Kisah Misteri Peserta Ritual Adat Balia Kesurupan Sesaat Sebelum Gempa Palu

Foto udara rumah-rumah warga yang hancur akibat gempa 7,4 skala richter (SR) di Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10 - 2018). (Antara / Hafidz Mubarak A)
06 Oktober 2018 21:50 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, PALU -- Kisah misteri menyelimuti gempa dan tsunami yang mengguncang Palu dan Donggala. Ternyata, bersamaan saat terjadi Gempa Palu digelar upacara adat yang sudah lama tak dilakukan. Sesaat sebelum gempa beberapa peserta upacara adat itu kesurupan.

Musibah gempa bumi dan tsunami yang melanda Kota Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya di Sulawesi Tengah meninggalkan banyak cerita. Khususnya bagi setiap orang yang menjadi saksi ganasnya guncangan lindu dan terjangan air bah tsunami.

Dikutip Suara.com, satu cerita soal peristiwa nahas itu bahkan dikait-kaitkan dengan hal-hal berbau mistis. Salah satunya terkait perayaan festival kebudayaan Pesona Palu Namoni.

Reporter Suara.com Muhammad Yasir datang ke Palu dan menemui Mudar, 49, salah seorang warga Lere, Palu Barat, Sulawesi Tengah. Mudar bercerita Palu Namoni merupakan upacara adat khas suku Kaili. Suku Kaili, kata Mudar, sebagian besar merupakan orang asli Sulawesi Tengah yang tersebar di Donggala dan Palu.

Sejatinya, upacara Palu Namoni yang digelar di Pantai Talise pada Jumat (28/9/2018) atau tepat dengan peristiwa gempa terjadi sudah lama tidak pernah digelar. Palu Namoni baru dihidupkan kembali setelah pemerintahan Kota Palu dipimpin oleh Wali Kota Hidayat dan Wakil Wali Kota Sigit Purnomo Said atau Pasha Ungu.

Ritual Balia

Warga pun berdatangan ke pantai Talise saat festival Palu Namoni. Sebagian besar warga ingin menyaksikan ritual Balia yang memang sudah lama hilang. Balia dahulunya digunakan untuk mengobati orang sakit menggunakan mantra dan dilakukan oleh seorang ahli.

Menurut Mudar sesaat sebelum acara Festival Palu Namoni berlangsung, ia merasakan ada pertanda buruk. Ia menyebut itu sebagai teguran, yang mana sesaat sebelum Palu Namoni itu digelar ada beberapa orang yang kerasukan roh halus.

"Mungkin sekarang wali kota mau bikin lagi (Palu Namoni), tapi kata-katanya, informasinya sudah ada tegur-teguran, begitu ada orang kerasukan roh juga, sebelum acara," kata Mudar saat ditemui di Pantai Mamboro, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10/2018).

Mudar mengungkapkan, setidaknya telah terjadi tiga kali hal janggal ketika upacara adat Palu Namoni kembali digelar semasa pemerintahan Wali Kota Palu Hidayat sejak 2016 lalu.

Menurut Mudar, dari tiga kali perhelatan Festival Palu Namoni, selalu memgundang kejadian alam yang dinilainya tak wajar. Salah satunya adalah gempa dan tsunami yang terjadi disaat pembukaan Palu Namoni di Pantai Talise pada Jumat (28/9) lalu.

Mudar pun mengenang kejadian Palu Namoni saat 2016 lalu. Saat itu, ketika malam pembukan Palu Namoni juga sempat terjadi gempa di daerah Bora, Sigi Biromaru, Sulawesi Tengah. Kemudian yang kedua di Pantai Talise pada gelaran Palu Namoni tahun 2017, sempat ada angin kencang datang.

Kali ini lebih mengerikan, tepat saat pembukaan Palu Namoni pada 28 September 2018 lalu di Pantai Talise terjadi gempa dan tsunami dahsyat hingga menyebabkan ribuan orang meninggal dunia.

"Baru diadakan, sudah tiga kali sebelumnya kalau tidak salah, tahun pertama 2016 gempa di Bora, malam pembukaan juga. Tahun kedua, hujan deras pas mau buka acaranya di Talise juga. Dan yang ketiga itu tsunami September di Talise," Mudar menuturkan.

Palu Namoni

Senada dengan Mudar, Iki,  24, juga mengutarakan hal yang serupa. Iki saat kejadian kebetulan sedang bekerja di Kafe Palu Smart City tak jauh dari Pantai Talise.

Iki berhasil menyelamatkan diri ke Masjid Agung Darussalam. Sementara air yang menghempas dari Pantai Talise hanya sampai di dekat makam Dato Karamah.

Terkait acara Palu Namoni, Iki mengungkapkan sebagian masyarakat di Kota Palu mempercayai gempa dan tsunami September lalu ada kaitannya dengan perhelatan Palu Namoni.

Meski meyakini bahwa gempa dan tsunami yang terjadi sebagai musibah. Namun Iki dan sebagian warga Kota Palu lainnya merasa ada yang janggal setiap digelar acara Palu Namoni.

"Orang orang juga pada bilang gara-gara itu (Palu Namoni). Saya sendiri meski yakin ini musibah tapi sedikit percaya juga sepertinya gara-gara Namoni itu," ujar Iki.

Sumber : Suara.com