Mahasiswa Penyelenggara Seminar Sudirman Said Terancam DO? UGM: Itu Bohong!

Sudirman Said (kanan) dan Ferry Mursyidan Baldan (kiri) dalam deklarasi dukungan ke Prabowo-Sandi bersama Relawan Barisan Nusantara, Jumat (12 - 10 / 2018) di Restoran Taman Pringsewu, Dusun Banaran, Desa Sendangadi, Mlati. (Harian Jogja / Fahmi Ahmad Burhan)
14 Oktober 2018 16:07 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Universitas Gajah Mada (UGM) membantah isu bahwa mahasiswa sebagai penyelenggara seminar di Fakultas Peternakan terancam drop out (DO) dan ada tekanan dari intel. Guru Besar Hukum Pidana Fakultas Hukum UGM Eddy OS Hiariej menyatakan kabar itu 100% adalah kebohongan publik.

"Tidaklah mungkin UGM sebagai institusi berintegritas yang reputasinya telah mendunia melakukan intimidasi akademik," kata Eddy Hiariej dalam keterangannya yang diterima Antara, di Jakarta, Minggu (14/10/2018).

Dia juga menjelaskan bahwa dirinya telah mengkonfirmasi kejadian pembatalan seminar di Fakultas Peternakan UGM yang menghadirkan pembicara dua mantan menteri, Sudirman Said dan Ferry Mursyidan Baldan, kepada Dekan Fakultas Peternakan Prof Dr Ir Ali Agus DEA.

"Peternakan sangat tepat dalam menjaga kenetralan UGM sebagai institusi akademik," kata Guru Besar UGM ini pula. Kedua mantan menteri itu belakangan mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Prabowo-Sandiaga.

Atas tindakan Dekan Fakultas Peternakan ini, Eddy Hiariej juga berpendapat bahwa kampus adalah lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi kebebasan dan etika akademik. "Kampus adalah institusi independen yang nonpartisan, namun tidak tabu berbicara politik," katanya lagi.

Dalam konteks kontestasi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilihan Umum Legislatif 2019, Eddy Hieriej menyatakan UGM sebagai institusi pendidikan sejak Pemilu 1999 telah menunjukkan kenetralannya.

Menurut Eddy, ketika Prof Ichlasul Amal menjadi Rektor pada 1998-2002, UGM justru mengadakan Dialog Nasional untuk mengundang semua parpol menyampaikan visi-misi. "Demikian pula dalam Pilpres 2004, Prof Sofian Effendi sebagai Rektor mengizinkan debat calon presiden secara berimbang," ungkapnya.

Dia mengatakan kalau memang ingin menggalang dukungan dari kalangan kampus hendaklah menggunakan cara-cara yang beradab dan beretika secara jujur dan terbuka. Misalnya dengan mengadakan debat publik secara berimbang dengan menhadirkan juga pasangan calon lainnya, sehingga visi-misi sari para kandidat dapat dinilai secara ilmiah.

Sumber : Antara