Ada Propaganda Ala Rusia di Balik Kebohongan Ratna Sarumpaet?

Ratna Sarumpaet memberikan klarifikasi terkait pemberitaan penganiyaan terhadap dirinya di Kediaman Ratna Sarumpaet, Kawasan Bukit Duri, Jakarta, Rabu (3/10 - 2018). (Antara / Galih Pradipta)
05 Oktober 2018 12:20 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA – Kebohongan yang dilakukan aktivis Ratna Sarumpaet terus menjadi pemberitaan. Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional/ TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Arsul Sani, menduga ada motif lain di balik kebohongan tersebut.

Arsul meminta Polri agar menyelidiki kemungkinan adanya penerapan teknik propaganda ala Rusia yang dikenal sebagai "firehose of the falsehood" dalam kasus Ratna Sarumpaet.

"Tidak sebatas hanya telah terpenuhinya unsur-unsur dari pasal pidana yang dipersangkakan," kata Arsul dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Jumat (5/10/2018), sebagaimana dilansir Antara.

Arsul mengatakan teknik propaganda "firehose of the falsehood" berciri khas melakukan kebohongan-kebohongan nyata guna membangun ketakutan publik dengan tujuan mendapatkan keuntungan posisi politik sekaligus menjatuhkan posisi politik lawannya yang dilakukan lebih dari satu kali atau secara terus-menerus.

Menurut Sekretaris Jenderal DPP PPP itu, dugaan adanya penggunaan teknik ini muncul karena kasus pembohongan publik bukan kali pertama kali terjadi. Sebelumnya dikembangkan pemberitaan tentang pembakaran mobil Neno Warisman yang setelah diselidiki ternyata bukan dibakar oleh orang lain, melainkan akibat arus pendek pada kelistrikan mobilnya.

Selain ciri berusaha menimbulkan ketakutan pada publik, tambah Arsul, propaganda ini juga disertai dengan teknik "playing victim" untuk menimbulkan kesan pada publik bahwa pelaku pembohongan adalah korban yang teraniaya oleh satu pihak yang diasosiasikan dengan kelompok penguasa.

Anggota Komisi III DPR RI itu menambahkan bahwa teknik propaganda tersebut merupakan salah satu sumber pengembangan hoaks dan ujaran kebencian.

“Karena itu, jika kita ingin memerangi hoaks dan ujaran kebencian maka penyelidikan untuk membongkar teknik propaganda itu perlu dilakukan," kata Arsul.

Sumber : Antara