yang seharusnya kita pupuk. Bukan pesimis bahwa Indonesia akan hancur 10 tahun atau 20 tahun lagi. Data-data tentang potensi kegagalan bukan untuk menakut-nakuti melainkan untuk dicarikan antisipasi. 

Saya tidak ingin terjebak dalam kooptasi politik yang karut-marut beberapa waktu terakhir. Saya menghindari memperdebatkan kontestasi politik antara calon presiden petahana, Joko Widodo, dengan penantangnya, Prabowo Subianto.

Kalau ada yang bertanya “kamu memilih capres siapa” tentu sebagai warga negara saya punya preferensi politik. Itu bersifat rahasia. Siapa yang saya pilih adalah  hak privasi saya nanti di bilik suara.

Sebagai seorang jurnalis saya harus menjaga independensi agar tetap setia kepada nurani. Kesetiaan kepada nurani itu yang akan menuntun saya bersikap adil. Jika ada yang baik pada petahana akan saya dukung, jika ada yang tak baik saya kritik. Begitu pun pada kubu oposisi, jika ada yang baik saya apresiasi dan jika ada yang tidak baik tentu saya ingatkan.

Optimisme

Saya sedang berbicara tentang optimisme. Soal hasil akhir itu hak prerogatif Tuhan. Kita diberi kebebasan untuk memaksimalkan proses. "Tidaklah Allah mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mengubah nasibnya sendiri" (QS Ar Raad ayat 11).

Jika Allah SWT saja menyerahkan proses sepenuhnya kepada manusia, kenapa masih ada pesimisme pada diri kita? Menang kalah urusan belakang, hancur atau jaya urusan nanti, yang penting maju terus pantang mundur. 

Ada slogan di markas militer yang menarik untuk dijadikan panutan. “Kami bukanlah prajurit hebat tapi kami prajurit terlatih. Pantang kami pulang tanpa membawa kehormatan.” 

Menang kalah bukan soal. Kehormatan lebih penting. Menang terhormat kalah pun dengan terhormat. Pulang dengan kepala tegak laksana pejuang, bukan dengan muka tertekuk bak pecundang.

Kita harus punya harga diri sebagai bangsa. Jika kondisi Indonesia lebih buruk pada masa mendatang, setidaknya anak cucu mencatat bahwa nenek moyang mereka dulu berjuang, bukan hanya ongkang-ongkang kaki. 

Beberapa hari lalu calon presiden Joko Widodo mengeluarkan pernyataan yang langsung memicu perdebatan panas. Politikus sontoloyo, kata dia. Politikus jenis itu diidentikkan dengan mereka yang kerap menebar fitnah, mencari-cari kesalahan untuk bahan kampanye, menebar permusuhan, dan lain sebagainya.

Telunjuk publik langsung mengarah ke lawan politiknya, kubu Prabowo Subianto. Seolah-olah para politikus di bawah bendera oposisi itu sontoloyo semua, padahal sama saja. Banyak politikus di kubu pemerintah yang bermental sontoloyo.

Penangkapan demi penangkapan yang dilakukan aparat Komisi Pemberantasan Korupsi buktinya. Mereka yang ditahan karena berbagai kasus korupsi itu berasal dari kedua kubu. Mereka semuanya sontoloyo. Berbicara seolah-olah mewakili kepentingan bangsa dan negara tapi bertindak bak benalu negara. Menampilkan diri sebagai pahlawan padahal sejatinya pecundang.

Tikus Tak Kenal Lelah

Berbeda dengan pasukan Indra Sjafrie yang habis-habisan di lapangan demi bendera Merah Putih, para politikus sontoloyo justru menjelma menjadi tikus-tikus yang tak kenal lelah menggerogoti keuangan negara.

Kita menjadi saksi para pejuang lapangan hijau telah melakukan apa yang mereka bisa untuk Indonesia. Mereka tak berpikir kaki bakal patah, jantung akan copot karena harus berlari tanpa henti selama 90 menit. Yang ada di benak mereka hanya satu: Indonesia! 

Mereka lahir dan besar di Indonesia. Darah dan jiwa mereka terukir dari hasil bumi Indonesia. Mereka lahir dan akan mati di Indonesia. Jadi selagi nyawa masih dikandung badan, apapun mereka persembahkan untuk negeri tercinta.

Sebagai insan beragama mereka sadar cinta Tanah Air adalah bagian dari jihad. Sebagaimana dulu para ulama menggelorakan semangat jihad itu untuk mempersuasi rakyat mengusir penjajah. 

Ini pelajaran berharga yang kita petik dari karya kecil Indra Sjafrie, pelatih yang bukan saja pandai mengajarkan teknik-teknik bermain bola tapi juga piawai menyuntikkan motivasi.

Falsafah sepak bola ini bisa diterapkan dalam konteks politik. Optimisme harus dibangun terus menerus tanpa henti. Indonesia memang belum lepas dari status negara berkembang. Begitu banyak yang harus diperbaiki agar bangsa dan negara ini sejajar dengan negara-negara maju.

Tapi tidak ada yang tak mungkin. Kuncinya adalah berpikir positif, optimis, saling bekerja sama. Sudahi mencari kesalahan lawan politik, setop berebut benar. Hentikan menebar fitnah sesama anak negeri. Mari berbuat demi Indonesia jaya.