Mengerikan, Video Satelit Likuifaksi Saat Gempa Palu

Kerusakan akibat gempa 7,4 pada skala richter (SR) di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10 - 2018). (Antara / Muhammad Adimaja)
06 Oktober 2018 19:22 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Proses likuifaksi telah menelan beberapa lokasi di Palu seiring gempa berkekuatan 7,4 skala Richter yang mengguncang kota itu pada Jumat (28/9/2018). Fenomena akibat gempa bermagnitudo besar itu membuat tanah bergerak, ambles, dan membuat bangunan-bangunan di atasnya terbenam dalam lumpur.

Fenomena mengerikan itu terlihat dalam citra satelit yang merekam pergerakan tanah itu. Melalui citra satelit WorldView, proses likuifaksi di Palu terlihat seperti aliran lumpur yang bergerak dari timur ke barat. Video itu diunggah di akun Twitter Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Penanggulanan Bencana Nasional (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.

"Proses likuifaksi tanah di Kota Palu hasil rekaman citra Satelit WorldView resolusi pixel 0.5 meter. Rumah dan bangunan terseret oleh lumpur yang muncul akibat gempa dan menenggelamkannya. Tim SAR terus bekerja melakukan evakuasi di daerah ini. Korban terus ditemukan," tulis Sutopo menyertai unggahan video itu, Sabtu (6/10/2018).

Identifikasi fenomena pascagempa Palu, Donggala, dan Sigi, ini kali pertama juga diungkapkan oleh Sutopo Purwo Nugroho. Hal itu menanggapi video viral pergerakan tanah yang menyebabkan bangunan berjalan dan hancur. Video itu berasal dari Kabupaten Sigi.

"Munculnya lumpur dari permukaan tanah yang menyebabkan amblasnya bangunan dan pohon di Kabupaten Sigi dekat perbatasan Palu akibat gempa 7,4 SR adalah fenomena likuifaksi [liquefaction] Likuifaksi adalah tanah berubah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatan," kicau Sutopo di akun Twitter @Sutopo_PN, Minggu (30/9/2018).

Apakah likuifaksi itu? Dilansir Wikipedia, likuifaksi tanah (soil liquefaction) adalah suatu fenomena perilaku tanah yang jenuh atau sebagian jenuh yang kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan. Tegangan ini biasanya berasal dari gempa bumi yang menggetarkan tanah atau perubahan lain yang secara tiba-tiba dalam kondisi menegang. Akibatnya, tanah tersebut menjadi seperti cairan atau air berat.