Anggap Prabowo Tak Serius Nyapres, Andi Arief: Sebenarnya yang Nyalon Siapa?

Bakal calon presiden dan wakil presiden Pilpres 2019 Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno (kedua kanan) melambaikan tangan usai pemeriksaan awal tes kesehatan di RSPAD, Jakarta, Senin (13/8 - 2018). (Antara/Sigid Kurniawan)
12 Oktober 2018 17:20 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Politikus Partai Demokrat Andi Arief kembali melontarkan kritik tajam kepada kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Jika sebelumnya menyebut jenderal kardus, kali ini Andi menyebut Prabowo kurang serius menjadi calon presiden (capres).

Hal itu terlontar di akun Twitter @andiarief_, Jumat (12/10/2018). Wasekjen Demokrat itu menyoroti cara berkampanye Prabowo yang jauh berbeda dari Sandiaga Uno. Sang calon wakil presiden (cawapres) itu justru terlihat jauh lebih aktif berkampanye ke berbagai daerah dibandingkan Prabowo yang berstatus sebagai capres.

"Ini otokritik: Kalau dilihat cara berkempanyenya sebetulnya yang mau jadi Presiden itu @sandiuno atau Pak Prabowo ya. Saya menangkap kesan Pak Prabowo agak kurang serius ini mau jadi Presiden," kicaunya.

Menurut Andi Arief, partai pendukung hanya akan bergerak sangat aktif untuk memenangi Pilpres 2019 apabila Prabowo sendiri mau aktif berkeliling Indonesia. Sebaliknya jika Prabowo malas-malasan, katanya, maka tidak ada rumus ajaib untuk menang.

"Pasti banyak yang gak suka soal kriik saya atas males2an Pak Prabowo keliling aktif ke Indinesia ini. Tapi percayalah kalau direnungkan bagaimana mungkin kemenangan mengejar orang yang malas?" lanjutnya.

Andi mengkhawatirkan kubu calon yang didukung Demokrat itu tidak punya cukup waktu untuk mendekati massa karena penyelenggaraan Pilpres 2019 tinggal enam bulan. Dia meminta Prabowo Subianto segera keluar dan berkeliling Indonesia.

"Enam bulan adalah waktu yang terlalu pendek dalan politik. Pak Prabowo harus keluar dari sarang kertanegara, kunjungi rakyat, sapa, peluk cium dan sampaikan apa yang akan dilakukan kalau menang di tengah ekonomi yg sulit ini. Sekian kritik saya."

"Mumpung partai2 pendukung Pak Jokowi sibuk untuk lolos PT ketimbang urus Pak Jomowi, harusnya Pak Prabowo aktif keliling, menembus Indonesia mendulang suara. Hanya dengan bertemu rakyat maka pintu istana akan terbuka," tutupnya.