Kabar Duka Maestro Tari Agus Tasman Rana Atmadja Tutup Usia

Agus Tasman Rana Atmadja. (Istimewa/Dokumentasi ISI Solo)
12 Oktober 2018 19:35 WIB Ika Yuniati Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Kabar duka datang dari Solo. Empu Paripurna Bidang Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Agus Tasman Rana Atmadja, 82, meninggal dunia, Jumat (12/10/2018).

Pengajar di Jurusan Tari ISI Solo yang mendapat penghargaan atas dedikasinya menciptakan tari tradisional berdasarkan gerakan klasik Jawa gaya Surakarta itu tutup usia sekitar pukul 13.30 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Moewardi Solo.

Anggota Staf Humas ISI Solo, Esha Karwinarno, saat dimintai konfirmasi, Jumat sore, membenarkan adanya kabar duka tersebut. Menurut Esha, kesehatan mendiang Tasman mulai menurun sejak sepekan lalu.

Pada Rabu (3/10/2018), Tasman dilarikan ke Rumah Sakit (RS) UNS, lalu dipindahkan ke RSUD dr. Moewardi pada Kamis (4/10/2018) hingga meninggal dunia Jumat siang. Saat ini jenazah disemayamkan di rumah duka Jl. Tanjung RT 002/002 Karangasem, Solo.

“Belum tahu kabar pemakamannya, kemungkinan besok [ Sabtu], karena keluarga di Jakarta belum bisa datang juga,” kata Esha.

Menurut Esha Karwinarno, mendiang Tasman merupakan sosok mumpuni yang juga disiplin. Beberapa tari tradisional pernah ia ciptakan, seperti Bedhaya Ela-Ela dan Bedhaya Si Kaduk Manis.

Tasman, tambah dia, sudah lama pensiun sebagai dosen, namun masih sering mengajar di ISI Solo sebagai empu paripurna.

“Beliau sosok yang disiplin. Saya paling ingat ketika beliau menjabat sebagai Pembantu Ketua II STSI Surakarta [nama ISI Solo] dulu. Dia selalu memantau langsung kondisi lapangan, terkait fasilitas belajar mengajar dan juga perkantoran sehingga kekurangan dan kendala segera bisa teratasi,” tambah Esha.

Koreografer sekaligus pengajar di ISI Solo, Eko Supriyanto, mengaku turut kehilangan atas kepergian sang guru. Menurut Eko, Tasman adalah sosok pembaharu sekaligus inovator tari tradisi gaya Surakarta.

Karya-karya Tasman menjadi tonggak sejarah baru dalam merawat dan meneruskan tari tradisi gaya Surakarta di Perguruan Tinggi Seni. Tasman juga menjadi tokoh pencetus Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) di Surabaya.

“Wawasan yang luas meyakinkan beliau sebagai role model bagi para dosen tari di Jurusan Tari ISI Solo, untuk terus meneladani spirit tradisi dan menghidupinya dengan keterbukaan yang mapan, maton, dan mulya,” kata Eko.