Saudi Jual Perusahaan Minyak Raksasa Aramco US$2 Triliun

Pangeran Mohammed bin Salman (Reuters/Saudi Royal Court)
06 Oktober 2018 12:00 WIB Newswire Internasional Share :

Solopos.com, SOLO – Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman, akan melanjutkan rencana penawaran saham (initial public offering/IPO) perusahaan minyak raksasa Aramco kepada investor umum yang sempat tertunda.

Dia menjanjikan penawaran umum perdana pada 2021 dan tetap berpegang pada pandangan ambisiusnya bahwa perusahaan yang dijalankan oleh negara tersebut bernilai lebih US$2 triliun setara Rp30.305 triliun.

Menurut laporan dari Kantor Berita Internasional Islam (IINA) sebagaimana dikutip Antara, Sabtu (6/10/2018), sikap tersebut menunjukkan tekad Pangeran Mohammed yang berusia 33 tahun tersebut melanjutkan proses IPO bahkan setelah rencana Riyadh itu dibatalkan oleh skeptisisme atas penilaian perusahaan dan rencana Aramco untuk membeli saham pengendali di produsen kimia terbesar Saudi.

"Saya yakin pada akhir 2020, atau awal 2021," katanya saat membahas IPO dalam sebuah wawancara di istana kerajaan di Riyadh. "Investor akan memutuskan harga pada hari itu. Saya percaya harganya akan di atas 2 triliun dolar AS. Karena itu akan sangat besar," kata pangeran.

Proyek IPO kali pertama diumumkan pada tahun 2016 sebagai landasan dari rencana Visi Arab Saudi 2030 guna memodernisasi ekonomi Saudi.

Para pejabat Saudi berulang kali mengatakan perjanjian itu "berjalan sesuai jadwal, tepat waktu" untuk paruh ke dua tahun 2018. Namun, pada awal tahun ini mereka mengatakan rencana itu akan ditunda hingga tahun 2019.

Segera setelah itu, Aramco menunda IPO dan memulai pembicaraan untuk membeli mayoritas saham di raksasa petrokimia lokal, Sabic dengan potensi kesepakatan senilai 70 miliar dolar AS.

Berbicara pada Rabu malam (3/10/2018), dikelilingi oleh beberapa penasihat, Pangeran Mohammad mengatakan IPO "100 persen" untuk kepentingan bangsa.

"Semua orang mendengar tentang desas-desus Arab Saudi membatalkan IPO Aramco, dan bahwa hal ini menunda Visi 2030. Ini tidak benar," katanya.

Pangeran Mohammad mengatakan penundaan IPO berawal pada pertengahan 2017 ketika waktu itu ada kejelasan bahwa Aramco membutuhkan dorongan ke dalam industri petrokimia.

Dia mengatakan akan menjadi tidak adil untuk melanjutkan IPO jika hal tersebut hanya untuk mengejutkan para investor setelah dengan ada kesepatan besar dalam industri bahan kimia.

IPO Aramco akan menjadi peristiwa yang mengguncang pasar keuangan. Pangeran Mohammad berharap untuk menaikkan rekor US$100 miliar dengan menjual lima persen saham. Jika rencana ini tercapai, maka rekor penjualan saham Aramco akan mengalahkan rekor sebelumnya yang dicatat pada tahun 2014 oleh Alibaba Group Holding Ltd dari China yang mengumpulkan US$25 miliar.

Bagi Wall Street, hal semacam itu berarti mencetak uang, dengan bank-bank dari JP Morgan Chase & Co. ke Citigroup Inc. Yang sudah bekerja untuk Aramco. Namun, di dunia yang bergerak menjauh dari minyak, IPO akan menjadi ujian global bagi investor bahan bakar fosil.

Pernyataan terbaru tentang kapan IPO akan terjadi memberikan ruang yang cukup untuk bergerak.

Sebelumnya, Menteri Energi Khalid Al-Falih mengatakan pada Agustus bahwa Arab Saudi akan melanjutkan proyek "yang waktunya akan datang sendiri ketika kondisinya optimal".

Sumber : Antara