Harga Premium Batal Naik, Rupiah Diprediksi Tambah Tertekan

Petugas kasir menghitung mata uang dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang, di Jakarta, Selasa (2/10/2018). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
12 Oktober 2018 05:30 WIB Mutiara Nabila Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Rupiah ditutup melemah, Kamis (11/10/2018), bersamaan dengan pelemahan dolar Amerika Serikat yang umumnya bergerak berlawanan karena pasar ekuitas global anjlok setelah perang dagang antara AS dan China semakin memanas.

Pada penutupan perdagangan Kamis, rupiah ditutup melemah 35 poin atau 0,23% menjadi Rp15.235 per dolar AS dari penutupan perdagangan hari sebelumnya dengan catatan pelemahan di hadapan dolar AS secara year-to-date (ytd) mencapai 10,79%.

Adapun, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sejumlah mata uang utama ikut melemah 0,32% menjadi 95,19 poin dari sesi hari sebelumnya.

Analis PT Monex Investido Futures Faisyal mengatakan penurunan pasar ekuitas secara global menjadi penyebab pelemahan mata uang hampir di seluruh negara, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

“Penurunan ekuitas global itu karena memanasnya perang dagang antara AS dan China, sehingga banyak investor yang melakukan aksi jual, menghindari aset berisiko,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (11/10/2018).

Adapun, menurut Faisyal outlook dari International Monetary Fund (IMF) yang menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global turut menjadi penyebab pelemahan rupiah.

Faktor yang berpotensi membawa penguatan pada rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya adalah data inflasi AS yang abru akan dirilis Kamis malam waktu AS. “Apabila data tersebut tidak sesuai ekspektasi, bisa membawa penguatan pada rupiah untuk jangka pendek,” lanjutnya.

Faisyal memproyeksikan rupiah pada sepekan masih akan bergerak di kisaran Rp15.000-an per dolar AS dengan rentang antara Rp15.190 – Rp15.280 per dolar AS.

Selain itu, tekanan pada rupiah juga bisa terus bertambah mengingat harga bahan bakar minyak (BBM) Premium yang tidak jadi naik. Padahal, kenaikan harga BBM itu dinilai Faisyal bisa membantu menyusutkan defisit transaksi berjalan dan bisa membantu menopang pelemahan rupiah.