Pakar: Harusnya Fadli Zon Dorong Ratna Sarumpaet Lapor Polisi, Bukan Berkomentar

Foto Ratna Sarumpaet yang diunggah Fadli Zon. (fadlizon)
05 Oktober 2018 22:30 WIB John Andhi Oktaveri Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Munculnya kegaduhan publik akibat fenomena berita bohong (hoaks) tidak telepas dari perilaku pejabat negara yang tidak cermat dalam memverifikasi data sebuah laporan sebelum disampaikan ke masyarakat. Hal ini terkait kasus cerita bohong tentang penganiayaan yang dibuat Ratna Sarumpaet.

Demikian dikemukakan oleh pengamat psikologi politik Hamdi Muluk dari Universitas Indonesia (UI) dalam diskusi bertajuk Ancaman Hoaks terhadap NKRI di Gedung DPR, Jumat (5/10/2018). Turut jadi narasumber pada acara diskusi itu Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon dan anggota DPR Komarudin Watubun dari Fraksi PDIP.

Menurut Hamdi, selain harus melakukan verifikasi, seorang pejabat publik harus mencari data pembanding baik dari kalangan aparat hukum maupun media dan lembaga swadaya masyarakat sehingga tidak menjadi narasi publik.

"Pernyataan pejabat negara yang tidak terverifikasi itulah yang menjadi konsumsi publik yang memang secara sosiologis menykai narasi publik. Akibatnya, muncul kegaduhan terutama di media sosial," ujarnya.

“Pejabat publik tidak boleh mengeluarkan pernyataan yang ‘melompat’ tanpa mencari data dan fata untuk dikomentari,” ujarnya merujuk pada sejumlah pernyataan pejabat termasuk Wakil Ketua Fadli Zon dalam kasus kebohongan publik penganiayaan Ratna Sarumpaet yang akhirnya diakui tidak pernah terjadi.

Menurut Hamdi, ketika terjadi kasus seperti itu, respons yang tepat sebagai pejabat publik oleh Fadli Zon seharusnya adalah mendorong Ratna melapor kasus itu ke kepolisian, bukan berkomentar lebih dulu.

Sementara itu, Fadli Zon mengakui tidak menyangka apa yang didengarnya dari Ratna Sarumpaet merupakan kebohongan. Pasalnya, dalam beberapa laporan sebelumnya, Ratna menunjukkan integritasnya seperti dalam melaporkan kasus penggusuran tanah.

Dia pun mengakui telah mengenal Ratna Sarumpaet sebagai pemain teater sejak masih duduk di bangku SMA. “Saya juga korban hoaks dalam hal ini,” ujarnya dalam diskusi tersebut.

Hanya saja Fadli Zon merasa heran ketika aparat kepolisian sangat cepat mendapatkan data soal kasus tersebut. Dalam waktu 24 jam polisi telah berhasil mendapatkan rekaman CCTV dan data-data pendukung lainnya.

Menurutnya, rekor itu berbeda ketika dia melaporkan sejumlah kasus yang tidak mendapatkan respons yang cepat dari aparat kepolisian. Setidaknya ada enam laporan yang pernah dia buat termasuk ancaman pembunuhan atas dirinya lewat Twitter yang tidak ditindaklanjuti kepolisian.

Sumber : Bisnis/JIBI