Rupiah Tembus Rp15.235/US$, Harusnya Harga BBM Naik

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat Rp15.043 pada 2 Oktober 2018. - Bisnis/Radityo Eko
09 Oktober 2018 05:30 WIB Mutiara Nabila Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah ditutup melemah menembus Rp15.200-an per dolar AS karena tertekan sentimen yang menguatkan dolar AS , data ketenagakerjaan AS yang positif, dan China yang menurunkan cadangan rasio.

Pada perdagangan Senin (8/10), rupiah ditutup melemah 52 poin atau 0,34% menjadi Rp15.235 per dolar AS dan membukukan pelemahan hingga 11,02% di hadapan dolar AS secara year-to-date (ytd). Adapun, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan enam mata uang utama, menguat hingga 0,28% menjadi 95,90.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa terdapat tiga hal yang membuat indeks dolar AS terangkat, yaitu dari Italia, China, dan data ekonomi AS sendiri.

“Dari Italia, saat ini belum ada keputusan pasti untuk penambahan anggaran, hal itu diperkirakan tidak dapat diwujudkan oleh pemerintahnya karena italia merupakan kreditur terbesar di Uni Eropa sehingga utang pemerintah Italia akan dturunkan, itu yang menjadi kekhawatiran pasar,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (8/10/2018).

Selanjutnya, ada sentimen dari China yang pada Sabtu (6/10/2018) lalu menurunkan cadangan rasionya hingga 10 basis poin atau 1%.

“Dengan itu, menjadi tanda bahwa China melakukan pelonggaran pada kebijakan moneternya, hal itu membuat mata uang yuan melemah dan investor makin tertarik untuk mengumpulkan dolar AS untuk hedging,” lanjutnya.

Selain itu, data perekonomian AS yang positif meskipun tidak sesuai ekspektasi pasar secara keseluruhan. Data tersebut masih cukup kuat untuk mendorong dolar AS terus menjulang.

Dari domestik sendiri, kenaikan harga minyak mentah dunia sebagai komoditas terbanyak yang diimpor oleh Indonesia menjadi tekanan terbesar bagi rupiah saat ini. Dengan harga minyak mentah yang menjulang tinggi, Ibrahim menilai seharusnya pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Namun, hal itu tidak dilakukan karena sedang dalam tahun politik, karena bisa menjadi bahan untuk menyerang dari partai oposisi. Seharusnya, pada saat minyak mentah naik, pemerintah menaikkan harga BBM juga, karena pemerintah tidak melakukan hal itu, bisa menyebabkan neraca perdagangan defisit, sehingga rupiah kembali melemah,” paparnya.

Menurut Ibrahim, pemerintah sudah melakukan intervensi yang cukup banyak untuk menopang rupiah. Tetapi kenyataannya sentimen negatif dari eksternal tidak mampu membuat intervensi yang dilakukan pemerintah berdampak signifikan mempertahankan kurs rupiah.

“BI [Bank Indonesia] kalau melakukan intervensi tidak berdampak terlalu besar, dari menaikkan suku bunga, menawarkan NDF[Non-Deliverable Forward], kebijakan minyak kelapa sawit B20, sampai pajak bahan impor. Akan tetapi, saat ini dari internal masih kalah untuk menghalau kekacauan dari eksternal.”

Ibrahim memproyeksikan rupiah bisa bergerak pada kisaran antara Rp15.175 – Rp15.300 per dolar AS dalam jangka pendek, ada pula potensi penguatan pada Rabu (10/10/2018) atau Kamis (11/10/2018) setelah data ekspor impor China dirilis.

Adapun, untuk membantu menguatkan rupiah, masyarakat bisa membantu dengan cara menjual dolar AS-nya dan ditukarkan ke rupiah. Kemudian, bagi pemilik home industry yang sudah bisa ekspor, bisa ditingkatkan karena dengan rupiah yang mengalami pelemahan seharusnya jadi lebih diuntungkan.

Sumber : Bisnis/JIBI