M'aruf Amin Tak Dongkrak Elektabilitas Jokowi

Tren elektabilitas Jokowi vs Prabowo berdasarkan 6 hasil survei SMRC. (Bisnis/Sutarno)
07 Oktober 2018 22:40 WIB Sutarno Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Hasil survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) menyebutkan eksistensi calon wakil presiden Ma'maruf belum mampu mengangkat elektabilitas Joko Widodo (Jokowi). Begitu pula dengan keberdaan Sandiaga Uno yang belum mampu mendongkrak  elektabilitas Prabowo Subianto.

Survei SMRC tersebut dilakukan September 2018 terhadap 1.074 responden. Responden disodori pertanyaan jika pemilihan presiden digelar sekarang siapa yang akan mereka pilih.

Untuk mengontrol pilihan responden, survei menyodorkan pilihan berbeda, yaitu Jokowi vs Prabowo dan Jokowi-Ma'ruf Amin vs Prabowo-Sandiaga Uno.

Hasilnya, elektabilitas untuk kedua pilihan itu hampir sama. Untuk pertanyaannya memilih Jokowi atau Prabowo, sebanyak 60,2% responden memilih Jokowi dan 28,7 reponden memilih Prabowo.

Ketika pilihannya adalah berupa paket pasangan antara Jokowi-Ma'ruf Amin vs Prabowo-Sandiaga Uno, hasilnya adalah Jokowi-Ma'ruf Amin meraih angka 60,4% dan Prabowo-Sandiaga Uno 29,8%.

Perolehan angka Jokowi-Ma'ruf Amin naik 0,2 poin dibandingkan dengan nama Jokowi yang berdiri sendiri.

Sementara itu, perolehan suara Prabowo-Sandiaga Uno naik 1,1 poin dibandingkan dengan pilihan nama tunggal Prabowo.

Namun, bagi SMRC kenaikan angka itu belum dianggap signifikan sebagai pendongkrak elektabilitas.

"Survei September 2018 juga menunjukan bahwa calon Wapres tidak punya efek berarti terhadap pasangan. Baik dengan pasangan atau tidak,

pilihan pada Jokowi dan Prabowo kurang lebih sama," tulis laporan SMRC bertajuk Tren Elektabilitas Capres, Pengalaman Menjelang Hari-H, yang disebarkan kepada media hari ini Minggu (7/10/2018) tersebut.

Menurut SMRC, elektabilitas Jokowi sempat turun pada survei Mei 2018 terkait perstiwa Mako Brimob, dan bom di Surabaya.

"Ada kecemasan yang luas dengan kondisi kemanan waktu itu. Namun kecemasan itu nampaknya sudah banyak berkurang 3 bulan berikutnya (September),sehingga dukungan pada Jokowi kembali naik," tulis laporan itu.

Sumber : Bisnis Indonesia