Indonesialeaks Beberkan Beda 2 Keterangan Ketua KPK Soal Buku Merah

Ketua KPK Agus Rahardjo mengumumkan penetapan 38 anggota DPRD Sumut 2009-2014 dan 2014-2019 sebagai tersangka penerimaan suap dari mantan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho, di gedung KPK, Jakarta, Selasa (3/4 - 2018). (Antara/Wahyu Putro A)
13 Oktober 2018 21:00 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Sejumlah pihak ramai-ramai meragukan hasil liputan investigasi 5 media massa yang berkolaborasi dalam IndonesiaLeaks, mengenai dugaan perusakan barang bukti kasus suap pengusaha Basuki Hariman. Bahkan, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan dugaan itu tidak terbukti.

Ketua KPK Agus Raharjo mengatakan Direktorat Pengawas Internal (PI) telah memeriksa kamera pengawas alias CCTV yang disebut merekam aksi perobekan buku bank berisi catatan aliran dana Basuki Hariman ke sejumlah pejabat negara termasuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan hasilnya nihil.

"Pengawas internal sudah memeriksa kamera, dan kamera memang terekam, tapi secara… ada penyobekan, tidak terlihat dalam kamera itu," kata Agus di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (10/10/2018) lalu, dilansir Suara.com.

Namun, dilansir Suara.com, pernyataan Agus tersebut bertolak belakang dengan jawabannya saat diwawancarai tim IndonesiaLeaks pada Sabtu (11/8/2018), sebelum hasil peliputan tersebut diungkap ke publik. Ketika itu, Agus mengakui kamera CCTV di ruang kolaborasi KPK merekam perusakan buku merah tersebut.

Rekaman CCTV itu, kata Agus, belakangan menjadi bukti bagi Direktorat PI KPK untuk menjatuhkan sanksi etik terhadap kedua penyidik tersebut yang kini sudah dikembalikan ke Mabes Polri.

"Iya [di rekaman CCTV terlihat aksi merusak barang bukti]. Makanya PI bergerak kan, karena ada bukti itu, ya kan. Jadi PI bergeraknya karena ditunjukkin bukti itu, jadi kemudian dilakukan pemeriksaan PI,” kata Agus kala itu yang dilansir Suara.com.

Dia mengakui, hasil penyelidikan Direktorat PI menunjukkan terdapat perusakan buku merah yang merupakan bukti kasus suap pengusaha daging impor Basuki Hariman kepada mantan hakim konstitusi Patrialis Akbar.

"Hasil penyelidikan internal memang orangnya [Roland dan Harun] melakukan kesalahan, terus akhirnya dipulangkan dan diberitahukan ke sana [Mabes Polri],“ ujar dia.

Berdasar ingatan Agus, kedua penyidik yang merusak barang bukti itu hanya datang sekali memenuhi panggilan Direktorat PI KPK untuk diperiksa terkait perusakan buku merah. "Rasanya hadir dan hasil pemeriksaannya ada. PI [merekomendasikan ke pimpinan] pelanggaran berat,” kata dia.

Selain itu, lanjut dia, hasil pemeriksaan dan bukti-buktinya juga dilampirkan dalam surat pengembalian keduanya ke institusi asal mereka, yakni Mabes Polri. "Iya [bukti-bukti dilampirkan dalam surat pengembalian dua penyidik], dan pihak kepolisian tahu,” terang dia.

Sebelumnya, liputan tim IndonesiaLeaks yang diterbitkan 5 media itu menyebutkan buku merah itu dikoyak dan dibubuhkan tipp-ex oleh dua penyidik KPK. Buku itu, sebut IndonesiaLeaks, diduga dirusak saat disimpan di ruang Labuksi, lantai 9 gedung Merah Putih KPK, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat petang, 7 April 2017.

Mabes Polri telah membantah tudingan bahwa kedua mantan penyidik KPK dari Polri, yaitu Roland Ronaldy dan Harun, merobek buku merah itu. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menegaskan bahwa dua mantan penyidik KPK itu tidak terbukti merobek beberapa halaman dari buku catatan keuangan milik Kumala.

"Mengenai perusakan barang bukti, setelah dicek tidak terbukti bahwa Roland dan Harun melakukan perobekan," kata Irjen Setyo di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (11/10/2018), dilansir Antara.

Pernyataan itu berdasarkan hasil pemeriksaan kedua polisi itu di Pengamanan Internal (Paminal) Polri. KPK saat itu memulangkan dua penyidik dari Polri tersebut ke instansi asalnya, Polri.

Potongan video wawancara dengan Agus Rahardjo tertanggal Rabu (10/10/2018) lalu itu diunggah di akun Twitter @inaleaks pada Jumat (12/10/2018). Berikut versi lebih lengkap video wawancara tersebut yang dirilis channel Youtube Suara dot Com:

Sumber : Suara.com, Antara