Doktor Penciptaan Seni dan Karya Tulis Ilmiah

Aris Setiawan - Istimewa
12 Oktober 2018 20:45 WIB Aris Setiawan Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/10/2018). Esai ini karya Aris Setiawan, pengajar di Jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah segelas.kopi.manis@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Akhir-akhir ini, di perguruan tinggi seni, terjadi perdebatan tentang keharusan mahasiswa program doktor penciptaan seni menulis karya ilmiah sebagai syarat pendamping karya tugas akhir penciptaan seni.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah mahasiswa jurusan penciptaan seni harus menulis karya ilmiah? Bukankah berkarya seni sejatinya telah melalui prosedur ilmiah yang ketat tanpa harus direpotkan dengan aktivitas tulis menulis?

Banyak yang mengusulkan mahasiswa jurusan (doktor) penciptaan seni tidak harus berkarya tulis ilmiah. Dengan membuat karya tulis ilmiah berarti mahasiswa bekerja ganda dan menghabiskan energi.

Di satu sisi ia harus membuat karya seni, di sisi lain masih harus membuat tulisan akademis. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2014 menjelaskan karya seni merupakan karya ilmiah yang setara dengan karya tulis. Kenapa aktivitas menulis itu dianggap penting, bahkan menjadi syarat wajib?

Garis Batas

Pada titik ini tidak ada garis batas yang jelas antara ”seniman an sich” dan ”seniman akademis”. Bagi seniman an sich, berkarya seni tidak harus diimbangi dengan pertanggungjawaban intelektual yang akademis.

Ia tidak dituntut menjelaskan konsep, wacana, dan gagasan di balik karya secara panjang lebar. Saat ditanya, ia sering kali diam dan membiarkan gagasan serta wacana dalam karyanya itu berpendar secara berbeda dan berserakan dalam pikiran masing-masing penonton atau penikmatnya.

Pada konteks inilah karya seni kadang tak harus dituliskan atau diobrolkan karena karya seni dianggap dapat berbicara tentang dirinya sendiri. Bagi kalangan akademis di dalam tembok kampus, menuliskan karya seni adalah sebentuk upaya menemukan sesuatu yang tidak tersurat dalam karya itu.

Menuliskan musik adalah membongkar apa yang tidak tersuarakan oleh bunyi. Oleh karena itu, dalam konteks kajian akademis, menulis menjadi penting. Dalam iklim akademis, mereka dituntut memiliki kelebihan menularkan gagasan, konsep, wacana, dan ide karya yang dibuat.

Cara mengomunikasikannya tidaklah dengan membiarkan karya itu diam, berharap dapat berbicara dengan sendirinya, namun dengan menuliskan. Lewat tulisan yang ilmiah, pembacaan terhadap sebuah karya dapat menjadi lebih jelas, lebih spesifik, dan bahkan temuan-temuan baru dapat terwacanakan dengan lebih gamblang.

Kemampuan menulis wajib ditumbuhkan. Bukan hendak memperberat tugas mahasiswa yang notabene seniman itu, tapi justru menunjukkan kedudukan dan posisi dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan seni.

Tulisan akademis sekaligus menunjukkan garis demarkasi yang jelas antara batas ”mahasiswa seni” dan seniman. Kapan seseorang harus menjadi seniman murni dan kapan ia harus sebagai mahasiswa dapat terbaca dengan gamblang.

Katakanlah, mahasiswa seni tidak diwajibkan menulis karya ilmiah untuk tugas akhir. Pertanyaannya kemudian, apa bedanya dengan seniman pada umumnya? Bagaimana ia mewariskan konsep dan gagasannya kepada publik jika tidak pernah menulis dan semata berkarya? Apa sumbangsih bagi ilmu pengetahuan (seni)?

Bukankah teori-teori tentang seni selama ini justru banyak ditulis oleh orang-orang di luar institusi pendidikan seni, seperti sarjana antrolopologi yang menulis tentang tentang antropologi seni, sosiolog menerbitkan buku sosiologi seni, sarjana ilmu komunikasi yang menulis tentang komunikasi seni, serta sarjana sejarah yang menulis sejarah seni? Pada persoalan inilah kedudukan mahasiswa seni dapat dipertanyakan kadar manfaatan.

Seniman

Hampir semua mahasiswa program doktor penciptaan seni adalah seniman-seniman yang unggul di bidangnya. Kemampuan mereka telah teruji di masyarakat. Untuk masuk menjadi mahasiswa doktoral saja persyaratan yang harus terpenuhi adalah dengan menunjukkan bukti beberapa karya monumental dan capaian prestasi yang telah diraih.

Dosen pengajarnya sering kali kalah terkenal, bahkan kalah piawai dan berprestasi dalam berkarya seni dibanding dengan mahasiswanya. Oleh karena itu, dengan sekadar berkarya seni di bangku sekolahan kiranya bukanlah persoalan yang sulit.

Tentulah tujuan pendidikan seni kemudian bukan sekadar berkarya seni, tetapi menjabarkan dan menuliskan perjalanan karya itulah yang penting. Karya tulis itu adalah dokumen yang mampu berbicara lebih dari karya yang dipertunjukkan.

Karya itu mungkin akan selesai sesaat setelah digelar, namun karya tulis yang mendasarinya akan terus abadi untuk dibaca, direnungkan, dan diulas. Dalam proses kelulusan mahasiswa doktor seni, tulisan akademis memang menjadi syarat mutlak, hanya kewajiban agar tulisan tersebut dimuat di jurnal internasional bereputasi adalah sebuah kebijakan yang cukup memberatkan.

Waktu tunggu pemuatan bukan lagi hitungan bulan, namun tahunan, karena antrean yang panjang. Hari ini kita mengirim naskah, jika lolos akan dimuat paling cepat dua atau tiga tahun ke depan. Hal ini salah satu faktor yang menghambat.

Mahasiswa seni dengan demikian bukan semata seniman, namun juga menghasilkan pertanggungjawaban intelektual untuk menularkan gagasan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki lewat berbagai wadah, tak terkecuali menulis.

Sering kali keasyikan berkarya seni menyebabkan gairah menulis menjadi luntur. Mahasiswa seni memang selayaknya berkarya seni, namun juga diimbangi dengan kemampuan menuliskan dunia yang digeluti dengan baik agar tumbuh teori dan konsep seni dari dalam (insider), tak melulu menunggu orang lain di luar seni (outsider) yang menulis.

Menjadi ironi kemudian ketika doktor penciptaan seni hanya mampu mencipta karya seni tanpa pernah mampu menjabarkannya secara ilmiah, apalagi secara akademis. Jika demikian, apa bedanya lulusan perguruan tinggi seni bidang penciptaan dengan seniman autodidak, tak ada bedanya bukan?

Oleh karena itu, jika sekadar hendak berkarya seni, tak harus menjadi mahasiswa seni. Keberimbangan berpikir kritis, analitis, dan kemampuan menuliskan jejak konsep kekaryaan sehingga layak untuk dibaca publik adalah sebuah keniscayaan.