Sapalah Tuhan dalam Kesendirian

Ayu Prawitasari - Dokumen Solopos
18 Oktober 2018 19:44 WIB Ayu Prawitasari Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (17/10/2018). Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ayu.prawitasari@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Sebuah pesan pendek dari kawan lama saya terima lewat aplikasi Whatsapp (WA) belum lama ini. ”Lucu ya presiden kita. Tajwid Arabnya bagus,” begitu pesan pendek yang saya terima. Kalimat sindiran.

Video cuplikan pembukaan acara MTQ 2018 di Medan, Sumatra Utara, pada 7 Oktober, dia kirimkan kepada saya. Video acara yang dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut menjadi viral bukan karena substansinya, namun karena ucapan Presiden Jokowi ihwal ”Alfatekah”.

Setelah kata ”Alfatekah” terlontar, seketika itu juga hujatan, ejeken, fitnah, dan sejenisnya mewarnai media sosial. Kegaduhan di ruang maya tersebut membuat saya a memutuskan sementara waktu tak membuka pesan-pesan itu, namun tiba-tiba kegaduhan itu masuk dalam ruang pribadi saya.

 ”Kenapa Jokowi terus yang disorot, mbok sekali-kali Prabowo [Prabowo Subianto], biar orang juga tahu seperti apa kualitasnya,” kata sahabat saya yang lain.

Saya katakan kepada dia, saya tak setuju dengan pemikiran tersebut. Memilih Prabowo untuk ditempatkan di posisi Jokowi sama juga menggiring pemikiran serupa: menjelekkan orang lain.

Ihwal kata “Alfatekah”, menurut saya, menunjukkan persoalan yang lebih serius dari itu, yakni sikap paling benar sendiri, eksklusivitas, atau kesombongan sosial. Sikap itulah yang tecermin secara lebih radikal pada perusakan lokasi tradisi sedekah laut di Bantul, DIY, oleh sekelompok orang bercadar pada Jumat (12/10) lalu.

Kesombongan sosial dan emosional melahirkan sikap yang berlebihan alias ekstrem. Dari sudut pandang toleransi, dua kejadian ini bisa menjadi indeks (berbasis teori C.S. Pierce tentang  tanda bahasa yang menunjukkan makna) mengenai sudut pandang sebagian warga ihwal beragama.

Dunia postmodernism menjadikan banyak orang memahami agama dari hasil konsumsi semata, jauh dari produksi. Pakar kebudayaan dari Prancis, Jean Baudrillard, mengatakan masyarakat postmodern ditandai sengkarut simbol dan makna.

Saya tertarik dengan perkataan Tuan Guru Bajang (TGB), Gubernur Nusa Tenggara Barat, yang dikutip sejumlah media massa tentang viral ”Alfatekah”. Menurut dia, orang Arab dengan latar belakang berbeda sering melafalkan satu huruf Arab dengan lafal yang berbeda juga.

Intinya, perbedaan pelafalan yang bukan disengaja atau karena latar belakang alamiah tidak perlu menjadi masalah. Terlebih lagi, bahasa Arab bukanlah bahasa kedua kita, juga bukan bahasa ibu kita.

Bukan Tolok Ukur

Pemikiran yang mengarah pada pelafalan menjadi penentu kualitas orang beragama tentu tidak bisa dipertanggungjawabkan karena bahasa bukanlah tolok ukur keimanan seseorang. Bahasa muncul dalam hubungan antarmanusia. Tuhan tidak butuh medium bahasa ketika berbicara dengan makhluk.

Bahasa adalah urusan publik, urusan sosial. Urusan dengan Tuhan adalah urusan privat. Menjadi rancu ketika urusan privat dicampuradukkan dengan urusan sosial sehingga manusia menjadi penilai manusia lainnya.

Kini tindakan beragama telah bergeser menjadi urusan publik, urusan bersama, yakni saat citra menjadi penentu identitas. Eksis di berbagai pengajian atau gemar menyebar kutipan ayat kitab suci seakan-akan bisa menjadi penentu kualitas beragama.

Sebagai orang Jawa dan muslim, saya harus mempelajari agama saya dengan perantara bahasa Jawa dan Indonesia. Upaya mengintepretasikan agama saya lakukan dengan basis latar belakang budaya Jawa, bukan budaya Arab. Bahasa adalah produk budaya.

Sangat mengejutkan saat viral ”Alfatekah” belum reda, media massa beralih memberitakan teror terhadap warga yang menjalankan tradisi sedekah laut di Bantul, DIY. Orang-orang bercadar yang meneror warga dan mengobrak-abrik lokasi acara lalu meninggalkan spanduk bertulisan  ”Menolak Semua Kesyirikan Berbau Budaya Sedekah Laut atau Selainnya".

Ini mengusik nurani kemanusiaan saya. Ada dua hal yang saya perhatikan dari kejadian ini. Pertama, agama yang dilepaskan dari budaya. Kedua, hakikat beragama. Sarwono dalam buku berjudul Stereotip dan Relasi Antarkelompok yang ditulis Budi Susetyo menjelaskan agama berkorelasi positif dengan nilai tolong-menolong.

Agama mampu meredam tindakan bunuh diri, penyalahgunaan obat, kenakalan, dan lainnya. Agama bertujuan penyesuaian diri terhadap berbagai masalah kehidupan. Agama bertugas membantu manusia menemukan makna kehidupan, keintiman, serta jati diri.

Agama bukanlah tujuan akhir melainkan proses manusia memahami kehidupan di dunia yang terdiri atas berbagai suku bangsa dan agama untuk meraih kehidupan yang baik setelah kematian.

Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang berakar dari upaya menjaga keharmonisan dengan alam semesta. Sedekah laut adalah salah satu contoh sekaligus ekspresi syukur kepada Tuhan.

Bahasa Jawa mencerminkan sikap keterbukaan nalar terhadap perbedaan. Itulah sebabnya Islam dan agama lain bisa masuk di Nusantara, di Jawa khususnya, tanpa kekerasan. Islam masuk dalam kerangka keharmonisan.

Harmonisasi bisa tercipta dalam jutaan perbedaan karena manusia di mata Tuhan adalah sama. Konsep ini diajarkan semua agama, termasuk Islam. Fungsi agama adalah menciptakan masyarakat yang hidup dalam kerukunan.

Apabila sampai terjadi perselisihan, konflik, dan pertikaian, berarti agama telah gagal menjalankan fungsinya. Kehendak mengajarkan Islam secara kafah--yang dipahami sebagai Islam monokrom, sewarna, atau milik budaya tertentu (bukan Jawa)--melalui kekerasan justru menimbulkan pertanyaan tentang pemahaman agama para pelaku kekerasan tersebut.

Pesan ajaran Islam dan budaya apa yang sesungguhnya mereka paksakan untuk diterapkan di Indonesia, Jawa khususnya? Apakah kita dipaksa mengonsumsi budaya negara lain? Melalui medium bahasa ibu, saya menginterpretasi Islam sebagai agama yang mengajarkan kasih sayang dan perdamaian, bukan kekerasan, sehingga selaras dengan budaya Jawa.

Persepsi tentang kebudayaan yang lebih tinggi di dunia ini dibandingkan kebudayaan lain adalah salah. Persepsi tersebut lahir dari stereotip membabi buta yang menafikan kesederajatan martabat manusia.

Proses Berpikir

Adorno seperti dikutip Budi Susetyo menjelaskan kepribadian fasis berkembang dari rasa takut, lemah, inferior, terancam, hingga menumbuhkan perisai irasional berupa melindungi diri dan menyangkal ciri-ciri tersebut.

Yang terjadi kemudian adalah tindakan menyerang untuk menutupi kelemahan dengan sasaran outgroup. Kepribadian ini banyak ditemukan pada orang yang berkemampuan intelektual rendah serta dari kelas sosial rendah. Kelompok radikal ekstrem bisa dikaitkan dengan kelompok tersebut.

Beragama adalah proses berpikir, yakni berkata-kata dengan diri sendiri yang berbasis pada pengalaman dan pengetahuan. Proses tersebut di ranah privat, bukan ranah sosial yang sering kali diwakili simbol-simbol tanpa makna.

Proses berpikir yang baik akan melahirkan tindakan produksi, yakni toleransi aktif beragama seperti menolong sesama, menghargai orang lain, bekerja sama dengan orang lain tanpa memandang latar belakang etnis dan agama.

Saat beragama terhenti pada level konsumsi, tujuan beribadah berbelok ke harapan atas penilaian manusia lain, bukan penilaian Tuhan. Saya tak menyesal ketika akhirnya memutuskan menegur kawan saya (dengan cara halus tentunya) bahwa saya terganggu dengan kiriman pesan dia di WA.

Menilai seseorang dari pakaian (kopiahnya, cadarnya, kerudungnya, sarungnya, atau lafalnya) sama dengan menyekutukan Tuhan dengan kaum kapitalis yang mendorong kegiatan konsumtif untuk pembentukan citra. Amalan manusia tak ada hubungannya dengan citra, begitu pula keahlian berbahasa. Beragama tak sesederhana itu.