Makna Sontoloyo dalam Politik Mutakhir

Langit Kresna Hariadi - Istimewa
31 Oktober 2018 12:43 WIB Langit Kresna Hariadi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/10/2018). Esai ini karya Langit Kresna Hariadi, penulis novel dan esai. Alamat e-mail penulis adalah langitkresnahariadi@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Kontol kambing adalah hal yang akrab dengan kehidupan saya pada masa saya masih bocah. Kontol kambing yang meski secara harfiah berarti alat kelamin kambing jantan tak membuat para perempuan dan gadis merasa risi mengucapkan frasa itu.

Jika di sebuah warung ada seseorang bilang ”tumbas konthol” bisa dipastikan yang dimaksud adalah membeli makanan bernama kontol kambing. Itu bukan makanan olahan berbahan baku buah pelir kambing.

Saya pastikan bentuk bendanya berbeda namun isinya mirip isi bakpia. Jenis makanan macam itu celakanya kini telah memudar pamornya. Setelah setengah abad berlalu, amat sulit menemukan makanan itu.

Selanjutnya, frasa turuk bintul betapa kurang ajar artinya. Kosakata bahsa Jawa itu berarti bintul di alat kelamin perempuan. Para kakek dan nenek Anda yang menghabiskan masa muda di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pasti masih menyimpan kenangan jenis jajanan amat khas itu.

Siapa pun tak perlu merasa risi mengucapkan frasa ketika berbelanja penganan tersebut di pasar-pasar tradisional. Masih di DIY, ada pekerjaan pada masa lalu yang kini sudah tak ada jejaknya. ”Kamu bajingan” sebelum mengalami perubahan makna sebagaimana arti umpatan yang kita kenal sekarang pada dulu berarti ”kamu bekerja sebagai sais cikar.”

Pada masa saya masih bocah, saya menyimpan kenangan atas kendaraan atau alat angkut bernama cikar yang memiliki lingkaran roda sangat besar yang bagian terluarnya terbuat dari besi, ditarik dua ekor sapi yang perkasa. Jika melintas di jalanan berbatu di depan rumah saya, suaranya gemuruh dan sangat merusak.

Dilindas oleh alat angkut itu, batu sekepalan tangan bisa hancur. Pada kemudian hari, roda cikar yang terbuat dari besi diganti menggunakan ban mobil, namanya tetap cikar. Jangan salah paham dan tersinggung, sais dari alat angkut inilah yang pada zaman itu disebut bajingan.

Perhatikan kalimat dalam bahasa Jawa ini,”Ana cikar mlaku ngidul kok bajinganne ora ana.” Artinya, ada cikar berjalan ke selatan tetapi sopirnya tidak ada. Di Pasar Beringharjo, Jogja, pada 1960-an, Anda akan bertemu dengan perempuan yang menggelar dagangan bernama bajingan.

Bersumbu Pendek

Bajingan itu ternyata nama jenis makanan. Di Temanggung, Jawa Tengah, juga ada makanan bernama bajingan yang bagai menjadi kudapan wajib pada bulan puasa. Ketika bajingan itu bermetamorfosis menjadi makian, bertanyalah kepada bajing (kata lain tupai, tanpa akhiran -an). Bajinglah sebenarnya pihak yang paling berhak marah saat namanya berubah menjadi mahakasar setelah mendapat akhiran -an. Ucapan ”bajingan” yang dilontarkan kepada pihak bersumbu pendek bisa menjadi pemicu terjadinya pertumpahan darah.

Pada saat itulah, bajing pengerat kelapa melontarkan keberatan,”Apa salah saya?” Lain Jogja lain Surabaya. Di Kota Pahlawan ada kata makian yang bobotnya sungguh kasar. Mahakasar malah, yaitu ”jancuk!” Kalau diurai dari asalnya, ”jancuk” berasal dari kata ”diencuk” yang kemudian muncul kata bentukan ”ngencuk” yang artinya berhubungan seks.

Makna kata ”diencuk” apabila tidak dilakukan dengan sama-sama suka mungkin berarti diperkosa. Kata makian sangat khas dari Surabaya itu mengalami perubahan makna yang semula makian justru menjadi salam rasa persahabatan. Orang-orang penting Surabaya biasa menggunakan.

Orang dari luar Surabaya yang justru jengah ketika ditantang untuk mengucapkan kata itu. ”Jancuk, suwe gak ketemu, yok apa kabar, rek?” Bandingkan dengan mata. Sebutan dari indra untuk melihat ini bila diucapkan dengan latar marah menjadi makian yang sungguh sadis.

”Matamu” yang diucapkan atas nama kemarahan akan menciptakan makna yang mahakasar. Berbeda sekali dengan hidung, atau jantung, atau telinga. Jika Anda memaki orang dengan umpatan ”hidungmu”, misalnya, yang tercipta justru kebingungan. Percayakah Anda, bahwa di tatar Sunda ”bangsat” itu pada awalnya tidak diartikan sebagai makian?

Orang Parahyangan memaknai bangsat itu maling. Awas ada bangsat artinya awas ada maling. Cobalah lontarkan kata itu kepada seseorang yang bukan dari tatar Sunda, bisa jadi akan terjadi peristiwa berdarah yang menjarah nyawa Anda.

Apabila makian macam itu dilontarkan di Madura kepada orang-orang yang sangat menjaga ghirah, maka yang akan terjadi adalah carok, celurit berhadapan dengan celurit, berdarah-darah. Majalah Tempo pada suatu hari dan suatu tahun memuat artikel dengan judul Ada Bangsat di Sidang Akbar yang ditulis oleh Luhut M.P. Pangaribuan.

Ini sungguh artikel yang menghunjam dalam di benak saya. Sidangnya adalah sidang Akbar Tanjung dalam kasus korupsi, makian bangsat itu semula meletup dari mulut jaksa versus pembela Akbar.

”Bangsat, Lu,” umpat salah satu pihak dari mereka

”Lu yang bangsat,” balas salah satu dari mereka.

Anehnya, cara bersidang semacam itu ternyata tidak dilihat sebagai contemp of court.

Penggembala Bebek

Masih pada masa saya kanak-kanak, saya akrab dengan para tetangga yang mengambil pilihan pekerjaan sebagai peternak bebek. Ketika mereka hendak memberi makan bebek, digiringlah barisan bebek-bebek itu mencari makanan di sawah atau di sungai.

Kalau jumlahnya cuma 100 ekor, ya kecillah. Lhah, kalau jumlahnya 500 ekor, betapa harus sabar penggembalanya. Angon bebek ini bukanlah pekerjaan yang punah seperti kusir cikar yang sebutannya telah mengalami pergeseran arti.

Pada masa kini masih banyak kita temui orang yang menggembala bebek. Para penggembala bebek inilah yang sesungguhnya berposisi sebagai pihak paling murka atas perubahan makna karena nama pekerjaan mereka menjadi sebuah makian.

Ketika bajingan yang semula nama kusir cikar dan nama makanan mengalami perubahan arti yang kasar, kata ”sontoloyo” belum mewakili lontaran amarah meski diucapkan dengan amat keras sambil melotot. Di DIY masih banyak yang menyebut ”sontoloyo” sebagai sebutan untuk penggembala bebek.

Di Solo dan sekitarnya, kata itu sudah jarang digunakan. Orang di luar DIY menyebut sontoloyo adalah peternak bebek. Banyak orang yang tidak paham ketika mendapat penjelasan pekerjaan  yang digeluti adalah sontoloyo. Geger baru terjadi ketika Presiden Joko Widodo dalam kalimatnya mengucapkan kata ”sontoloyo”.

”Hati-hati banyak politik yang baik-baik, tetapi banyak juga politik yang sontoloyo. Ini saya ngomong apa adanya saja sehingga mari kita sharing, kita filter, mana yang betul dan mana yang tidak betul karena masyarakat kita saat ini semakin matang dalam berpolitik,” kata Presiden Joko Widodo.

Kata ”sontoloyo” yang semula hanya pelampiasan kejengkelan Presiden Joko Widodo ditanggapi gegap gempita seolah-olah Presiden Joko Widodo melontarkan kata-kata kasar. Presiden dinilai tak santun karena telah tega memaki.

Ada banyak komentar dari para politikus yang menyebut Presiden Joko Widodo sangat tidak pantas mengucapkan itu tanpa memahami makna kata ”sontoloyo” yang sebenarnya. Ini sungguh tidak fair jika dibandingkan bagaimana orang saling memaki di acara Indonesia Lawyer Club.

Bahwa Presiden Joko Widodo menggunakan kosa kata ”sontoloyo” sebagai umpatan saya mengatakan ya, tetapi saya yakin kosakata sontoloyo itu merupakan pilihan umpatan yang terukur dan tidak perlu menyinggung perasaan siapa pun. Tidak percaya?

Reaksi

Datanglah ke Malioboro, Jogja, maka Anda akan banyak bertemu dengan orang yang amat ringan meletupkan kata sontoloyo. Akan tersinggung bagaimana lha wong ”sontoloyo” itu hanyalah pekerjaan sebagai penggembala bebek. Anda melontarkan makian ”dasar sontoloyo” itu seringan Anda mengucapkan ”dasar kusir” yang sama sekali tidak bermuatan makian.

Frasa ”dasar sontoloyo” dan frasa ”dasar kusir” menjadi makian bergantung pada suasana batiniah pengucapnya. Dengan tegas saya katakan bahwa sontoloyo bukanlah kosakata kasar, meskipun secara mata telanjang kita melihat Presiden Joko Widodo menggunakan kata itu mewakili perasaannya.  

Berbeda dengan  frasa ”dasar bajingan yang sudah mengalami perubahan membaku sebagai umpatan. Apakah Anda akan marah ketika Presiden Joko Widodo menggunakan frasa ”dasar jempol kaki”, ”dasar kayu lapuk”, ”dasar gitar tua”, atau ”dasar mobil mogok”?

Datanglah ke Kota Jogja, berwisatalah ke Malioboro dan mampirlah ke Pasar Beringharjo, lalu tersenyumlah kepada siapa pun, lalu melototlah dalam ekspresi marah sambil mengucapkan,”Sontoloyo!”

Perhatikan reaksi yang akan Anda terima. Atau pilihan kedua, datanglah ke Kota Jogja, telusurilah sepanjang Jl. Malioboro, hampirilah seseorang, lalu dengan sesungging senyum berucaplah kepada orang itu,”Sontoloyo.” Lihatlah bagaimana reaksi orang itu. Salam sontoloyo!