Ditolak di UGM, 2 Mantan Menteri Jokowi Deklarasi Dukung Prabowo-Sandi

Sudirman Said (kanan) dan Ferry Mursyidan Baldan (kiri) dalam deklarasi dukungan ke Prabowo-Sandi bersama Relawan Barisan Nusantara, Jumat (12/10 - 2018) di Restoran Taman Pringsewu, Dusun Banaran, Desa Sendangadi, Mlati. (Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan)
13 Oktober 2018 19:40 WIB Fahmi Ahmad Burhan Nasional Share :

Solopos.com, SLEMAN -- Dua mantan menteri Jokowi yaitu Sudirman Said dan Ferry Mursyidan Baldan deklarasikan dukungan pada pasangan capres cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Sebelumnya, keduanya batal hadir di seminar di UGM karena ditolak kampus tersebut.

Deklarasi difasilitasi oleh relawan Prabowo Sandi dari Barisan Nusantara Korwil Yogyakarta. Direktur Materi Debat pasangan Prabowo Sandi, Sudirman Said, mengatakan deklarasi dengan melibatkan peran serta masyarakat itu merupakan tanda-tanda demokrasi.

"Tandanya demokrasi itu partisipasi, bukan mobilisasi," katanya setelah deklarasi pada Jumat (12/10/2018) di Restoran Taman Pringsewu, Dusun Banaran, Desa Sendangadi, Mlati, Sleman.

Sudirman Said yang juga Mantan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) era Jokowi ini juga mengatakan nantinya deklarasi tidak hanya dilakukan di DIY saja, tapi juga di 10 provinsi lainnya. "Setelah ini kita ke Jawa Tengah, diawali dari Solo Raya, lalu pekan depan ke wilayah Pantura," katanya.

Sudirman menargetkan di Jateng DIY, suara Prabowo-Sandiaga bisa mencapai 60% lebih. Menurutnya, ekspresi terhadap pilihan pada salah satu calon janganlah dihalang-halangi.

Sementara itu, Direktur Relawan pasangan Prabowo Sandi yang juga sebagai mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang atau Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Ferry Mursyidan Baldan mengungkapkan alasannya memilih pasangan Prabowo Sandi karena melihat kondisi negara saat ini. Menurutnya standar bernegara saat ini mengalami destandarisasi.

"Sandarisasi bernegara menjadi indikator yang menendorong kita memilih Prabowo Sandi. Saat ini rasa berbangsa menjadi melemah. Negeri ini melarang orang menyampaikan pandangan yang berbeda," kata Ferry pada Jumat (12/10/2018).

Mantan politikus Nasdem itu menyinggung pemilihan cawapres di kedua belah pihak. "Prabowo menghadirkan wakil yang smart, tajir, dan goodlooking. Sementara yang sebelah itu memang kita sayang ulama tapi kalau ulama ada di jabatan publik akan beresiko. Saya tidak ikhlas kalau ulama didemo," ujar Ferry.

Relawan Barisan Nusantara Korwil Yogyakarta Imam Sujangi mengatakan relawan yang ditampung dalan Barisan Nusantara berasal dari masyarakat yang tidak terikat dan tidak semua terafiliasi parpol. "Kita akan bekerja maksimal. Kita all out," ucapnya.

Batal di UGM

Sebelumnya, kedua mantan menteri Kabinet Kerja Jokowi-JK itu dijadwalkan berbicara dalam seminar kebangsaan kepemimpinan di era milineal di Auditorium Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat. Namun panitia terpaksa memindahkan lokasi acara karena UGM mencabut izin penyelenggaraan seminar itu.

Ketua panitia seminar Jibril Abdul Aziz menjelaskan sebenarnya pihak panitia sudah mengantongi izin pada Kamis (11/10/2018). Namun secara mendadak pada Jumat pukul 09.00 WIB pihaknya dipanggil Fakultas Peternakan dan diminta membatalkan acara itu di lingkungkan kampus.

“Saya menemui pihak fakultas dan tidak ada toleransi harus dibatalkan. Saat saya tanya alasan pembatalan, dijawab karena akan menimbulkan kaos. Lalu saya mengatakan jika memang terjadi chaos saya akan pulangkan pembicara, namun tidak diterima. Secara lisan juga muncul ancaman drop out jika tetap menjalankan di kampus. Kami menurut, tidak ngotot dan legawa,” katanya saat dihubungi Harian Jogja, Jumat (12/10/2018).

Panitia mencoba mencari alternatif lain dan akhirnya menemukan tempat di salah satu rumah makan yang merupakan pilihan terakhir. Dikatakan Jibril, acara tersebut tidak ada kepentingan politik sama sekali. Bahkan pihaknya mengaku sudah mewanti-wanti ke pembicara agar tidak menyinggung masalah politik ataupun atribut.

Jibril mengaku sudah berkoordinasi dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Peternakan. “Kami akan bertemu dengan jajaran akademik menjelaskan acara ini, namun belum tahu pastinya kapan. Menunggu dari pihak kampus,” katanya.

Kepala Bagian Humas dan Protokol, UGM Iva Ariani mengatakan pembatalan seminar oleh pihak kampus bukan karena alasan politik. "Sama sekali tidak ada hubungannya dengan politik," kata Iva.

Iva menjelaskan pembatalan dikarenakan fakultas mempunyai aturan tersendiri terkait pemanfaatan sarana dan prasarana kampus. Alasan lain, acara tersebut bukan diselenggarakan oleh organisasi kemahasiswaan di bawah koordinasi fakultas. “Maka izin penggunaan ruang kemudian dicabut,” kata Iva.

Iva mengatakan kurang begitu mengetahui siapa penyelenggara seminar tersebut. Ia juga mengirimkan surat pernyataan yang ditandatangani Dekan Fakultas Peternakan Ali Agus dan Ketua BEM Fakultas Peternakan UGM, Angger M. Ghozwan Hanif.

Dalam surat tersebut tertulis beberapa poin. Pertama, selama ini Fakultas Peternakan UGM memiliki kebijakan terkait penggunaan sarana dan prasarana yang ada di lingkungan fakultas adalah untuk kegiatan tridharma (pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat) yang melibatkan civitas academica di Fakultas Peternakan UGM.

Kedua, seminar kebangsaan Kepemimpinan Era Milineal ternyata bukan merupakan kegiatan BEM Fakultas Peternakam UGM, dan BEM Fakultas Peternakan UGM tidak pernah mengeluarkan publikasi dalam bentuk apapun (termasuk flyer yang telah beredar) sehingga informasi yang beredar bukan merupakan tanggung jawab dari BEM Fakultas Peternakan UGM.

Ketiga, dikarenakan acara seminar kebangsaan tersebut bukan acara yang diselenggarakan oleh organisasi kemahasiswaan di bawah koordinasi Fakultas Peternakan UGM, maka kampus membatalkan izin penggunaan ruang Auditorium Fakultas Peternakan.

Sumber : Harian Jogja