Harga Premium Batal Naik, Jokowi Diduga Hitung Risiko Politik

BEM UPI mendorong motornya saat melakukan aksi tolak kenaikan harga BBM di depan kantor Pertamina, Bandung, Rabu (4/4 - 2018). (Antara/Raisan Al Farisi)
10 Oktober 2018 22:00 WIB David Eka Issetiabudi Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi) dianggap masih mengkalkulasi risiko politik untuk memutuskan penyesuaian harga Premium. Kenaikan harga Premium menjadi Rp7.000/liter yang seharusnya diterapkan pada Rabu (10/10/2018) pukul 18.00 WIB diputuskan ditunda.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan penyesuaian harga Premium dapat membuat beban Pertamina berkurang. Menurutnya, jika memang harganya menjadi Rp7.000 di Jawa, Madura dan Bali, maka hingga akhir tahun Pertamina dapat menghemat sekitar Rp600 miliar.

“Sekarang harga keekonomian BBM sekitar Rp8.000, jadi kalau naik Rp500 kan lebih baik karena mengurangi beban, ketimbang tidak sama sekali,” katanya, Rabu (10/10/2018).

Komaidi menghitung dalam setahun beban Pertamina dapat terpangkas hingga Rp6 triliun, dengan menaikkan harga Premium Rp500. Dengan berbagai rencana investasi, dan pengelolaan blok terminasi, wajar ketika Pertamina menghitung performa keuangannya. “Kalau tidak ada tambahan suntikan dana, mereka banyak tekanan,” katanya.

Dia menambahkan strategi tidak menyesuaikan harga Pertalite, merupakan cara jitu untuk menggeser konsumen Premium ke Pertalite.

Awalnya, Menteri ESDM Ignasius Jonan menyatakan sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) Premium akan disesuaikan hari ini pukul 18.00 WIB, Rabu (10/10/2018) dan paling cepat tergantung kesiapan pertamina menginformasikan ke 2.500 SPBU seluruh Indonesia.

Hal itu disampaikan Jonan disela-sela lawatan kunjungan kerjanya ke Bali. Sayangnya, tidak lama kemudian, pengumuman tersebut dikoreksi kembali.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerjasama (KLIK) Agung Pribadi mengatakan, sesuai arahan Presiden Jokowi setelah pengumuman penyesuaian harga ke Menteri Jonan, rencana kenaikan harga premium di Jamali menjadi Rp7.000 dan di luar Jamali menjadi Rp6.900, secepatnya pkl 18.00 hari ini ditunda.

"Agar ditunda dan dibahas ulang sambil menunggu kesiapan PT Pertamina," katanya.