Pikir Itu Pelita Hati

Ichwan Prasetyo - Dokumen Solopos
13 Oktober 2018 10:00 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (8/10/2018). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Harian Solopos dan pencinta buku. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Hanya masyarakat kuat, bukan orang kuat, yang akan membuat bangsa Indonesia hebat. Kalimat ini saya kutip--dengan modifikasi--dari buku Thank You for Being Late, Membangun Optimismne untuk Melangkah Maju di Era Akselerasi karya Thomas L. Friedman.

Kalimat yang saya kutip dengan modifikasi itu dari buku edisi bahasa Indonesia yang diterbitkan Gramedia pada 2018. Friedman adalah kolumnis kawakan di The New York Times. Buku-buku karya dia selalu berbasis pengalaman dan selalu pekat dengan reportase yang sangat detail dan lengkap.

Saya mengutip kalimat itu setelah mengendapkan aneka argumentasi yang mengemuka kala berdiskusi beberapa jenak dengan beberapa kawan membahas persebaran hoaks, ujaran kebencian, dan propaganda yang kian marak belakangan ini seiring tahapan pemilihan umum, khususnya pemilihan presiden, pada 2019.

Seorang kawan saya yang pembaca buku apa saja, biasa saya sapa dengan panggilan Mbak Id, mengatakan persebaran hoaks, ujaran kebencian, dan aneka propaganda yang sebagian besar tak masuk akal itu adalah kembang-kembang dalam tahapan perubahan masyarakat bangsa ini ke arah yang lebih berkualitas.

Saya sepenuhnya sepakat dengan analisis dia. Bangsa ini tak mungkin menjadi kian beradab, kian berkualitas, dan menuju kegemilangan tanpa melewati onak dan duri. Kini onak dan duri itu adalah negasi atas akal sehat, negasi atas nalar, negasi atas logika.

Negasi itu dilakukan oleh politikus, figur publik, tokoh masyarakat, bahkan agamawan. Kasus hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet, yang dulu saya kenal sebagai seniwati teater yang militan dan progresif, adalah kisah termutakhir tentang negasi nalar dan logika itu.

Apa hubungannya dengan kutipan saya dari buku karya Friedman itu? Kira-kira begini. Dengan tanpa negasi nalar, saya menemukan sebagaimana yang ditemukan Friedman.

Kualitas Manusia dan Kemanusiaan

Ia menulis kalimat—yang saya modifikasi—”hanya masyarakat kuat, bukan orang kuat, yang akan membuat Amerika [Serikat] hebat lagi” setelah menemukan simpul-simpul gerakan sosial kemasyarakatan di negeri itu yang semua berorientasi menuju kebaikan dan peningkatan kualitas manusia dan kemanusiaan.

Dalam perjalanan menemukan data faktual atau katakanlah reportase ke beberada daerah di negeri itu, di tengah propaganda Presiden Donald Trump tentang ”kerusakan” Amerika Serikat, Friedman menemukan banyak masyarakat di banyak daerah di negeri itu yang bersatu membantu warganya mendapat keahlian dan kesempatan untuk memegang masa depan sendiri.

Dalam laku berpikir saya mengingat dalam kerangka reportase yang pernah dan masih saya lakukan, saya juga menemukan realitas yang sama di negeri ini.

Setidaknya dalam wilayah yang hanya sampel kecil dari negeri ini, katakanlah di Soloraya, sebagian Daerah Istimewa Yogyakarta, Kota Semarang, dan Kabupaten Lamongan di Jawa Timur—yang sering saya kunjungi—saya menemukan komunitas-komunitas masyarakat yang berdaya.

Mereka dengan simpul beberapa orang hingga belasan orang berdaya di sektor pertanian, ekonomi mikro, kesehatan, pendidikan, sastra dan bahasa (budaya literer), keagamaan, dan sektor-sektor kemanusiaan lainnya. Semua itu membuat saya optimistis bahwa Indonesia sebenarnya jauh lebih baik kala kita mau meninggalkan kegaduhan di media sosial dan area politik itu.

Saya bertemu dengan seorang perempuan pendeta dari Purbalingga, Jawa Tengah, yang di sela-sela pelayanan kepada umat dia selalu menyempatkan diri membangun relasi dengan umat dari agama lain untuk memperkuat kemanusiaan.

Relasi yang dibangun dengan negasi batas-batas pemahaman agama itu memanisfestasi menjadi komunitas lintas iman yang sangat solid dan beroritentasi membangun kemanusiaan yang adil dan beradab.

Saya bertemu para mahasiswa yang di tengah kesibukan kuliah mau ”live in” di tengah masyarakat yang terdampak limbah sebuah pabrik bermodal besar. Mereka lalu memahami bahwa peran sebagai agent of change memang harus memanifestasi dalam kerja-kerja riil bersama komunitas.

Saya bertemu seorang jurnalis dari Sulawesi Barat yang di sela-sela kesibukan dia menjalani profesi sebagai kontributor jaringan televisi nasional menyempatkan diri membina sebuah desa di kawasan pantai agar warga desa itu berbudaya literer.

Optimis

Kala banyak mimbar menjadi arena agitasi dan propaganda menebar kebencian dibalut narasi keagamaan demi kekuasaan politik, saya menemukan banyak rombongan kaum muda bersama kaum tua yang selalu menyempatkan waktu minimal sebulan sekali berdakwah dari desa ke desa dengan satu ajakan: memakmurkan masjid.

Mereka ini belajar intensif tentang fikih dakwah, tentang cara berelasi dengan orang-orang yang belum dikenal, tentang cara berdiskusi untuk bersama-sama menuju kebaikan dengan kesepakatan bulat menegasikan politik dalam kegiatan mereka.

Mereka bisa masuk ke mana saja—di beberapa tempat ditolak hanya karena kesalahpahaman—dan berdialog dengan siapa saja yang ditemui untuk memberdayakan masjid menjadi simpul kemanusiaan, bukan sekadar tempat ibadah umat Islam.

Saya juga bertemu dengan pribadi-pribadi yang memberdayakan diri membangun kebaikan di komunitas sekitar mereka. Ada yang di sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya.

Saya bertemu dengan para pemuda yang tak pernah memikirkan dapat honor berapa dan selalu dengan senang hati kala diminta membimbing anak-anak, remaja, pemuda, bahan kaum dewasa belajar menulis esai atau karya fiksi.

Mereka begitu bahagia dan mata mereka berbinar kala sejumlah orang yang mereka bimbing menulis itu menghasilkan buku antologi karya tulis mereka yang diterbitkan dengan biaya swadaya mereka dan kemudian dibagikan gratis kepada siapa saja yang berminat.

Saya bertemu dengan banyak guru yang mau meluangkan waktu, tenaga, bahkan biaya untuk berkarya di luar ketentuan kurikulum sehingga memberdayakan siswa-siswa mereka menjadi siswa yang kreatif, inovatif, dan pembelajar sejati.

Dengan berpikir positif berbasis fakta yang saya temukan sendiri seperti itu saya menemukan makna hakiki ”pikir itu pelita hati”. Pikiran positif saya mendorong perasaan saya menjadi kian optimis. Beberapa waktu lalu ketika menulis esai di halaman ini pula, esai tentang aktivitas komunitas Gusdurian, saya menyimpulkan Indonesia pasti baik-baik saja.

Kini dengan memberdayakan pikiran saya menemukan begitu banyak, sangat banyak, kegiatan positif yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat di banyak daerah, saya semakin yakin negeri ini telah di jalur yang benar menuju kegemilangan.

Swadaya

Kekuatan-kekuatan masyarakat yang terbangun secara swadaya di—saya yakin—hampir seluruh wilayah negeri ini akan menjadi kekuatan fundamental membangun negeri ini menuju kegemilangan. Ketika setiap komunitas ini berelasi dalam ”semesta pembicaraan” bangsa Indonesia, saya membayangkan itu adalah kekuatan mahadahsyat.

Dengan realitas demikian ini, siapa pun nanti yang terpilih menjadi presiden dalam pemilihan umum 2019 tak akan berpengaruh apa pun secara langsung terhadap efek “bola salju” dari keberdayaan komunitas-komunitas itu.

Kalau yang terpilih adalah yang berorientasi kerja nyata bagi kemajuan Indonesia, ya jelas sejalan dengan keberdayaan komunitas-komunitas itu. Niscaya kegemilangan negeri ini akan teraih lebih cepat.

Kalau yang terpilih adalah yang hanya berorientasi kekuasaan dan keuntungan diri dan kroni-kroninya, niscaya akan berhadapan dengan kekuatan besar masyarakat negeri ini yang telah berdaya itu. Mereka akan menjadi kekuatan koreksi atas penyimpangan kekuasaan.

Jadi, tak usahlah memeras energi membela para politikus itu. Berdayakan nalar. Optimalkan logika. Telaahlah tingkah polah para politikus itu dengan kepala dingin. Saat di bilik suara, berikanlah suara dengan rasional: berikan suara kepada peluang besar bahwa Indonesia akan lebih baik, bukan hanya karena sentimen suku, agama, ras, atau golongan.