#CrazyRichLiterasian, Orang Kaya Raya Peduli Literasi

Fajar S. Pramono - Istimewa
04 Oktober 2018 20:35 WIB Fajar S. Pramono Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (27/9/2018). Esai ini karya Fajar S. Pramono, peminat tema-tema sosial, alumnus Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah fajarsp119@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Akhir pekan kemarin, saya menemani Titik Kartitiani dan Prasto Wardoyo-–dua orang pegiat literasi dari Jawa Timur–-melatih 30-an anak di sebuah desa di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, menulis cerita pendek.

Jauh-jauh mereka datang dari Kediri dan Surabaya ke Desa Tajau Mulia, Kecamatan Batu Ampar itu, semata-mata ingin membangkitkan keberanian dan keyakinan anak-anak berusia sembilan tahun hingga 12 tahun di sana bahwa mereka bisa berkisah melalui tulisan.

Anak-anak itu adalah anak-anak dari keluarga penerima panfaat Program Keluarga Harapan (KPM PKH). Melalui inisiasi dan koordinasi dengan para pendamping program, mereka berdua berangkat mengabdikan diri pada dunia literasi, tanpa berpikir apa yang bisa menjadi benefit bagi pribadi mereka.

Saya menyaksikan betapa tidak gampang menyelenggarakan aktivitas kecil literasi di daerah ”pedalaman” seperti itu, terutama dari segi pembiayaan. Para pendamping itu merelakan sebagian gaji mereka sendiri, mencari tempat pelatihan yang layak namun (sebisa mungkin) tak berbiaya ke sana kemari demi efisiensi, dan mencoba merayu beberapa orang atau lembaga yang mungkin memiliki anggaran untuk membantu kegiatan tersebut.

Di sana saya juga bertemu dengan seorang pemuda lulusan Universitas Lambung Mangkurat yang di luar pekerjaan sebagai konsultan mendedikasikan waktu luangnya untuk laku literasi di area car free day Kota Banjarmasin setiap Minggu pagi.

Ia menjalani laku itu didahului pengalaman diusir secara halus setiap kali menggelar aneka buku untuk dibaca siapa pun yang tertarik secara cuma-cuma, sampai pada akhirnya mendapat simpati dari pemimpin tertinggi pemerintahan kota itu.

Ia juga bercerita betapa dirinya dan kawan-kawan sekomunitas harus rajin mencari donasi buku sampai ke kota-kota di Pulau Jawa, membuka website donasi literasi, karena bagi mereka buku-buku baru adalah kunci. Kunci untuk memastikan keberlanjutan aktivitas dan kesinambungan minat membaca para pengunjung lapak bacaan yang dia buka.

Saya terharu. Bahwa di daerah kecil seperti itu ternyata banyak aktivis literasi yang bekerja dalam diam. Tanpa publikasi besar dan koar-koar yang kadang lebih besar warta dibanding aksi.

Bagi saya, mereka adalah pahlawan-pahlawan literasi. Beridealisme tinggi, rela mengorbankan apa yang dimiliki untuk kemajuan literasi, tanpa berharap sanjungan–apalagi penghargaan–dari siapa pun, termasuk dari pengelola negeri ini.

Bakat Membaca

Wartawan senior dan budayawan Bre Redana menulis dengan sangat baik curahan hatinya ihwal literasi di Harian Kompas edisi Minggu (23/9) lalu. Ia tak percaya hasil riset lembaga manapun, termasuk  UNESCO, yang menyatakan minat membaca kita sangat rendah. Terendah kedua dari 62 negara yang disurvei.

Ia lebih percaya pada kata-kata Yusrizal K.W., sastrawan dari Padang, yang mengatakan,”Sebenarnya Tuhan telah memberkati anak-anak dengan kegemaran membaca.” Menurut dia, anak-anak tidak harus didorong untuk gemar membaca. Sediakan saja buku-buku menarik di hadapan mereka. Mereka akan langsung membuka-buka dan membaca halaman-halaman buku itu.

Khusus untuk hari ini mungkin perlu ditambahkan: singkirkan gadget-gadget penuh aplikasi di hadapan mereka. Harus dimaklumi jika keduanya ada (gadget dan buku), anak-anak akan lebih memilih gadget yang sifatnya lebih interaktif, berteknologi audio sekaligus visual, dan mengandung ”racun” bikin penasaran.

Kalau saat ini ditanya siapa presiden yang akan dia pilih, Bre Redana akan menjawab,”Siapa pun dia, asalkan mampu membangun perpustakaan di setiap sekolahan sekaliber Perpustakaan Alexandria!” Aha. Menarik sekali ungkapan Bre Redana.

Anda tahu seperti apa Perpustakaan Alexandria? Itu adalah perpustakaan di Iskandariah, Mesir, yang pernah menjadi perpustakaan terbesar di dunia. Didirikan pada awal abad ke-3 Sebelum Masehi pada masa pemerintahan Ptolemeus II.

Perpustakaan ini menyimpan sekitar 700.000 naskah berupa gulungan papirus pada masa puncaknya. Papirus adalah sejenis tanaman air yang dikenal sebagai bahan untuk membuat kertas pada saat itu.

Bagaimana minat membaca anak-anak bisa tinggi jika mereka tidak pernah disuguhi bacaan-bacaan menarik di depan mata mereka? Bre Redana mengibaratkan bagaimana seseorang bisa menyukai nasi jika sejak kecil ia hanya mengenal ubi dan tidak pernah melihat seperti apa bentuk nasi itu?

Harga Buku

Menjawab pertanyaan itu, kata kuncinya adalah ketersediaan bahan bacaan. Masalahnya adalah,bahan bacaan yang baik, bertanggung jawab, mendidik, menginspirasi, dan membaikkan pembacanya bukan barang yang mudah didapat.

Harga buku di Indonesia tidak mudah dijangkau oleh kantong rata-rata orang Indonesia. Ketika rata-rata penghasilan orang Indonesia masih sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok, pemenuhan kebutuhan ”rohani” tambahan seperti buku atau bacaan lain tidak menjadi pilihan.

Pada akhirnya mereka memang membaca, tapi membaca informasi yang secara mudah dan murah bisa mereka dapatkan. Apa itu? Informasi tak bertanggung jawab alias hoakas, wacana propaganda yang pengadaannya disokong dana aktor intelektual dengan kepentingan khusus di belakangnya, juga potongan-potongan informasi yang tak valid dan bisa mengubah persepsi pembaca tentang kenyataan yang sebenarnya.

Dunia politik sering memanfaatkan hal ini. Maka hari ini, kita membutuhkan orang-orang berpunya, lembaga-lembaga peduli budaya literasi, untuk menjadi #CrazyRichLiterasian. Orang-orang kaya yang tak peduli harus mengeluarkan duit berapa pun nilainya asalkan itu bisa membuat aktivitas literasi bergerak nyata.

Pengibaratan ekstremnya, jika sekadar membelikan buku sudah bisa memunculkan kebahagiaan bagi anak-anak dan pegiat literasi di daerah pedalaman, #CrazyRichLiterasian akan berseru,”Beli sekalian toko bukunya, kalau perlu penerbitnya, dan pindahkan ke semua daerah pedalaman di Indonesia!”

Jika penulis-penulis profesional masih sering mengeluh soal kecilnya royalti penulisan dan seretnya penghargaan finansial atas hak pikir mereka, para #CrazyRichLiterasian akan berteriak menawarkan,”Kami buka lowongan penulis yang akan kami gaji besar setiap bulan asalkan setiap hari benar-benar mampu menulis naskah yang mencerdaskan.”

Kalau taman bacaan yang jauh jaraknya menjadi kendala pelestarian minat membaca anak-anak di banyak pulau di Indonesia, para #CrazyRichLiterasian segera membangunkan taman-taman bacan yang lengkap dengan area permainan dan infrastruktur digital di setiap kecamatan-kecamatan di ribuan pulau di Nusantara.

Seorang kawan penulis dan pemilik penerbitan buku di Pati, Jawa Tengah, M. Iqbal Dawami, tidak perlu berkhayal di status media sosialnya untuk bisa menulis sepanjang hari empat kali sepekan di dalam gerbong kereta api eksekutif Jakarta-Surabaya yang nyaman dan dia akui melahirkan banyak ide karena akan ada #CrazyRichLiterasian yang membelikan tiket sepanjang ia ingin.

Betapa bahagianya para penggiat literasi itu! Ya, ini jelas masih sebatas impian. Saya tidak menyebut ini khayalan karena khayalan relatif lebih sulit diwujudkan dibanding mimpi. Setinggi-tingginya mimpi masih membumi. Berpijak pada kemungkinan yang jika kendalanya teratasi bisa menjelma menjadi kenyataan.

Mungkinkah ada #CrazyRichLiterasian di muka bumi ini, khususnya di negeri kita yang indah dan gemah ripah loh jinawi ini? Semoga ada.