Panggung Terbuka Ekonomi Indonesia

Heri Susanto - Istimewa
10 Oktober 2018 12:09 WIB Heri Susanto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (9/10/2018). Esai ini karya Heri Susanto, mahasiswa program doktor ilmu ekonomi di Universitas Diponegoro. Alamat e-mail penulis adalah herisusanto303@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Mulai Senin, 8 Agustus 2018, Indonesia menjadi tuan rumah kegiatan annual meeting International Monetary Fund dan World Bank Group (IMF-WBG) yang merupakan kesempatan istimewa.

Siklus pertemuan tahunan rutin digilir dua kali di markas besar IMF di Washington D.C. dan satu kali di negara anggota. Hal ini perlu disikapi dengan bijak. Acara internasional istimewa ini bisa menjadi pemicu lompatan besar perekonomian Indonesia pada masa depan.

Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah IMF-WBG annual meeting 2018 menunjukkan kepercayaan dunia atas reputasi dan stabilitas ekonomi, politik, keamanan, serta kemajuan pembangunan Indonesia yang saat ini telah menjelma menjadi middle-income country.

Indonesia dipandang dunia mampu mengelola berbagai aspek dengan baik sehingga mendapat kesempatan sebagai penyelenggara annual meeting tersebut. Panitia nasional mengklaim acara IMF-WBG ini dihadiri 22 kepala negara, 189 menteri keuangan, 189 gubernur bank sentral, lembaga internasional, CEO industri keuangan, investor, awak media, observer, dan pemangku kepentingan lain.

Perkiraan total delegasi yang akan hadir mencapai 30.000 orang dengan potensi perputaran uang Rp7 triliun. Belum lagi dampak simultan pascaacara annual meeting tersebut. Indonesia dapat dipandang sebagai bagian tujuan investasi yang ramah.

Pertemuan tahunan IMF-WBG 2018 diharapkan menjadi momen strategis membahas isu-isu yang dihadapi negara-negara di Asia. Kesempatan ini dapat dimanfaatkan Indonesia guna menunjukkan perekonomian yang reformed dan resilient.

Apakah Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk kepentingan nasional yang jauh lebih besar? Dari sisi politik, menjadi tuan rumah annual meeting IMF-WBG 2018 adalah kesempatan berharga untuk membayar lunas tingginya kepercayaan dunia internasional dalam bidang keamanan dan stabilitas politik di Indonesia. 

Dalam bidang ekonomi, acara annual meeting IMF-WBG 2018 menjadi panggung terbuka untuk mempromosikan kemajuan dan ketahanan ekonomi Indonesia. Sebagai salah satu negara yang kondisinya terparah saat terdampak krisis moneter pada 1997-1998, Indonesia mampu bangkit dalam tempo kurang dari lima tahun.

Panggung terbuka ini akan menjadi daya tarik luar biasa bagi para investor. Indonesia memilik kelengkapan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang sangat besar. Isu utama yang akan dibahas di antaranya international monetary system, ekonomi digital, pembiayaan infrastruktur bagi negara berkembang, penguatan aspek ekonomi dan keuangan syariat, urbanisasi, human capital, manajemen risiko bencana, dan perubahan iklim.

Hal ini menjadi kesempatan besar bagai Indonesia di sektor ekonomi, risiko bencana, dandampak perubahan iklim. Kita tahu baru saja Lombok dan Palu terkena bencana gempa. Annual meeting ini dapat digunakan pemerintah untuk meminta dukungan dalam mitigasi bencana dan perubahan iklim.

Harapan utama pemerintah Indonesia adalah membangun impresi melalui fokus pada pembangunan sebagai negara berkembang dengan laju pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan negara lain.

Layak Investasi

Indonesia patut berbangga karena telah memperoleh predikat negara layak investasi dari lembaga pemeringkat dunia. Ini menjadi hal penting bagi Indonesia untuk memanfaatkan acara tahunan tersebut demi kemajuan negara dan bangsa.

Ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak ekonomi global masih kuat, meskipun tertekan oleh rencana kenaikan Fed Fund Rate karena ekonomi Amerika Serikat semakin baik dan inflasi semakin tinggi, kebijakan fiskal Amerika Serikat yang ekspansif, dan sejumlah risiko geopolitik termasuk ketidakpastian global mengenai perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.

Stabilitas ekonomi makro merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat. Stabilitas tersebut diwujudkan melalui sinergi antara kebijakan fiskal, kebijakan moneter, penguatan sektor keuangan, dan penguatan sektor riil.

Di sisi kebijakan fiskal, kebijakan diupayakan menjaga ketahanan fiskal yang berkesinambungan serta memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi. Dari sisi kebijakan moneter, kebijakan diupayakan menjaga stabilitas moneter.

Acara annual meeting IMF-WBG 2018 sangat potensial menjadi pendukung yang baik. Dukungan yang baik sangat dibutuhkan untuk mengatasi ketertinggalan dengan memanfaatkan jaringan kerja. Agenda besar ini harus disikapi dan dioptimalkan guna kebaikan bangsa Indonesia.

Dampak ekonomi yang mengikuti acra tersebut di antaranya dengan pengeluaran negara multiyears 2017-2018 senilai Rp855,5 miliar ada perkiraan pemaasukan yang akan diperoleh melebihi pengeluaran biaya penyelenggaraan itu. Kurang lebih panitia memperdiksi perolehan dari pembelanjaan para tamu 130 juta dolar Amerika Serikat.

Hal ini perlu disikapi dengan baik guna mengoptimalkan target penerimaan sektor pariwisata, aktivitas usaha mikro dan kecil lokal, dan pada masa depan adalah terbukanya peluang kerja baru melalui investasi dari para investor yang datang. Acara tersebut memberikan manfaat dalam bentuk pameran investasi dan perdagangan bagi Indonesia.

Mengoptimalkan Dampak Positif

Upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan dampak acara tahunan IMF dan World Bank adalah dengan mengembangkan potensi destinasi wisata; meningkatkan kesadaran wisatawan mancanegara tentang destinasi wisata di Bali; promosi investasi dan perdagangan; membangun jaringan dengan usaha mikro, kecil, dam menengah lokal; dan koordinasi yang erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swasta.

Pariwisata merupakan sektor yang tidak berbeda dengan sektor ekonomi lainnya karena dalam proses perkembangannya juga mempunyai dampak atau pengaruh pada sektor sosial dan ekonomi. Pengaruh yang ditimbulkan tersebut dapat berupa pengaruh positif maupun negatif, khusunya terhadap kehidupan masyarakat setempat.

Untuk mencegah perubahan itu menuju ke arah negatif maka diperlukan suatu perencanaan yang mencakup aspek sosial dan ekonomi yang melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pengembangan pariwisata. Hal ini perlu dilakukan untuk mendukung keberhasilan pengembangan daerah wisata yang bersangkutan.

Proses pembangunan dan pengembangan suatu wilayah dapat ditunjang oleh potensi wisata yang dimiliki. Melalui pendekatan infrastruktur lunak, manfaat annual meeting IMF-WBG bagi daerah lain di luar Bali dan sekitarnya akan terjawab.

Tanpa jalinan sektoral lintas daerah, kecemburuan dalam perolehan benefit senantiasa muncul. Provinsi lain yang secara geografis jauh dari lokasi kegiatan pun punya hak ikut menikmati kue  annual meeting IMF-WBG 2018.

Aktivitas ekowisata sebagai salah satu bagian dari industri pariwisata akan berinteraksi dengan berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat lokal, terutama dari segi ekonomi, sosial budaya, fisik, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan, setidaknya, aktivitas ekowisata ini akan memengaruhi perekonomian dan berbagai fenomena sosial dan budaya setempat.