Menikmati Hoaks Senikmat Minum Kopi

Trimanto B. Ngaderi - Istimewa
09 Oktober 2018 21:26 WIB Trimanto B. Ngaderi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (5/10/2018). Esai ini karya Trimanto B. Ngaderi, pendamping sosial di Kementerian Sosial dan peminat tema-tema sosial dan pendidikan.

Solopos.co,m, SOLO -- Dalam waktu dekat bangsa Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan umum yang mencakup pemilihan presiden dan pemilihan anggota DPR, DPD, dan DPRD kabupaten/kota/provinsi. Kandidat presiden dan wakil presiden yang bersaing meraih dukungan adalah pasangan Joko Widodo- Ma’ruf Amin dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Hanya dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang maju pada pemilihan presiden 2019 membuat bangsa ini terbelah menjadi dua kubu pendukung. Memberikan dukungan kepada salah satu calon presiden sah-sah saja, boleh, bahkan dalam logika berdemokrasi yang sehat memang harus memberikan dukungan.

Tentu saja asalkan dukungan itu diwujudkan dalam ungkapan, ucapan, perilaku,atau tindakan yang wajar dan rasional serta dapat dipertanggungjawabkan. Kalau dukungan itu mengarah pada sikap fanatisme yang berlebihan, puja-puji yang melangit, hingga penilaian yang teramat subjektif, terlebih jika disertai sikap menyerang calon lain, memfitnah, mencari-cari kesalahan, dan berbagai cara untuk menjatuhkan pihak lawan tentu menjadi tidak sehat dan kontraproduktif terhadap demokrasi.

Faktanya hal demikian ini terjadi sejak beberapa waktu lalu, terutama di media sosial. Unggahan bertema seputar calon presiden membanjiri media sosial setiap hari. Masing-masing kubu memuji, menilai, mengagungkan, mendewakan calon presiden yang mereka dukung.

Hawa Panas

Bersamaan dengan itu mereka juga mencaci, memaki, menjelekkan, merendahkan, menjatuhkan, bahkan memfitnah calon presiden yang lain. Mereka beradu argumen, perang opini, pamer data dan sumber rujukan, pamer prestasi, dan lain-lain. Hawa panas benar-benar menyelimuti media sosial kita.

Fenomena baru lainnya adalah munculnya akun-akun baru di media sosial yang tidak jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kontennya. Akun-akun dengan foto profil palsu, deskripsi akun yang tidak jelas, serta konten yang mayoritas kontraproduktif bagi demokrasi dan tak sejalan dengan nilai-nilai sosial kebangsaan kita.

Unggahan-unggahan di akun media sosial semacam ini cenderung negatif dan bernada ujaran kebencian. Beropini  tanpa argumen yang kuat. Bicara tanpa data yang lengkap dan jelas. Beredar pula tulisan-tulisan dari sumber anonim, sekadar salin dan tempel. Fenomena lebih mengkhawatirkan terjadi di jaringan fasilitas perpesanan Whatsapp.

Beragam hoaks (konten bohong) amat mudah beredar di jaringan media yang satu ini. Setiap saat kita bisa menerima hoaks baik di ruang grup maupun lewat jaringan pribadi. Hoaks bisa berupa tulisan seperti opini, esai, artikel, maupun berita. Hoaks juga bisa dalam bentuk gambar atau video. Tulisan biasanya tanpa disertai nama penulis (anonim) atau jika disertai nama penulis biasanya nama penulis itu terasa asing atau belum pernah kita kenal.

Anehnya, sebagian besar dari kita percaya begitu saja terhadap semua hoaks yang beredar tadi, tanpa mengecek atau memverifikasi terlebih dahulu. Parahnya lagi, tanpa berpikir panjang, sebagian di antara kita segera menyebarkan ulang hoaks tersebut ke berbagai tujuan sebanyak mungkin, apalagi pada bagian akhir konten ada kata “Sebarkan!”

Siklus yang terjadi adalah sebagian di antara kita menikmati hoaks senikmat meminum kopi, lalu menyebarkan ulang, menikmati hoaks lagi, dan kemudian menyebarkan lagi. Menikmati dan menyebarkan hoaks akhirnya menjadi aktivitas keseharian, bahkan menjadi gaya hidup.

Sebagian di antara kita menikmati aktivitas demikian itu, benar-benar menikmati. Lebih dari itu, sebagian di antara kita merasa bangga dan puas karena merasa telah menyebarkan kebenaran, melakukan perjuangan, menegakkan keadilan, dan melawan kezaliman.

Anehnya lagi, penikmatan dan penyebaran hoaks tidak hanya dilakukan orang awam atau orang yang berpendidikan rendah. Penyebaran berita bohong dilakukan pula oleh kaum intelektual, orang terdidik, maupun agamawan. Bagi orang awam, ketika yang menyebarkan berita itu adalah orang terdidik atau dari kalangan pemimpin agama membuat mereka meyakini dengan sepenuh jiwa bahwa berita itu benar adanya.

Budaya Literasi

Munculnya hoaks dan kenikmatan menyebarkan hoaks salah satunya disebabkan oleh minimnya budaya literasi di kalangan masyarakat Indonesia. Sampai kini Indonesia masih menempati posisi terendah dalam hal budaya membaca (buku). Rendahnya minat membaca masyarakat negeri ini tidak hanya terjadi pada golongan awam atau rakyat jelata, tetapi juga menimpa golongan terpelajar dan kaum akademisi.

Dengan membaca buku sejatinya orang akan mendapatkan pengetahuan yang benar, wawasan yang memperkaya pengetahuan, dan ilmu yang mencerahkan. Orang yang suka membaca buku akan memiliki kemampuan analisis, kekayaan argumentasi, daya kritis yang kuat, dan kemampuan membangun perbandingan.

Orang yang malas membaca hanya akan mendapatkan informasi dari smartphone, terutama dari media sosial, yang kontennya belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Orang yang hanya mengonsumsi informasi dari media sosial biasanya malas berpikir secara mendalam, malas mengecek data dan informasi, serta enggan melakukan verifikasi.

Menurut pengamat media sosial Nukman Luthfie, pada era masyarakat sulit membendakan mana informasi yang benar dan mana informasi yang salah, hal terpenting adalah meningkatkan literasi media dan literasi media sosial. Ketika bangsa Indonesia masih bertradisi lisan, belum memiliki tradisi membaca dan menulis, tiba-tiba hadir teknologi smartphone, Internet, dan terutama media sosial yang memiliki fitur dan kemampuan canggih.

Hal ini menyebabkan bangsa kita langsung meloncat dari tradisi lisan menuju konsumen teknologi komunikasi dan informasi. Dengan demikian, sejatinya kita belum siap menghadapi ekses negatif dari smartphone, seperti pornografi, bullying, terorisme atau radikalisme ekstrem, hoaks, dan lain-lainnya.

Dasarnya malas membaca, ketika smartphone hadir langsung membuat sebagian warga bangsa ini semakin malas. Mereka kemudian memiliki budaya salin dan tempel dalam banyak hal.  Mereka menjadi malas berpikir, malas mencari, dan malas membaca.

Salin dan Tempel

Ketika akan mengerjakan pekerjaan rumah, tugas kuliah, skripsi, atau tugas pekerjaan, sering sekadar salin dan tempel. Dari kebiasaan menyalin dan menempel inilah biasanya menghasilkan budaya buruk berikutnya, yaitu plagiat.  

Pemilihan presiden—dan pemilihan umum dalam kerangka besarnya--merupakan momentum penting yang akan menentukan masa depan bangsa kita. Marilah kita kawal bersama agar pemilihan presiden dapat berlangsung dengan baik dan damai.

Mari kita beropini, membuat berita, atau berkomentar yang positif, bersifat membangun, dan mengajak kepada tindakan terpuji. Mari kita menghindari kebiasaan menyebarkan berita bohong karena hanya akan merusak bangsa ini, memecah-belah persatuan, dan memicu konflik sosial.

Masyarakat negeri ini harus lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial. Pastikan terlebih dahulu akurasi konten yang akan dibagikan, klarifikasilah dulu kebenarannya, pastikan manfaatnya, baru kemudian menyebarkannya.