Sebelum Tragedi Lion Air, Boeing 737 MAX Pernah Bermasalah Jelang Pengiriman

Ilustrasi pesawat 737 MAX milik Lion Air (www.boeing.com)
30 Oktober 2018 21:00 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 di perairan Tanjung Karawang, Senin (30/10/2018) pagi, adalah kecelakaan pertama yang dialami seri pesawat Boeing 737 MAX. Namun sebelum kejadian fatal itu, jenis pesawat yang mengudara sejak 2016 ini pernah di-grounded karena masalah mesin.

Dilansir seattletimes.com, 10 Mei 2017 lalu, muncul masalah hanya beberapa hari sebelum Boeing mengirimkan 737 MAX untuk kali pertama. Saat itu, diduga ada masalah pada piringan logam dalam mesin LEAP yang berpotensi berujung keretakan. Mesin ini dibuat oleh CFM Internasional, pabrikan pembuat mesin jet yang berbasis di Ohio, AS.

Meski mengaku tidak menemukan masalah apapun selama uji terbang pesawat tersebut sejak Januari 2016, Boeing memutuskan untuk menahan seluruh 737 MAX untuk tidak terbang. "Karena ada banyak peringatan, kami memutuskan untuk sementara membatalkan penerbangan MAX," kata Juru Bicara Boeung Doug Alder.

Saat itu sebanyak 25 pesawat Boeing 737 MAX baik untuk uji coba maupun yang siap dikirim ke perusahaan pemesannya, diparkir di pangkalan Boeing dan Bandara Renton Municipal untuk menjalani tes. Boeing mengirimkan mesin-mesinnya ke fasilitas CFM Internasional di Lafayette, Indiana, dan Villaroche, Prancis.

Jubir CFM, Jamie Jewell, mengatakan inspektornya menemukan anomali dalam proses penempaan piringan baja tersebut dalam proses produksi. “Itu bisa memicu keretakan,” kata Jewell.

Meski demikian, Jewell memastikan masalah itu tidak pernah muncul dalam tes terbang selama lebih dari 2.000 jam oleh Boeing maupun 300 jam oleh CFM. Jewell tidak menyebutkan berapa banyak mesin jet untuk Boeing yang perlu diperiksa ulang, namun menurutnya hanya sedikit.Mesin-mesin bermasalah itu rencananya mengalami penggantian piringan baja dan butuh waktu beberapa lama.

Pengiriman pesawat Boeing 737 MAX pertama adalah untuk Malindo Air, anak perusahaan Lion Air yang dijadwalkan dilakukan pada pekan berikutnya. Boeing juga menyatakan pengiriman itu tetap berjalan. Sedangkan pengiriman kedua adalah untuk maskapai Norwegian Air pada Mei 2016. Artinya, saat itu Boeing harus memiliki empat mesin yang siap diterbangkan.

Sementara itu, masalah kedua dilaporkan muncul pada pesawat Boeing 737 Max milik Jet Airways India. Dilansir livemint.com 8 Juli 2018 lalu, pesawat itu di-grounded selama 36 jam setelah mendarat dari penerbangan rute Tiruchirappalli-Mumbai pada Jumat 6 Juli 2018 dini hari.

Pilot pesawat 737 Max yang menjalani rute Jet Airways nomor penerbangan 9W 311 dari Tiruchirappalli ke Mumbai itu melaporkan masalah mesin setelah mendarat di Mumbai. Rupanya ini adalah masalah kedua yang dialami pesawat 737 MAX milik Jet Airways. Pada 3 Juli, mesin kiri pesawat itu bermasalah setelah menabrak burung dalam penerbangan dari Mumbai ke Chennai dan membuat pesawat itu harus di-grounded hampir sehari.

Terbaru, pesawat 737 MAX milik Lion Air yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin lalu, dilaporkan mengalami masalah pada penerbangan sebelumnya. Data penerbangan yang terekam di laman Flightradar24 menunjukkan pada Minggu (28/10/2018) pesawat ini menjalani penerbangan rute Manado-Denpasar dan Denpasar-Jakarta.

Dilansir Reuters, CEO Lion Air Edward Sirait mengakui adanya masalah teknis tersebut. Namun menurutnya hal itu sudah diatasi sesuai prosedur.

"Pesawat ini sebelumnya terbang dari Denpasar ke Cengkareng [Jakarta]. Ada laporan masalah teknis yang sudah diatasi sesuai prosedur," kata Edward Sirait kepada wartawan, Senin, yang dilansir Reuters. Namun dia tidak menyebutkan lebih rinci tentang masalah teknis pada pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP itu.

Sumber : Newswire