Sumpah Pemuda yang Kian Usang

Lardianto Budhi - Istimewa
31 Oktober 2018 18:30 WIB Lardianto Budhi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (29/10/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri dan Ketua Karang Taruna Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah s.ps.pandamdriyo@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Jujur saja, sebenarnya saya tidak begitu yakin spirit dan ”tuah” Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 masih bisa diampflifikasi pada saat sekarang. Saya tidak menganggap Sumpah Pemuda telah kehilangan makna atau tidak relevan dengan kondisi mutakhir kehidupan berbangsa kita.

Bukan pula karena saya tidak memahami kedahsyatan tiga pasal wigati hasil diskusi kaum muda bangsa Indonesia pada saat itu, yakni 1). Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu tanah air Indonesia. 2). Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. 3). Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Saya seperti mulai dihinggapi semacam perasaan galau dengan konsentrasi bangsa kita dalam menempatkan dan memetakan diri terkait dengan kelangsungan dan nasib perjalanan sebagai sebuah bangsa di tengah dinamika zaman.

Saya berasumsi keberhasilan para pemuda dari berbagai daerah saat itu mengorganisasi diri dan mengikrarkan tiga sumpah tersebut dilandasi kesamaan pandangan dan iktikad mulia mengenai betapa vital dan pentingnya membangun perasaan ”merasa satu”, yaitu satu bagian keluarga besar bangsa Indonesia.

Hasil Kongres Pemuda II tersebut menjadi embrio tumbuhnya kesadaran kebangsaan dan nasionalisme sehingga 17 tahun sesudahnya, telinga dunia internasional mendengar proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tentu sumpah pemuda bukanlah satu-satunya faktor keberhasilan perjuangan bangsa kita melepaskan diri dari belenggu penjajahan.

Saya yakin kita semua setuju bahwa persatuan dan kesatuan adalah modal paling menentukan keberhasilan perjuangan bangsa kita. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang diinisiasi oleh berbagai macam elemen pemuda se- Nusantara, antara lain Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Betawi, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Islamieten Bond, dan lain-lain itu menjadi tonggak sejarah pergerakan nasional.

Hal yang paling utama adalah karena kesigapan kaum muda Indonesia untuk mengesampingkan perbedaan dan lebih menomorsatukan iktikad baik untuk mendesain rasa persatuan demi mewujudkan kekuatan untuk bangkit melawan penjajahan. Sikap ini sekaligus memperlihatkan kebesaran dan kedewasaan para pemuda bangsa Indonesia era 1930-an dalam melihat dan menerima kondisi riil bangsa Indonesia yang sangat majemuk.

Ketika perlawanan terhadap kaum kolonial di berbagai tempat di Indonesia selalu mengalami kegagalan karena faktor kedaerahan dan primordialisme yang kental, kaum muda masa itu yang notabene sebagai kelompok terpelajar segera sigap mengambil tindakan untuk mengorganisasi diri.

Para pemuda dari berbagai daerah dan kelompok di Indonesia itu seolah-olah sama-sama mengamini bahwa dengan alasan apa pun perpecahan hanya akan membuat bangunan masyarakat, baik dalam skala lokal maupun nasional, menjadi rapuh dan lemah. Oleh karena itu, mereka mengambil langkah maju mengikatkan diri bersama-sama dan mengikrarkan sumpah.

Gejala Sosial Mutakhir

Ketika menulis artikel yang saya maksudkan untuk merefleksikan Sumpah Pemuda ini, saya sedang mendengar perbincangan beberapa teman mengenai pemilihan presiden dan hoaks. Sekilas saya mengetahui betapa riuh dan ramainya berita-berita di media sosial seputar hal yang sama.

Terus terang, saya tidak mengikuti berita-berita itu secara intensif, kecuali secara kebetulan mendengar perbincangan teman di tempat kerja, obrolan orang di warung-warung, di gardu pos keamanan lingkungan, atau di arisan warga rukun tetangga di tempat tinggal saya.

Perasaan, pikiran, dan mental saya sepertinya sangat lemah untuk menampung berbagai berita itu, sebab saya menangkap gejala ada ketegangan yang makin meruncing yang dalam pandangan saya cukup potensial melahirkan konflik sosial.

Oleh sebab itu, saya memilih agak menjauh saja dari pusaran isu yang terkait dengan pemilihan presiden tersebut. Sikap seperti ini mungkin tidak tepat dalam hubungannya dengan kedudukan saya sebagai warga negara yang mempunyai hak pilih. Bagaimana akan memilih pemimpin kalau tidak punya pengetahuan tentang siapa yang akan dipilih?

Saya memahami perihal ini, tapi saya mempunyai cara dan pilihan sikap sendiri sebagai landasan untuk memilih pemimpin negeri saya. Sedemikian masifnya penggiringgan opini publik terhadap pemilihan presiden pada 2019 mendatang sehingga membuat kita seolah-olah tak punya waktu lagi untuk melakukan pemaknaan terhadap salah satu peristiwa sejarah bangsa yang penting seperti halnya Sumpah pemuda.

Peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober dari waktu ke waktu seakan-akan kehilangan kedalaman makna kecuali hanya berupa kegiatan seremonial upacara bendera. Ironisnya, gejala sosial yang berkembang kini justru mengarah pada situasi disintegrasi sosial akibat perbedaan cara pandang atau respons berbagai macam elemen masyarakat dalam menyikapi fenomena sosial dan politik.

Reaksi terhadap peristiwa pembakaran bendera beberapa waktu yang lalu memperlihatkan bagaimana tensi sosial masyarakat kita ternyata sangat tinggi. Saya tidak sedang menyatakan membenarkan atau tidak membenarkan pembakaran bendera yang menyulut kontroversi itu.

Saya hanya ingin menekankan apakah tidak sebaiknya bila setiap peristiwa dan kejadian yang mengandung sensitivitas cukup tinggi seperti itu sebaiknya diselesaikan dengan pendekatan komunikasi yang lebih mengedepankan tabayyun, bukan justru membawa ke ranah sosial yang bisa memicu pergesekan dan benturan?

Setiap masyarakat membutuhkan momentum untuk selalu berbenah dari waktu ke waktu, dan momentum Sumpah Pemuda sekarang rasanya sangat relevan dengan persoalan kebangsaan kita pada saat ini. Generasi muda harus mengambil peran mengemban tugas sebagai pencetus gagasan besar untuk mewujudkan tatanan masyarakat berbangsa yang dilandasi semangat kesatuan di tengah ancaman disintegrasi terhadap kebinekaan yang kita miliki.