Save The Children: 600.000 Anak Korban Gempa Palu Harus Sembuh dari Trauma

Tim SAR menyelamatkan warga yang tertimbun reruntuhan di Perumnas Bala Roa, Palu, Minggu (30/9 - 2018). (Antara/Darwin Fatir)
05 Oktober 2018 16:10 WIB Chelin Indra Sushmita Nasional Share :

Solopos.com, PALUGempa berkekuatan 7,4 Skala Richter dan tsunami yang meluluhlantakkan Kota Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018), menyisakan sejuta duka. Bukan hanya menghancurkan bangunan, bencana alam tersebut menyebabkan anak-anak kehilangan keluarga dan orang tua mereka.

Lembaga swadaya masyarakat internasional asal Inggris, Save the Children, mengungkapkan sekitar 600.000 anak korban gempa Palu mengalami trauma. Anak-anak tersebut kini tinggal di pengungsian, bahkan masih ada yang tidur di jalanan dan di sekitar puing-puing bangunan. Bencana dahsyat itu seolah membuat Kota Palu dan beberapa wilayah lain di Sulawesi Tengah seperti kota mati. Semuanya rata dengan tanah dan mayat tergeletak di mana-mana.

"Banyak anak yang syok dan trauma. Mereka sangat ketakutan karena hidup sebatang kara. Sejumlah anak terus menangis mencari kerabat mereka. Kondisi ini jelas menimbulkan trauma seumur hidup," kata penasihat perlindungan anak Save the Children, Zubedy Koteng, seperti dikutip dari laman resminya, Jumat (5/10/2018).

Tim dari Save the Children menambahkan, bencana dahsyat seperti gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, sangat berbahaya bagi kehidupan anak-anak di masa mendatang. Mereka bakal terus mengingat kejadian mengerikan tersebut sepanjang hidup. Oleh sebab itu, perlu penanganan khusus bagi anak-anak korban gempa untuk menyembuhkan trauma.

"Anak-anak membutuhkan tempat berlindung, fasilitas kesehatan, dan pendampingan. Mereka harus disembuhkan dari trauma atas kejadian mengerikan ini," sambung Zubedy Koteng.

Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah mencapai 1.558. Selain itu, 113 orang dinyatakan hilang dan 2.549 lainnya luka-luka. Gempa bumi disertai tsunami tersebut merusak sejumlah bangunan dan menyulitkan akses transportasi sehingga menghambat proses evakuasi.