Di Desa Ini, Warga Sekampung Sebar Virus Antihoaks

Tim juri menilai murah di Gatak, Sukoharjo yang merupakan peserta lomba kompetisi antarkampung. (Solopos/Panitia HUT Solopos)
09 Oktober 2018 22:23 WIB R Bony Eko Wicaksono Nasional Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Belakangan hoaks ramai diperbincangkan setelah kasus kebohongan “dipukuli orang” oleh seniman sekaligus tokoh politik Ratna Sarumpaet. Kasus ini menjadi refleksi pentingnya cerdas melawan hoaks.

Semangat ini pula yang disebar di kalangan peserta kompetisi hias kampung Indaco Kampung Antihoax. Mereka termotivasi untuk melawan persebaran hoaks. Masyarakat Dusun Gatak, Desa Madegondo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, berkomitmen memerangi hoaks yang berseliweran di media sosial (medsos). Mereka tak ingin terpecah belah dan terkotak-kotak gara-gara pengaruh berita hoaks.

Anggota muda-mudi Dusun Gatak, Murtafiah, mengatakan pemuda setempat termotivasi memerangi berita hoaks dengan mengikuti kompetisi lomba Indaco Kampung Antihoax yang diselenggarakan Solopos bersama produsen cat PT Indaco Dunia Warna.

“Efeknya sekarang tak hanya generasi millennials yang menyaring berita-berita di medsos. Bapak-bapak dan ibu-ibu ikut tertular virus antihoaks. Mereka tak mengonsumsi berita di medsos mentah-mentah,” kata dia saat dihubungi solopos.com, Selasa (9/10/2018).

Menurut dia, lomba hias kampung antihoaks baru kali pertama digelar di wilayah Soloraya. Kegiatan ini sangat efektif mengedukasi masyarakat agar tak menyebarkan berita-berita palsu. Di era digital masyarakat sering menyebarkan berita palsu di medsos hampir setiap hari.

Dia berharap kegiatan ini digelar setiap tahun dengan penambahan kuota peserta. “Teman-teman rela lembur tiap malam saat pembuatan mural. Saya bangga bisa berpartisipasi dalam lomba ini. Semoga ke depan bermunculan kampung-kampung antihoaks lainnya di Soloraya,” kata dia.

Peserta lomba lainnya, Koordinator Tim Dukuh Jangganan, Desa Bangsri, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Rusdiyanto, menyampaikan mural yang diciptakan dalam rangka lomba ini merupakan hasil goresan cat pelajar SMP, SMA/SMK, dan pemuda lain. Mereka menggarap gambar itu setelah pulang sekolah maupun kerja pukul 16.00 WIB hingga 00.00 WIB. Proses pengerjaan tiga pekan.

Rusdiyanto mengaku mendapat dukungan warga untuk mengikuti lomba. Sebelum mengikuti lomba ini warga cenderung tak peduli atau luweh dengan informasi yang beredar. "Lomba ini berdampak positif kepada masyarakat. Kami jadi lebih jeli ketika dapat informasi. Kami cek dulu kebenarannya sebelum disebar. Berita hoaks bahaya bagi masyarakat. Jadi harus jeli dan hati-hati."