Di Forum LDII, Presiden Jokowi Kembali Singgung Isu PKI

Presiden Joko Widodo (kanan) memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila, Jakarta, Senin (1/10/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari
10 Oktober 2018 19:30 WIB Yodie Hardiyan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) 2018 di Pondok Pesantren Minhajur-Rosyidin, Pondok Gede, Jakarta Timur, Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Dalam acara tersebut, seperti acara-acara lain yang pernah dihadirinya, Presiden menyampaikan pidato di hadapan para hadirin yang sebagian merupakan peserta rakernas organisasi masyarakat yang memiliki banyak cabang di Indonesia ini.

Isi pidato Presiden kali ini hampir sama dengan isi pidato yang pernah disampaikannya dalam sejumlah kesempatan seperti mengenai kebesaran negara Indonesia, kerukunan masyarakat di tengah masa pemilu, sampai perkembangan teknologi informasi yang pesat.

Selain topik tersebut, Presiden kembali menyinggung mengenai Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai yang pernah menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia itu telah dinyatakan terlarang sejak paruh kedua dekade 1960-an, namun namanya menjadi isu yang kerap digoreng. 

Presiden Jokowi pernah dan berulang kali menyinggung isu tersebut dalam sejumlah kesempatan. Presiden merasa perlu menyinggung isu itu terlebih karena ada hoaks yang mengaitkannya dengan PKI.

Isu hoaks itu kerap dipakai untuk menjatuhkan nama Jokowi di media sosial, terutama sejak dirinya menjadi calon presiden dalam Pilpres 2014. Isu serupa kembali diembuskan melalui media sosial empat tahun kemudian atau menjelang Pilpres 2019.

Presiden membantah hal tersebut sembari menyebutkan tahun kelahirannya pada 1961 dan membandingkan dengan tahun pembubaran partai berlambang palu-arit tersebut pada 1966. Menurutnya, tidak mungkin seorang balita atau anak kecil berumur 4 tahun menjadi anggota PKI.

Masih dalam pidato yang sama, Presiden Jokowi juga sampai merasa perlu menunjukkan sebuah gambar fotografi berwarna hitam-putih yang menunjukkan Dipa Nusantara Aidit, Ketua Umum PKI, sedang berpidato di hadapan massa.

Presiden mengatakan foto tersebut merupakan foto yang dibuat pada 1955. Dalam foto itu, Presiden mengklarifikasi tuduhan bahwa ada orang yang mirip dirinya yang berdiri di bawah podium DN Aidit tersebut. "Astagfirullah," kata mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu.

Jokowi juga menegaskan bahwa keluarganya bukan PKI. Apabila ada yang tidak percaya, Presiden minta mereka yang tak percaya untuk bertanya kepada lingkungan tempat tinggalnya di Solo, Jawa Tengah. "Tanya saja di situ mengenai orangtua saya," kata Jokowi sambil menyebutkan bahwa di dekat rumahnya terdapat Masjid LDII.

Setelah mengklarifikasi informasi yang disebutnya sebagai hoaks itu, Presiden menyatakan bahwa banyak saudara-saudaranya yang merupakan LDII. Di hadapan para hadirin LDII, Presiden menyatakan bahwa sejumlah saudaranya ikut LDII, sebuah organisasi Islam di Indonesia yang cikal bakalnya dimulai sejak 1972.

Selain soal keikutsertaan para saudaranya di LDII, Presiden menyatakan dirinya selalu ingat dengan LDII. Ketika berkunjung ke berbagai daerah Indonesia, Presiden kerap melihat petunjuk arah yang menginformasikan kantor LDII, misalnya, "50 Meter LDII".

Situasi ini, menurutnya, menunjukkan bahwa LDII berkiprah di mana-mana atau di banyak tempat. Pernyataan-pernyataan Presiden dengan nada memuji mengenai LDII dalam pidatonya itu disambut tepuk tangan oleh para hadirin.

Dalam kesempatan ini, Presiden mempertegas bahwa dirinya dan keluarganya merupakan muslim. Sebagai pengingat, Jokowi pernah diserang dengan isu bahwa dirinya bukan seorang muslim pada 4 tahun lalu atau pada Pilpres 2014.