Bahasa Indonesia di Tengah Xenomania

Vilya Lakstian Catra Mulia - Istimewa
24 Oktober 2018 20:24 WIB Vilya Lakstian Catra Mulia Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (18/10/2018). Esai ini karya Vilya Lakstian Catra Mulia, dosen Linguistik di Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah vilyalakstian@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Kebanggaan menjadi bagian Indonesia penting untuk selalu kita junjung. Para pendahulu bangsa ini berjuang agar lepas dari belenggu asing. Mereka turun ke jalan, perang mengangkat senjata, sampai diplomasi. Semua itu tidak lain hanya untuk memperoleh kemerdekaan. 

Unsur-unsur yang membuat negeri ini merdeka diutamakan. Sumpah Pemuda menjadi penanda mengutamakan unsur-unsur kemerdekaan. Momentum ini menjadi penguat kita semua sebagai warga negara merdeka yang lahir dan dibesarkan di negeri sendiri.

Semangat ini diakui bersama menjadi satu bangsa tanpa melihat perbedaan. Bahasa menjadi sesuatu yang dijunjung bersama sebagai bentuk persatuan untuk merdeka melepaskan diri dari penjajahan. Sungguh mengesankan, para putra bangsa dari berbagai daerah di Nusantara berkumpul mengikrarkan Sumpah Pemuda di tengah kondisi negeri yang masih dijajah.

Setelah berjuang dan merdeka, sayangnya sampai saat ini pun kita masih berjuang untuk lepas dari dominasi unsur asing. Hal ini dialami oleh bahasa persatuan kita. Menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sebagaimana dirumuskan para pemuda dahulu merupakan ketulusan kolektif yang luar biasa dari para putra daerah.

Masih hangat fenomena kebahasaan ”anak Jakarta Selatan” atau “anak Jaksel” yang mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing yang tidak keruan. Berbagai parodi dan meme muncul di media sosial bertema gaya bahasa ”anak Jaksel”. Apakah itu lucu?

Jangan-jangan kita tidak menyadari xenomania hadir di antara kita. Saya tidak yakin sebagian besar di antara kita tidak menyadari. Xenomania adalah kesukaan berlebihan terhadap segala sesuatu yang asing atau dari luar negeri. Melihat meme yang tersebar di media sosial, sebetulnya kita sadar bahwa gaya berbahasa ini terasa aneh.

Fenomena Kebahasaan

Oleh karena itu, sungguh menggelitik ketika fenomena ini malah begitu populer dan tersebar di tengah masyarakat. Antara menahan tawa dan merasa khawatir di bercampur aduk mengetahui fenomena kebahasaan seperti itu. Fenomena kebahasaan ”anak Jaksel” adalah salah satu masalah bahasa yang tampak dalam pergaulan generasi muda era kini.

Beragam masalah kebahasaan masih banyak ditemui ruang publik kita. Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara belum menjadi prioritas di ruang publik, padahal justru di ruang publiklah kita semua bertemu. Bahasa asing masih mendominasi nama bangunan, lembaga, produk, dan objek-objek penanda ruang publik lainya.

Pelaku fenomena ini tidak hanya swasta. Pemerintah sebagai penyedia infrastruktur dan fasilitas umum juga terbiasa dengan istilah asing. Ini dapat dilihat ketika masyarakat sering mengucapkan istilah seperti flyover, underpass, overpass, ring road, mass rapid transit, dan skybridge daripada padanan kata dalam bahasa Indonesia yaitu jalan layang, lintas bawah, lintas atas, jalan lingkar, moda raya terpadu, dan kalayang.

Mengapa ruang publik malah melayani bahasa asing daripada memberi contoh kebanggaan berbahasa Indonesia sebagai identitas bangsa? Dahulu para pahlawan berjuang lepas dari unsur asing, tapi sekarang kita malah akrab lagi dengan hal-hal yang asing.

Saking pentingnya, bahasa disejajarkan dengan bendera dan lambang negara sebagai penanda kedaulatan. Ini dicantumkan dalam UU No. 24/2009 yang mengamanatkan penggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara pada forum nasional atau internasional (Pasal 32); penamaan bangunan, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, dan organisasi (Pasal 36); produk barang atau jasa produksi yang beredar di Indonesia (Pasal 37); hingga rambu umum, penunjuk arah, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi yang merupakan pelayanan umum (Pasal 38).

Penting mengutamakan bahasa negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang kita butuhkan bukan zaman now, tetapi kekinian. Sikap menjadi hal krusial yang harus segera diubah menuju peradaban bangsa yang baik dan memiliki karakter.

Pasal 44 pada UU tersebut mengatur tentang peningkatan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Inilah semangat kekinian yang kita butuhkan untuk memainkan peran penting di dunia.

Antisipasi

Mengutamakan bahasa negara perlu digiatkan bersama sebagai bentuk kekuatan bangsa yang bermartabat. Hal ini juga membuat bahasa Indonesia menjadi tuan di negerinya sendiri. Kemampuan berbahasa asing melancarkan komunikasi kita dengan warga dunia, tetapi sebagai bagian dari warga dunia kita memiliki identitas yang perlu diketahui orang asing.

Untuk menjaga eksistensi dan dominasi bahasa Indonesia di ruang publik, pelaksanaan berbahasa negara didukung oleh penerapan kaidah dan tipografi yang tepat. Kehadiran bahasa asing jangan sampai melemahkan kedudukan bahasa negara.

Secara fisik, di ruang publik, penulisan disusun secara berjenjang. Bahasa Indonesia diletakkan di posisi atas dengan ukuran lebih besar dan warna lebih mencolok, kemudian diikuti oleh bahasa daerah atau bahasa asing dengan ukuran yang lebih kecil.

Pengutamaan bahasa Indonesia saat ini juga perlu disadari di ruang media sosial, apalagi saat ini adalah tahun politik ketika sikap berbahasa menjadi perangkat dalam mengajak para calon pemilih. Berbagai cara dilakukan. Bahasa dimodifikasi sedemikian rupa oleh tim pemenangan agar dapat mengarahkan masyarakat untuk memilih kandidat pemimpin.

Mereka menggunakan adalah bahasa Indonesia, kita juga harus memiliki pendirian untuk menjaga ”kesucian” bahasa negara yang telah diusahakan para pahlawan kita. Bahasa Indonesia jangan ikut berperan dalam penyebaran berita bohong dan kata-kata bermakna tidak baik.

Aktivitas berbahasa akan selalu terekam. Beberapa kamus menampilkan proses suatu kata hadir di masyarakat dengan melihat sejarah kemunculannya seperti dalam Dictionary of Word Origins dan  Merriam-Webster Dictionary. Dalam kamus-kamus tersebut kata ditelusuri dari kutipan media massa, rekaman peristiwa, hingga pidato.

Korpus

Selain kamus, ujaran tertulis atau lisan dikumpulkan dalam dokumen yang disebut korpus. Kumpulan korpus (korpora) merekam perjalanan bahasa dari masa ke masa. Google memiliki Google Ngram Viewer yang menampilan frekuensi kemunculan kata dalam rentang tahun.

Saat ini, frekuensi kata diambil dari berbagai teks korpus Google berbahasa Inggris, Tiongkok, Ibrani, Jerman, Spanyol, dan Rusia. Keberadaan media sosial saat ini menjadikan lebih mudah merekam riwayat kata. Hal ini patut diperhatikan.

Jangan sampai pada kemudian hari ketika ada suatu kata yang bermakna tidak baik, lalu dikenal sampai di negeri lain dan ternyata setelah ditelusuri kata itu berasal dari bahasa Indonesia. Menjaga kebaikan bahasa Indonesia adalah wujud penghargaan terhadap jasa para pahlawan yang memperjuangkan persatuan dan kemerdekaan yang meliputi jalur kebahasaan.

Ikhtiar ini juga untuk melindungi martabat dan identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbahasa Indonesia dan kaya bahasa daerah. Akhirnya, menjadi kewajiban kita untuk menjaga keutamaan bahasa Indonesia yang telah turut mempersatukan kita semua.