Korban Jiwa Gempa Sulteng 2.010 Orang, Pencarian Dihentikan Kamis (11/10/2018)

Kerusakan akibat gempa 7,4 pada skala richter (SR) di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10 - 2018). (Antara / Muhammad Adimaja)
09 Oktober 2018 17:30 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah hingga Selasa (9/10/2018) pukul 13.00 Wita mencapai 2.010 orang. Pencarian korban akan dihentikan pada Kamis (11/10/2018) meskipun masa tanggap darurat kemungkinan akan diperpanjang.

"Semua korban meninggal dunia sudah dimakamkan setelah diidentifikasi, baik secara massal maupun oleh keluarganya," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers penanganan gempa dan tsunami Sulawesi Tengah di Graha BNPB, Jakarta, Selasa.

Sutopo mengatakan korban yang ditemukan kebanyakan meninggal akibat terjangan tsunami, selain karena tertimpa bangunan saat gempa maupun tertimbun lumpur karena likuifaksi. Korban meninggal dunia yang ditemukan di Kota Palu mencapai 1.601 orang, Donggala 171 orang, Sigi 222 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu, Sulawesi Barat satu orang.

Dari seluruh korban meninggal dunia tersebut, 934 orang dimakamkan secara massal dan 1.076 orang dimakamkan oleh keluarganya. "Termasuk satu korban meninggal dunia warga negara Korea Selatan, dimakamkan oleh keluarganya," kata Sutopo.

Sementara itu, korban yang dilaporkan hilang 671 orang. Korban luka-luka yang dirawat 10.679 orang dengan perincian 2.549 orang luka berat dan 8.130 orang luka ringan. "Pengungsi berjumlah 82.775 jiwa. Sebanyak 74.044 jiwa mengungsi di 112 titik di wilayah Sulawesi Tengah, sedangkan 8.731 jiwa di luar Sulawesi Tengah," katanya.

Sutopo mengatakan masa tanggap darurat bencana di Sulawesi Tengah kemungkinan akan diperpanjang. "Masa tanggap darurat bencana akan dibahas Rabu [10/10/2018] apakah diperpanjang atau tidak. Namun, melihat medan yang ada, kemungkinan akan diperpanjang 14 hari," kata Sutopo.

Khusus untuk pencarian dan pertolongan korban, Sutopo mengatakan akan dihentikan pada Kamis (11/10/2018). Hal itu sesuai dengan prosedur standar operasional pencarian dan pertolongan yang dilakukan selama tujuh hari dengan masa tambahan tiga hari.

"Hingga Kamis, pencarian dan pertolongan korban sudah dilakukan selama 14 hari," katanya menjelaskan.

Berdasarkan rapat koordinasi yang dipimpin Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola terkait evakuasi korban tertimbun di Balaroa, Petobo, dan Jono Oge, pencarian dan pertolongan korban dinilai sudah tidak memungkinkan.

Dari korban terakhir yang telah dievakuasi, kondisinya sudah melepuh, tidak dikenali dan harus segera dimakamkan karena jenazahnya kemungkinan membawa kuman yang bisa menyebarkan penyakit.

"Karena itu, pencarian dan pertolongan korban akan dihentikan pada Kamis, tetapi masa tanggap darurat untuk melayani kebutuhan pengungsi kemungkinan akan diperpanjang 14 hari," kata Sutopo.

Sumber : Antara