IMF: Pelemahan Rupiah Jangan Dibesar-Besarkan, Seluruh Dunia Mengalami

Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kiri) mendampingi Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Christine Lagarde (tengah) mengunjungi korban gempa di Desa Guntur Macan, Gunungsari, Lombok Barat, Senin (8/10 - 2018). (Antara / Ahmad Subaidi)
09 Oktober 2018 19:00 WIB Rinaldi Mohammad Azka Nasional Share :

Solopos.com, DENPASAR -– International Monetary Fund (IMF) menilai pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merupakan sesuatu yang tidak perlu dibesar-besarkan. Hal ini mengingat rekan dagang Indonesia tidak hanya AS.

Kepala Ekonom IMF, Maurice Obstfeld, menilai pelemahan rupiah terhadap dolar sebagai sesuatu yang tidak terlalu berpengaruh terhadap Indonesia. Sebab meskipun pelemahan terhadap dolar sudah melebihi 10% sepanjang tahun, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mitra dagangnya sepanjang tahun baru 4%.

“Jadi, jangan dibesar-besarkan depresiasinya, itu yang penting untuk disimpan dalam pikiran,” tuturnya dalam konferensi pers World Economic Outlook (WEO) di Nusa Dua, Bali sebagai bagian dari agenda Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018, Selasa (9/10/2018).

Menurutnya, apabila menggunakan sudut pandang yang sempit, rupiah memang melemah terhadap dolar AS. Namun, saat ditarik secara global, kondisinya memang dolar AS yang menguat terhadap berbagai mata uang.

Penguatan dolar AS sebagai dampak dari penaikan suku bunga The Fed yang menyebabkan terjadinya tren likuiditas dolar AS kembali ke negeri asalnya. Dengan demikian, kejadian ini merupakan tren yang tengah terjadi secara global dan tidak hanya di Indonesia.