Filter Hoaks ala Socrates

Manati I. Zega - Istimewa
23 Oktober 2018 21:20 WIB Manati I. Zega Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (20/10/2018). Esai ini karya Manati I. Zega, dosen di Sekolah Tinggi Teologi Agape Indonesia Misi Internasional (AIMI) di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah manatizega2015@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Tahun politik adalah tahun yang rawan jika tidak dikelola dengan baik. Pada dasarnya dalam diri manusia ada hasrat untuk menang dan berkuasa. Ini merupakan sifat alamiah manusia.

Sejatinya manusia tidak mau kalah. Karena itulah, segala kekuatan dan upaya dikerahkan untuk menggapai cita-cita, yakni kemenangan. Dalam konteks kemajuan teknologi pada era kini, menggapai kemenangan dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi.

Pada dasarnya hal itu sah-sah saja, namun akan menjadi persoalan ketika konten yang diberitakan tidak berdasarkan data dan fakta. Kini, ketua salah satu partai politik membolehkan kampanye negatif, yakni kampanye yang menyerang pribadi sang calon pemimpin.

Pro dan kontra terhadap gagasan itu terjadi di masyarakat. Para ahli komunikasi politik tidak menyetujui hal demikian. Faktanya, sulit dihindari. Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa waktu lalu secara jujur mengatakan kampanye negatif itu sulit dihindari.

Leluasa

Cobalah cek gadget Anda. Sekarang berseliweran beragam info terkait dengan isu-isu politik. Pesan-pesan di grup Whatsapp demikian heboh dengan beragam informasi mengenai kandidat presiden dan wakil presiden.

Dengan leluasa pesan tersebut mendatangi setiap orang. Dari satu orang ke orang berikutnya pesan digulirkan demikian cepat. Telepon genggam kita tidak mampu mendeteksi secara tepat ini berita yang benar atau berita palsu.

Belum lagi masalah kurangnya literasi masyarakat kita. Emosi masyarakat bawah terkadang terpancing oleh informasi yang beredar. Ini menjadi persoalan kita pada tahun politik. Suasana kian memanas dengan beragam informasi yang belum terverifikasi atau belum terkonfirmasi.

Tingkat kedewasaan dan intelektualitas penerima berita tidak sama. Penerima yang bernalar akan memastikan dulu kebenaran informasi yang diterima. Jumlah yang berkualitas demikian tidak banyak.

Berbagai informasi yang bernuansa sentimen suku, agama, ras, dan golongan kerap digunakan untuk kepentingan politik. Tanpa memikirkan dampak negatif yang ditimbulkan informasi tersebut. Sasaran finalnya kegaduhan.

Sentimen suku, agama, ras, dan golongan menjadi isu yang sangat berbahaya pada tahun politik ini. Tidak sedikit orang memanfaatkan isu tersebut untuk mengadu domba. Mungkin saja ada skenario besar yang diatur sedemikian rupa untuk membuat kekacauan di masyarakat.

Oleh sebab itu, pada tingkat akar rumput kita harus mengingatkan terus-menerus agar jangan terpancing dengan berbagai isu yang menyesatkan. Hal ini sangat mudah terjadi. Letupan-letupan panas bisa menimbulkan konflik horizontal.

Ini sangat membahayakan keutuhan bangsa dan persaudaraan yang indah di antara kita. Masyarakat harus belajar olah rasa sehingga tidak secara emosional menerima semua masukan yang kebenarannya masih diragukan.

Jari yang Bijaksana

Ketika gempa bumi dan tsunami di Palu, Donggala, dan Sigi terjadi, tidak lama kemudian muncullah video yang begitu meresahkan. Video yang beredar di telepon genggam kita itu ternyata peristiwa tsunami Aceh pada 2004.

Seorang kawan saya, penulis yang tinggal di Kota Palu, menjadi sangat ketakutan. Ia berencana segera meninggalkan Kota Palu karena informasi berupa video yang dia terima melalui telepon genggam. Saya pun menerima video tersebut.

Suasana menjadi sangat menakutkan dan mencekam. Pada zaman kebebasan informasi ini, saya menyarankan milikilah jari yang bijaksana. Artinya, setiap berita apa pun yang diterima biarlah itu berhenti di telepon genggam kita.

Semua berita harus dicek kebenarannya. Kebiasaan meneruskan informasi berupa tulisan atau video tanpa mengecek ulang kebenarannya tentu sangat berbahaya. Hal ini tidak dapat dibenarkan dengan argumentasi apa pun.

Pada tahun politik ini, informasi sekecil apa pun harus dipastikan kebenarannya. Jari kita bisalah kiranya menjadi jari yang tidak gegabah meneruskan berita. Orang cerdas tidak akan mudah meneruskan berita atau informasi yang juntrungannya tidak jelas.

Mengapa? Berita dapat membangun dan menyatukan. Berita dapat pula membelah dan memecah kebersamaan sesama anak bangsa. Kalimat ini perlu diingat. Kita harus memiliki kecerdasan digital yang baik.

Socrates (470-399 SM) adalah filsuf kenamaan pada zamannya. Pada zaman itu juga ada ujaran-ujaran kebencian dan kabar-kabar bohong yang kini kita kenal dengan sebutan hoaks. Socrates adalah seorang pemikir.

Terkait dengan hoaks atau ujaran kebencian ia memberikan beberapa filter yang mungkin relevan dengan zaman kita. Pada zaman Socrates hoaks disampaikan secara lisan dan langsung kepada yang bersangkutan.

Pada zaman kita, hoaks itu disampaikan melalui media sosial. Itu saja perbedaannya. Tujuannya sama, yakni menipu dan menimbulkan kebencian terhadap orang lain. Bagaimana nasihat Socrates tentang ujaran kebencian atau hoaks tersebut?

Ia memberikan three filters of Socrates. Ketika seseorang membawa atau menyampaikan berita dengan media apa pun, Socrates akan mengajukan filter yang pertama. Filter dimaksud adalah ia menanyakan apakah berita itu benar.

Artinya, berita tersebut harus dipastikan benar dan tidak bersumber dari kabar burung. Kabar tersebut sungguh-sungguh terjadi dan memiliki fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Bagaimana kalau kabar itu benar adanya dan memiliki fakta lapangan yang valid?

Mengenai hal tersebut, Socrates memberikan filter kebaikan. Apakah berita tersebut membawa kebaikan bagi yang menerima atau justru sebaliknya? Bisa saja berita yang diterima membawa beban dan keresahan yang tak bertepi.

Manfaat

Jika kondisinya demikian, informasi apa pun yang tidak menuntun kita pada kebaikan selayaknya ditolak, bahkan dibuang jauh-jauh. Untuk apa menyimpan berita yang tidak menyimpan kebaikan apa pun?

Bagaimana kalau berita itu mengandung kebenaran dan kebaikan? Socrates memberikan filter manfaat atau apa yang didapatkan dari berita tersebut. Andaikan berita itu benar dan baik, apa yang didapatkan, apa manfaatnya bagi diri sendiri dan masyarakat?

Hal itu persis sama dengan masyarakat kita zaman sekarang. Apabila suatu berita tidak mendatangkan manfaat apa pun, sebaiknya berita itu didiamkan saja, toh tidak bermanfaat. Filter ini menjadi penentu. Apabila suatu informasi tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, tinggalkan info tersebut dan jangan meyebarkan lagi.

Informasi itu adalah sampah yang tidak berfaedah. Biarkan dan tinggalkan saja daripada menjadi virus yang merusak diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Haoks tidak ada manfaatnya disebarluaskan.

Hoaks itu ibarat virus ganas yang membawa kematian sewaktu-waktu. Di tengah tahun politik yang cenderung memanas, bencana yang terus mendera, hoaks yang terus membabi buta, adalah kewajiban kita untuk memfilter semua informasi dengan filter yang baik sebagaimana dianjurkan Socrates. Integritas yang teruji sebagai anak bangsa harus kita punyai.